Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Catatan Ramadhan (22): Puasa Bintang Empat

Gambar
Para Ustadz sering mengatakan di mimbar-mimbar bahwa puasa itu mengajarkan kesetaraan antara yang kaya dan yang miskin. Puasa mengharuskan si kaya merasakan lapar dan dahaga. Si kaya,diasumsikan, bisa merasakan apa yang si miskin rasakan tiap hari. Tetapi, mari kita koreksi sedikit pandangan klasik ini. Pertama, kalau bicara soal makan dan lapar, jumlah orang miskin yang lapar mungkin tak lagi banyak. Selain menerima raskin dari pemerintah yang bisa menjamin kelangsungan konsumsi mereka, kita lihat sendiri bahwa saat pembagian 'balsem' dan program-program semisal, mereka yang dikategorikan miskin datang dengan naik sepeda motor, berkalung emas, ber-hp smartphone atau memiliki dua unit HP. "Lapar", mungkin juga bukan pengalaman "orang miskin baru". Kedua, si kaya mungkin lapar, tetapi, ia memperoleh fasilitas yang berbeda dengan si miskin. Sehingga derajat kesetaraan dalam lapar itu mungkin semu saja. Sama seperti tulisan sebelumnya, al-masyaqqah yan...

Catatan Ramadhan (21): al-Masyaqqah

"Jika kalian sakit atau sedang bepergian, gantilah puasa kalian di hari yang lain." (Al-Baqarah: 258). Apakah saya perlu membatalkan puasa dalam perjalanan saya ke Bogor? ِ Ayat itu hanyalah salah satu dari puluhan ayat dan hadits yang dalam studi Fiqih melahirkan sebuah kaidah populer: al-masyaqqah tajlib al-taysir (bila ada kesulitan dalam menjalankan kewajiban, ambillah gampangnya!). Kalau tidak bisa dilaksanakan sekarang ya besok, kalau tidak bisa besok, ya gantilah dengan sesuatu yang lebih mudah bagimu. Karena sifatnya pilihan, maka agama memberi ruang yang longgar bagi kita untuk memilih. Allah menyukai kedua pilihan itu, innallaha yuhibbu an yu'khadza rukhasahu kama yuhibbu an yu'khadza azimatahu (Allah sama-sama menyukai apakah kalian memakai dispensasi-Nya atau melaksanakan hukum aslinya) Saya sendiri lebih suka untuk tidak membatalkan puasa karena menurut saya al-masyaqqah  itu tidak ada dalam perjalanan jauh saya. Meskipun jarak Jogja-Bogor berk...

Catatan Ramadhan (20): STAF

Saya hanya punya catatan pendek saja malam ini karena saya sedang bertanya dan belum menemukan jawaban yang memuaskan untuk ditulis. Apakah salah kalau saya meragukan bahwa puasa akan memperbaiki derajat 'STAF' kita -- siddiq, tabligh, amanah, fathanah? Dari empat sifat nabi yang seharusnya kita warisi, siddik  (jujur) sudah pergi entah kemana. Karena mulai dari mengerjakan tes ujian sekolah, ujian akhir semester, hingga ujian mencari SIM, kejujuran sering tidak kita pakai lagi. Wasiat Nabi yang bernama jujur tinggal menjadi kenangan. Sementara, tabligh sudah menjadi jamaah yang sibuk ke sana kemari mengetok pintu mengajak shalat ke masjid, atau menjadi komoditas yang over-komersiil di TV. Tabligh, menyampaikan kebenaran dan risalah agama, sekarang sudah bertarif. Konon, tarif muballigh (si juru tabligh ) bisa sampai puluhan juta. Sedangkan amanah sudah jadi partai yang isinya juga bukan orang-orang yang amanah bener. Entah, hanya berapa gelintir dari pemimpin kita yang...

Catatan Ramadhan (19): Nuzulul Quran di Langgar Kami

Gambar
Pak Syam berdiri menunggu pengajian dimulai... Semalam, untuk pertama kalinya dalam sejarah langgar kecil samping rumah, kami 'merayakan' Nuzulul Qur'an. Ah, jangan membayangkan perayaan itu seperti di Istiqlal atau Istana Negara, atau bahkan jangan dibandingkan dengan Masjid di tempat Anda, pembaca. Kami hanya punya langgar kecil, paling juga hanya ada 20 KK yang menjadi 'wilayah' langgar kami. Tetapi, bagi Pak Syamsudi, Mas Giyanto, dan beberapa orang yang dari dua malam sebelumnya sibuk mempersiapkan segalanya, mulai dari menata lampu, pinjam terpal dan tikar, hingga menyiapkan sound-system gedhe seperti mantu , perayaan Nuzulul Qur'an semalam sudah menjadi kebanggaan tersendiri: Langgar kami lebih meriah daripada Masjid Jami' di dukuh kami yang Nuzulul Qurannya sepi-sepi saja (tanpa perayaan dan diisi kulsum, kuliah sepuluh menit, oleh salah satu tokoh lokal). 250 orang di sekitar kampung datang di acara itu. Orang-orang sederhana seperti Pak ...

Catatan Ramadhan (18): Malaikat Wahyu itu ...

Gambar
Soal tes masuk UIN Suka 2013 dalam Bentuk Braille Malaikat Wahyu itu tidak bernama Jibril, karena Jibril hanya datang kepada Nabi. Padahal wahyu harus disebarkan, disampaikan, diperdengarkan kepada siapa saja. Bagi teman-teman saya yang tunanetra, Malaikat Wahyu itu bernama Louis Braille. Bukan nama Arab atau Semit. Tetapi nama Prancis dan ia tidak tinggal di surga. Louis Braille lahir tanggal 4 Januari 1809 dan meninggal di usia yang masih muda (43 tahun). Jadi, kalau sekitar hari-hari ini kita memperingati Nuzul-Qur'an pada tanggal 17 Ramadhan, bagi teman-teman tuna-netra Nuzulul Qur'an mereka bisa ditambah dengan tanggal 4 Januari, untuk memperingati dan mengenang jasa-jasa Louis Braille. Tetapi, apa hubungannya antara Braille dengan Qur'an? Saya kira kita tahu bahwa Braille adalah penemu media yang mengalih-formatkan huruf latin ke dalam kode titik-titik mirip kartu domino itu. Melalui peng-kode-an itulah tunanetra memanfaatkan jari jemari mereka untuk bisa ...

Catatan Ramadhan (17): Terlalu Ramadan

Memasuki hari ke-15 kemarin, jumlah jamaah di masjid-masjid mulai menurun. Klasik. Almarhum Zainuddin MZ pernah mempopulerkan istilah jamaah mengalami 'kemajuan', karena shaf yang semakin maju. Tetapi  mengapa? Saya tidak memiliki jawaban pasti. Tetapi salah satunya adalah apa yang saya ingin sebut  sebagai  'terlalu ramadhan'.  Terlalu Ramadhan adalah keadaan ber-Ramadhan yang berlebih-lebihan. Ini bisa berupa menyambut  Ramadhan secara berlebih-lebihan, puasa berlebih-lebihan, dan beribadah juga berlebih-lebihan. Saking pinginnya kita menjadi muslim dan mukmin yang lebih baik, kita gas pol bahkan sejak sebelum Ramadhan tiba. Karena kita sudah mengeluarkan 'energi saleh' kita secara berlebihan,  maka menjelang separoh putaran kita sudah tidak lagi memiliki 'energi saleh', dan kita kembali menjadi manusia non-Ramadhan, manusia yang tidak lagi berpuasa, tidak ingin salat taraweh, tidak ingin membaca Qur'an, bahkan tidak ingin puasa lagi kecuali ...

Catatan Ramadhan (16): Perempuan Masjid

Apa jadinya kalau masjid-masjid kita tanpa perempuan? Di masjid-masjid sekitar kampung saya, barisan shalat perempuan biasanya lebih banyak daripada laki-laki. Meski mereka selalu terpinggirkan secara 'arsitektur', dengan mengisi ruang belakang atau separuh lebih kecil dari ruang yang disediakan untuk jamaah laki-laki, mereka adalah peserta ibadah yang dominan. Saat mengisi pengajian, di bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan, peserta perempuan juga selalu lebih banyak daripada laki-laki. Di Masjid Margorahayu Grojogan, saya bisa menghitung, jumlah mereka bisa dua 2-3 kali lipat dari jumlah peserta laki-laki. Demikian juga di langgar yang ada di kampung sebelahnya, jumlah laki-laki yang ikut pengajian tak pernah sebanding dengan jumlah perempuan. Kalau bicara soal buka bersama di masjid, kira-kira siapakah yang paling sibuk? Saya masih ingat, dulu, dulu sekali, di Solo, baik saat saya tinggal di Masjid at-Taqwa Grobakan maupun di Langgar Muslimin Sriwedari, ibu-ibulah...

Catatan Ramadhan (15): Khusyu'

Beberapa waktu yang lalu, salah satu jamaah kami menyampaikan kultum taraweh tentang pentingnya khusyu' dalam shalat. "Kalau kita shalat, yang butuh siapa? Kalau kita yang butuh, agar kebutuhan kita dikabulkan, shalat kita sebaiknya cepat atau khusyu'?" Khusyu', menurutnya, adalah shalat yang kita menghayati setiap apa yang kita ucapkan, kata per kata. Kita resapi makna per makna. Dengan begitu, maka shalat kita tidak mungkin cepat. Singkatnya, khusyu' sama dengan pelan. Masalahnya, praktik khusyu' si penceramah tersebut sering mengganggu orang lain saat berjamaah. Demi melafalkan kata per kata, saat jadi makmum ia mengikuti kata per-kata surat al-Fatihah yang dibaca imam. Meski berbisik, bisikan dia sangat kenceng. Dua atau 3 orang di sebelah kiri kanan orang itu pasti masih bisa mendengar. Tidak cukup dengan menirukan imam, ia juga membaca sendiri surat al-Fatihah saat imam membaca ayat-ayat pendek. Kekhusyukan jamaah yang satu ini dibayar dengan ter...

Catatan Ramadhan (14): Menulis Khutbah dan Menulis Ilmiah

KipSemula, judul tulisan saya adalah menulis khutbah vs menulis ilmiah. Karena pakem penulisan keduanya yang berbeda dan karena banyak kolega dosen yang sering tidak bisa membedakan antara keduanya, maka kata 'versus' bisa membantu mengklarifikasi perbedaan mendasar itu. Tetapi, teringat teori non-dikotomis Jasser Auda, saya ambil kata 'dan'. Dua tulisan itu tidak perlu dipertentangkan dilihat dari tujuan akhirnya: memberi manfaat bagi pembaca. Saya berikan contoh sebuah kalimat khutbah: Kalau bangsa Indonesia beriman dan bertaqwa, maka negeri ini akan makmur sentosa. Apakah kalimat itu benar? Di mimbar khutbah, tentu saja benar. Dasarnya? Khatib dengan yakin bisa menyebut Surat. Ayat. Tetapi, secara ilmiah, pernyataan itu sulit dipertanggungjawabkan karena tidak memenuhi syarat pokok ilmiah 'bisa diverifikasi'. Negara mana yang sudah membuktikan? Seberapa valid negara itu untuk bisa menjadi sample atau kasus. Dst! Pernyataan ilmiah juga menuntut kita untuk ...

Catatan Ramadhan (13): Peduli itu Sederhana

Saya suka iklan Ramadhan Bank BRI. Pesannya sederhana tetapi sangat kuat. Karena baru nonton sekali, ada empat  scene yang saya ingat. Tokohnya seorang anak SD, anak orang kaya yang terlihat dari pakaian, fisik, dan rumahnya. Scene 1, lokasinya di sekolah, teman-teman anak itu berlarian sambil membuang sampah sembarangan. Si tokoh, sambil senyum mengambil sampah mereka dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Scene 2, lokasinya masih di sekolah, di sebuah tangga. Teman-teman si tokoh berlarian naik tangga sambil tak sengaja  menyenggol pigura foto di tembok tangga hingga miring. Sekali lagi, sambil senyum si tokoh memperbaiki posisi pigura. Scene 3, lokasinya di rumah, waktunya menjelang Maghrib. Anak itu hendak menutup jendela di kamarnya di lantai dua. Dari posisinya tersebut ia melihat seorang pemulung di luar rumah sedang mengais tong sampah. Mungkin ia  sedang mengambil kotak makan dan berharap ada sesuatu yang ia bisa gunakan untuk berbuka. Scene 4, di ruang ma...

Catatan Ramadhan (12): Ayam Tetangga dan Puasa

Kemarin, sepulang dari kantor, rumput hias di depan rumah saya tampak menguning. Warnanya tak sehijau waktu saya berangkat. Mati dalam sekejap? Tidak, setelah saya lihat lebih dekat, rumput-rumput itu mengering karena mungkin 5-6 jam yang lalu di-'ceker-ceker' ayam tetangga yang cari makan, hingga ' madul-madul ', tercerabut dari akarnya, dan terpanggang terik matahari. Saya nyaris saja marah... Tetapi, untunglah saya ingat dua hal secepat kilat: (1) Saya sedang berpuasa dan (2) Nasehat khatib Jumat di masjid UIN tentang cara mengelola marah. Katanya, kemarahan bisa diredam dengan mengaggap apa yang membuat marah itu sebagai hal sepele. Alhamdulillah, dua kondisi itu bekerjasama dengan baik. Saya batal marah. Bahkan ketika istri saya yang menyusul tahu hal ini mengusulkan agar halaman rumah kami dipagar, saya sudah bisa bilang, "Ndak usah, kamu sendiri kan yang bilang kalau rumah di kampung lebih baik tidak dipagar; rumput itu  toh  hanya rusak, nanti akan tu...

Catatan Ramadhan (11): Puasa yang Etis

Saya mengajar Fiqih dan rasanya agak janggal jika saya harus bicara tentang puasa secara etis. Tetapi, Fiqih mana yang cukup berhenti menjadi Fiqih? Justru, kewajiban Fiqih-lah untuk berlanjut di level berikutnya . Puasa Fiqih adalah puasa di level pondasi, ia berada di bawah, dan yang di bawah perlu dinaikkan hingga menjangkau tujuan tertinggi puasa. Dalam bahasa pesantren dulu, kita sering mendengar soal level  syariat dan haqiqat.  Level syariat adalah level Fiqih. Di level Fiqih, kita penuhi segala syarat dan rukun. Jika terpenuhi, maka yang kita peroleh adalah 'keabsahan' puasa, gugur kewajiban, tidak berdosa. Titik. Level haqiqat adalah level yang lebih tinggi, level maknawi. Puasa tidak lagi diukur dengan sah-batal, tetapi "diterima" dan "ditolak". Tentang dua tingkatan ini Rasulullah berpesan: قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " كم من صائم ليس له من صيامه إلا الظمأ ، وكم من قائم ليس له من قيامه إلا السهر " . رواه الدارمي وذكر حدي...

Menjadi Ustadz

Kita lanjutkan diskusi kita tentang ustadz dan dosen. Meskipun berat, kadang dosen harus menyediakan diri sebagai 'ustadz'. Apalagi dosen Fiqih dan dosen-dosen studi keislaman yang lain. Saya menyebutnya sebagai 'keharusan', bukan pilihan, cita-cita, apalagi ambisi. Ada beberapa keadaan yang mengharuskan kita menjadi ustadz. Pertama , di luar sana kita menyaksikan kebutuhan yang tinggi akan adanya seorang penceramah. "Pasar" ceramah sepertinya tak pernah surut walau harga BBM naik atau inflasi selangit. Jujur saja, saya tidak tahu mengapa orang Indonesia butuh siraman rohani. Hidup yang terlalu sulitkah? Ingin masuk surga kah? Takut masuk neraka? Ingin menjadi orang shaleh? Entahlah. Saya bukan sosiolog. Saya hanya heran saja karena banyaknya ceramah yang disiramkan ke masyarakat toh seperti tak ada efeknya: jalanan kita dihuni orangorang yang tidak berakhlak, birokrasi kita tetap korup, pasar kita dipenuhi makanan haram (karena dicampuri bahan-bahan kimia...

Catatan Ramadhan (9): Saya Bukan Ustadz

Kalau ustadz berarti " tukang ceramah agama di masjid, radio, dan TV ", maka saya tidak ingin jadi "ustadz". Saya mencintai profesai saya sebagai "dosen". Dalam bahasa Arab "dosen" juga disebut "أستاذ", tetapi tidak punya makna "tukang ceramah". Makna أستاذ sama dengan "guru". Saya malah lebih suka profesi 'guru' ini karena dosen sebenarnya adalah nama lain dari guru -- untuk pekerjaan yang sama. Mengapa saya tidak mau menjadi ustadz? Saya merasa tugas menjadi ustadz itu berat, lebih berat daripada dosen. Saya sering bilang ke mahasiswa saya, tugas ustadz itu menyampaikan kebenaran (dan ini berat), sementara tugas dosen menyampaikan "keraguan" (dan ini gampang, tinggal mengajukan pertanyaan kritis yang mengguncang kemapanan nalar). Dengan mengajukan keraguan, saya tidak punya beban kalau ada yang salah dengan pertanyaan saya -- tanya saja masak nggak boleh? apa ada yang tabu untuk ditanyakan? ...

Catatan Ramadhan (8): Agama Sosial

Salah satu karakter universal agama-agama besar di dunia adalah karakternya sebagai gerakan sosial. Meskipun selalui dimulai dari pencerahan personal sang Nabi, langkah berikutnya adalah melakukan perubahan sosial. Dalam konteks ini, Islam juga sama dengan yang lain. Pencerahan di Gua Hira pelan-pelan segera diikuti oleh kritik-kritik sosial yang mengguncang kemapanan Makkah yang korup. Ada banya contoh dalam agama yang bisa kita lihat sebagai kecenderungan sosial dalam agama kita, yaitu kecenderungan untuk menganggap 'jamaah' lebih penting daripada 'individu'. Misalnya, "Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." Masih dalam konteks shalat, apabila ada dua masjid yang sama-sama menyelenggarakan shalat berjamaah, maka yang lebih diutamakan adalah shalat di Masjid yang "lebih jauh jaraknya, dan lebih banyak pesertanya." Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad disebutkan: صلاة الرجل مع الرجل أزكى...

Catatan Ramadhan (7): Pintu-pintu Berkah

Berbicara tentang berkah, saya menemukan sebuah artikel menarik di sini . Menurut penulisnya, ada 16 hal yang bisa menjadi pintu datangnya berkah: Al-Qur'an  Taqwa dan Iman Membaca Basamallah Makan bersama Sahur Zam-zam Minyak Zaitun Lailatul Qadar Idul Fitri dan Idul Adha Makanan yang halal Banyak Bersyukur Shadaqah Berbuat baik dan Silaturrahim Bangun pagi-pagi Menikah Rencana yang matang Saya tidak perlu berkomentar tentang masing-masing poin di atas. Silakan direnungkan sendiri. Saya sendiri akan menambah daftar di atas bila perlu. Anda?

Catatan Ramadhan (6): Ramadhan Bulan Bejo?

Ingat potongan-potongan kalimat ini? "Saya ini beruntung alias bejo . Orang malas kalah sama orang pintar. Orang pintar kalah sama orang bejo ..." (Butet) Atau "Saya jadi pengusaha bukan karena pintar, tapi bejo . Jangan banyak mikir, berusaha saja..." (Bob Sadino). Konsep " bejo " dipakai secara 'cerdas' oleh salah satu produsen obat tolak angin untuk menyerang kompetitornya yang menekankan faktor "pintar". Iklan itu 'cerdas' karena mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini, faktanya, kepintaran tidak menjamin kesuksesan. Banyak orang yang lebih sukses dalam hidupnya dibandingkan mereka yang lebih pintar darinya. Bejo itu beruntung, atau mendapatkan lebih dari yang seharusnya. Dalam bahasa agama, bejo itu sama dengan berkah atau بركة. Menurut kamus Arab, kata tersebut dapat dimaknai sebagai "bertambahnya kebaikan. Kalau tanaman, berlebihnya panen; kalau berdagang, berlebihnya untung; kalau keluarga, lancarnya rizki dan k...

Catatan Ramadhan (5): Partai Islam vs Partai Iman

Citra Partai Islam akhir-akhir ini memburuk akibat prilaku sejumlah politisi dan makelar politik yang berasal dari partai yang menyebut diri sebagai "partai Islam". Kita dibuat kaget, bagaimana mungkin seorang ustadz, dengan pengetahuan agama yang cukup, melakukan korupsi dan 'memakai' jasa perempuan? Apakah label Islam di partai -partai itu tidak bisa menjamin integritas mereka? Saya curiga, justru kata 'Islam'  inilah masalahnya. Dalam perspektif teologi Sunni, ada tiga derajat keagamaan seorang Muslim: Islam, Iman, Ihsan. Islam , meski menjadi nama agama, adalah derajat yang termudah dan terendah. Mungkin karena mudahnya inilah nama 'islam' dipilih, agar semua orang yang telah secara lisan bersyahadat mengakui keesaan Allah dan kerasulan Muhammad dapat disebut 'Muslim'. Dalam konteks ini, tak perlu dibedakan antara Muslim 'beneran' dengan Muslim 'KTP'. Semua orang yang mengaku Muslim, ya Muslim -- apa pun perilakunya...

Catatan Ramadhan (4): Iman

Kita tahu benar bahwa Puasa Ramadhan hanya diperintahkan kepada "orang yang beriman". Mukhatab  (audiens) dalam Surat al-Baqarah sangat jelas: "Hai orang-orang yang beriman". Tetapi, saya sesungguhnya bingung: siapakah orang yang beriman itu? Adakah ayat itu menyapa saya atau tidak? Sejak kecil kita diajari bahwa untuk menjadi orang yang beriman, kita harus percaya kepada enam perkara: (1) Allah, (2) Malaikat, (3) Kitab Suci, (4) Para Nabi, (5) Kiamat, dan (6) Qadla-Qadar. Saya tahu bahwa ini iman versi ahl Sunnah, oleh sebab itu apakah dengan mengaku bahwa kita percaya kepada enam perkara pokok ini, selesai sudah urusan? Tampaknya tidak. Karena iman tak pernah berhenti di pokoknya, iman itu harus segera menyebar ke dahan dan ranting, pohon, dan kebun... basah semua :D Hadits-hadits tentang cabang iman menunjukkan bahwa iman lebih dari sekedar rukun iman yang enam itu! Iman adalah bab yang sesungguhnya lebih rumit dari enam perkara yang disebut sebagai "...

Catatan Ramadhan (3): Kehormatan Puasa

Ramadhan bulan mulia dan terhormat. Ia lebih terhormat daripada inspektur upacara. Jadi, tanpa perlu menggunakan kata perintah "Hormati Ramadhan..... Grak!!!" Ia sudah terhormat. Karena itu, jangan perintahkan orang untuk menghormati Ramadhan, apalagi dengan cara yang galak, dengan cara yang justru tidak terhormat. Kehormatan itu menurut saya sama dengan kasih-sayang yang disebutkan dalam Hadits: عن أبي هريرة، عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: ((مَن لا يَرْحَمْ، لا يُرحَمْ))؛ متفق عليه Barangsiapa yang tidak menyayangi orang lain, tidak akan disayang.  Dalam Hadits lain yang semisal disebutkan:   ((ارحَموا مَن في الأرضِ يَرحَمْكُم مَن في السَّماءِ)) ، وقالَ - علَيه الصَّلاةُ والسَّلامُ -: ((والَّذي نَفسي بيدِه، لا يَضَعُ اللهُ رَحمَتَهُ إلا عَلَى رَحيمٍ))، قالوا: كُلُّنا يَرحَمُ،  قال: لَيسَ بِرَحمة أحَدِكُم صاحِبَهُ، يَرحَمُ النّاسَ كافّة Nabi berkata, "Sayangilah mereka yang di bumi agar kalian disyangi oleh yang di langit." Kemudian beli...

Catatan Ramadhan (2): Puasa yang Kekanak-kanakan

Sewaktu masih kecil dan baru mulai belajar puasa, ibu saya selalu sembunyi-sembunyi kalau beliau makan dan minum di siang hari. Demi memastikan saya tuntaskan puasa hari itu, ibu saya yang sedang haid memilih untuk pura-pura berpuasa. Pura-pura puasa tentu lebih mudah daripada menjelaskan hal rumit keharaman puasa bagi mereka yang haid kepada anak kecil yang bahkan baru bertanya kepada bapaknya, "untuk apa berlapar-lapar puasa..." -- inget Bimbo :) Setelah saya semakin dewasa dan cukup mengerti bab Fiqih tentang siapa yang wajib dan siapa yang haram berpuasa, ibu pun menghentikan kepura-puraannya. Saya bahkan santai ngobrol apa saja sambil menemani beliau makan siang. Mungkin iman saya ya begitu-begitu saja,  tetapi setidaknya saya sudah kuat menahan godaan lapar dan dahaga. Sebagai sesama orang yang 'berakal' dan 'dewasa', sudah tidak ada gunanya lagi menyembunyikan urusan makan minum seperti itu. *** Saya kira, proses beragama yang berkembang '...

Catatan Ramadhan (1): Toleransi

"Kalau puasanya dimulai Selasa, itu baik. Kalau puasanya dimulai Rabu, juga baik. Yang penting kita saling toleransi." Itu nasehat bijak yang sering saya dengar akhir-akhir ini. Tetapi, saya ingin segera memberikan "catatan kaki" untuk nasehat yang baik itu. Sebab, toleransi sering menjadi kata manis yang membungkus banyak persoalan. Pemerintah Orde Baru dulu juga giat menggalakkan toleransi, tetapi begitu kontrol negara lepas, apa yang tampak toleran menjadi kebrutalan. Konflik etnis meladak dimana-mana, konflik antar umat beragama hingga berapi dan berdarah. Karena toleransi yang dikembangkan tidak berangkat dari makna konsep toleransi yang utuh. Pertanyaannnya begini, ketika kita mengatakan bahwa memulai puasa Selasa atau Rabu itu sama baiknya, dasarnya apa? Baik apanya? Bukankah ibadah itu soal sah dan tidak sah? Bukankah bulannya cuma satu? dan seterusnya. Maka, mari kita lihat dimana toleransi kita itu berasal. Pertama: Toleransi bukan Tidak Peduli Toler...