Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2021

Terpaksa Ibrani

Gambar
Kemarin setelah dari bank, saya pergi ke pasar, lagi. Ya, untuk kedua kalinya memang. Sebab, malamnya saya juga sudah ke pasar itu. Sewaktu mengobrol dengan orang Filipina yang bareng vaksinasi di balai kota, ia memberi tahu kami soal pasar rakyat yang murah, segalanya ada. Nah, saya balik lagi ke pasar karena ingin membeli beberapa barang seperti sendok, piring, gelas, dan sepatu bila perlu. Semalam saya hanya lihat-lihat saja, untuk mengenal lokasi. Setelah memperoleh beberapa barang, saya lanjutkan dengan menelusuri jalanan pertokoan di Yerusalem. Saya melirik harga-harga sepatu yang di toko-toko olah raga. Harga yang dipajang, ada yang 150 NIS sampai 400 NIS. Karena saya hanya butuh sepatu ekstra saja yang ringan untuk jalan, saya ingin cari yang murah meriah begitu. Saya berhenti di sebuah toko sepatu sederhana, hanya sebuah kios kecil yang memajang sepatunya di emperan toko.  Saya berhenti melihat-lihat sepatunya. Tidak ada harga tercantum. Ketika saya melihat salah satu sep...

Pasar Tiban di Masjid al-Aqsa

Gambar
Ada sebuah hadits yang menyebutkan bahwa sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruknya tempat adalah pasar.  خير البقاع المساجد وشرها الأسواق Tetapi, di banyak tempat, masjid dan pasar hidup berdampingan.  Pasar Klewer di samping Masjid Agung Solo, misalnya. Keduanya bahkan saling menghidupi karena pedagang bisa salat dan istirahat di masjid. Masjid pun punya tempat parkir untuk pengunjung pasar.  Tempat-tempat yang disucikan dan disakralkan juga menghasilkan pasar. Kalau kita berkunjung ke makam para wali, berapa ribu orang yang menggantungkan hidup dari 'pasar' di sekitar makam? Makam Gus Dur yang tak pernah sepi pengunjung itu, berapa omset ekonominya? Setiap Jumat, pasar tiban juga digelar di sekitar Masjid al-Aqsa. Jalan favorit terdekat dengan apartemen saya, yang ada di sisi tembok timur masjid, juga selalu dipenuhi dengan pedagang dadakan ini. Orang berjualan macam-macam, mulai dari sayur sampai jam tangan, pernak-pernik ibadah sampai alat hiburan.  J...

Mengajarkan Pepatah Arab ke Orang Arab

Gambar
Untuk mencuci pakaian di apartemen kami, seperti di banyak negara maju, kami menggunakan mesin cuci yang terpusat di sebuah ruangan. Ada sekitar 20an mesin cuci dan pengering yang tersedia. Cara bayarnya ada dua: menggunakan aplikasi terkoneksi bluetooth dan membayar dengan Paypal; atau menggunakan koin lewat box seperti box telepon umum tahun 90an. Masukkan koin ke dalam kontak, pencet nomor tujuan, yang dalam hal ini adalah nomor mesin yang kita pakai. Pertama kali menggunakan di sini, saya harus belajar sendiri. Seperti yang saya ceritakan di bab  “Harga Pengalaman”, belajar sendiri itu harus dibayar mahal. Berkali-kali saya bertemu masalah dengan dua sistem pembayaran itu dan saya kehilangan uang dan uang, mulai dari tidak ada kembalian di box pembayaran sampai koneksi internet terputus padahal sudah membayar. Bahkan tadi pagi pun saya masih harus kehilangan uang lagi: saya memasukkan baju ke mesin nomor tiga, yang ternyata mesin itu mati. Saya sudah masukkan koin di kotak, sud...

Mari Bicara Seks Konsensual

Gambar
Salah satu keberatan yang sering kita dengar terkait Permendikbudristek adalah "legalisasi seks bebas". Saya akan coba bantu mendudukkan perkara biar tidak gelut.  Secara tradisional, dari belasan jenis seks di dunia ini, di Indonesia hanya ada dua kategori yang digunakan: seks nikah dan seks non-nikah. Dan seks-nikah adalah satu-satunya yang sah. Di luar itu? Semuanya tidak boleh, termasuk seks bebas atau yang di sini kita sebut "free sex" (besok saya akan tulis khusus soal "seks gratis" ini).  Nah, Permendikbudristek ditolak karena "melegalkan free sex". Koq bisa? Karena jawabannya bersumber dari dua kategori 'tradisional' tadi: hanya ada dua jenis seks: seks nikah dan seks luar nikah. Seks bebas itu pasti di luar nikah dan hukumnya pasti haram. Padahal, Permednikbudristek sama sekali tidak menyebut seks bebas. Permendikbud berasal dari kategori lain yang sudah akrab di kalangan pegiat hak perempuan (sebut saja "feminis"). Dal...

Jabatan itu Gula

Gambar
Tadi saya mengobrol dengan teman yang sedang menjabat tinggi. Ya, tinggi-lah pokoknya. Tidak usah ditebak-tebak siapa karena teman saya banyak yang sudah menjabat, dari Ketua RT sampai presiden. Kenal dengan Pak Jokowi? Tidak kenal, karena bukan presiden RI, tetapi presiden asosiasi Ah. Sudahlah, intinya itu soal jabatan, bukan soal teman saya. Dari obrolan saya simpulkan, jabatan itu seperti gula. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak gulanya. Analogi ini bisa dilihat dari dua sudut pandang. Dari si pejabat dan dari gulanya. Dari si pejabat, kalau ia mendapatkan banyak gula dan mengonsumsinya secara berlebihan maka ia bisa kena diabetes jabatan, korupsi. Pepatah klasiknya, power tends to corrupt. Semakin banyak gulanya, semakin besar potensi korupsinya. Obrolan saya dengan teman pejabat itu, hanya saja, bukan pada aspek powernya, tetapi pada aspek bagaimana tiba-tiba ia dikelilingi semut. “Banyak yang mengaku kenal saya, dekat saya, tetapi ujung-ujungnya ya duit.” Orang-orang yang d...

Tertahan Mudir Madrasah al-Aqsa

Gambar
Jumat lalu, saya sengaja pergi lebih awal agar punya waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi dan menikmati suasana Masjid al-Aqsa. Rencana saya gagal. Kalau Anda menonton video perjalanan kaki saya ke al-Aqsa, Anda akan mendengar saya mengatakan, sebelum masuk masjid, kalau saya tertahan oleh seorang guru madrasah al-Aqsa. Silakan cek di link . Jadi, begitu tiba di pintu gerbang utara Kubah, saya berhenti untuk minum dan menyiapkan kamera. Karena saya menggunakan lensa 50 mm, jarak dari tempat saya minum rupanya masih terlalu dekat dengan kubah. Maka saya mencari sudut pandang yang lebih jauh. Di sebelahnya ada tangga turun ke halaman luas di luar pagar, tetapi masih di dalam tembok kompleks. S aya lihat ada bekas bangunan berupa fondasi dan lantai yang utuh. Tanpa tembok, tanpa atap. Ukurannya sekitar 7x10 meter. Di sisi tenggara, arah kiblat, terdapat tembok dan mihrab. Jadi dugaan saya situs ini adalah bekas Musala.  Hanya ada seorang pria yang sudah menggelar sajadah di salah s...

Harga Sebuah Ide

Gambar
Selama dua minggu di Yerusalem, otak saya benar-benar dilimpahi ide untuk ditulis. Seperti katak di musim hujan, kang kung kang kung, ide itu bersahutan di kepala saya minta ditulis. Nah kadang, pas di jalan atau di tengah rapat, ide itu keluar dan karena satu dan lain hal ada yang mengalihkan, ide itu hilang lagi.  Padahal, menurut saya ketika ide itu muncul, itu ide sangat penting dan wajib dibahas. Tetapi karena saya tidak sempat mencatatnya, tidak bawa catatan, ide itu hilang begitu saja. Menyesal. Tentu sangat menyesal. Ketika musim kemarau ide, kita sampai kesulitan menemukan ide. Pas musim hujan ide, harusnya kita segera menuliskannya.  Sejak beberapa kali saya kehilangan ide yang muncul tiba-tiba itu, saya selalu menyiapkan kolam penampungan ide. Sebuah buku catatan kecil dan pulpen. Maka, sewaktu berangkat ke Israel, satu-satunya bekal buku fisik yang saya bawa adalah buku saku kecil itu.  Dulu, pas awal-awal saya melakukan itu di rumah, istri saya sempat kaget k...