Catatan Ramadhan (22): Puasa Bintang Empat
Para Ustadz sering mengatakan di mimbar-mimbar bahwa puasa itu mengajarkan kesetaraan antara yang kaya dan yang miskin. Puasa mengharuskan si kaya merasakan lapar dan dahaga. Si kaya,diasumsikan, bisa merasakan apa yang si miskin rasakan tiap hari. Tetapi, mari kita koreksi sedikit pandangan klasik ini. Pertama, kalau bicara soal makan dan lapar, jumlah orang miskin yang lapar mungkin tak lagi banyak. Selain menerima raskin dari pemerintah yang bisa menjamin kelangsungan konsumsi mereka, kita lihat sendiri bahwa saat pembagian 'balsem' dan program-program semisal, mereka yang dikategorikan miskin datang dengan naik sepeda motor, berkalung emas, ber-hp smartphone atau memiliki dua unit HP. "Lapar", mungkin juga bukan pengalaman "orang miskin baru". Kedua, si kaya mungkin lapar, tetapi, ia memperoleh fasilitas yang berbeda dengan si miskin. Sehingga derajat kesetaraan dalam lapar itu mungkin semu saja. Sama seperti tulisan sebelumnya, al-masyaqqah yan...