Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2023

Studi Islam, Mazhab Sapen, dan Kampus Inklusif

Gambar
Ketika Mbak Alimatul Qibtiyah pagi itu menelepon untuk meminta tulisan bagi buku ini, saya sempat menyatakan tidak sanggup. Menulis tentang Pak Amin Abdullah , guru kita , adalah sebuah kehormatan ; tetapi karena waktunya hanya tiga hari, saya tak berani mengecewakan beliau. Dengan Mbak Alim, saya masih bisa menolak; tetapi begitu Pak Amin sendiri yang mengambil alih telepon dan menyampaikan dawuh nya, saya tak berdaya lagi untuk menawar. Murid itu tidak punya jawaban kepada permintaan guru selain, “ Nggih pak. Siap!” jawab saya. Pak Amin dan tulisan-tulisannya adalah bagian tak terpisahkan dari siapa saya (dan kita). Jika sosok saya direpresentasikan dalam sebuah gambar yang tersusun dari kepingan-kepingan puzzle , misalnya, pasti ada yang bolong-bolong kalau unsur pengaruh Pak Amin dibuang dari gambar itu. Pak Amin adalah dan selalu menjadi bagian dari saya baik sebagai alumni maupun sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga. Sebagai orang yang beruntung menjadi murid langsungnya di ...

Translating the Qur’an through Tafsīr al-Jalālayn

Gambar
Originally published  on:  https://textualmicrocosms.huji.ac.il/blog-0 Figure 1. Jalālayn manuscript from Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Indonesia. Endangered Archives Programme EAP061-1-105, p.2   Due to the belief that the Qur’an cannot be accurately translated, non-Arab Muslims typically rely on  tafsīr  (Quranic exegesis) to access its content. In contrast to “translation,”  tafsīr  is accepted as a legitimate practice in any language. Hence, it is logical that the initial translation work to emerge in the Indo-Malay languages was not a “translation” but rather a Malay  tafsīr  called  Tarjumān al-Mustafīd . This  tafsīr , authored by the Acehnese scholar Abd al-Rauf as-Sinkili al-Jawi of the 17th century (1105 H/1693 M), is an example. Therefore, if an accurate translation is deemed unattainable, an alternative in the form of a  tafsīr  using a local language can be superior to a word-for-word or verse-by-verse tra...

MQKN 2023: Tak Hanya tentang Baca Kitab!

Gambar
Dari namanya, Musabaqah Qiratul Kutub atau Lomba Baca Buku, orang mungkin akan mengira bahwa ajang ini hanya akan mengadu kemampuan para "olimpian" dalam membaca buku-buku klasik pesantren. Awalnya memang demikian, tetapi untuk penyelenggaraan MQK tingkat nasional di Lamongan kemarin (10-18 Juli 2023), lombanya sudah diperluas.  Bil khusus MQK tahun ini sudah ditambah dengan masuknya lomba debat qanun (sepadan dengan debat konstitusi di perguruan tinggi) dan debat Bahasa Arab/Inggris yang mengangkat tema-tema sosial keislaman kontyemporer.  Catatan berikut adalah catatan khusus yang saya buat untuk debat Bahasa Inggris, yang kebetulan saya alami sendiri dalam posisi sebagai anggota dewan hakim. Mari kita pilah diskusinya dalam beberapa aspek. Secara umum, debat sudah berlangsung dengan baik dan lancar. Bahkan kami bisa selesaikan lebih cepat dari jadwal. Tentu hal ini bisa terjadi berkat kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Khususnya, panitia yang selalu gercap dan siap....