Studi Islam, Mazhab Sapen, dan Kampus Inklusif
Ketika Mbak Alimatul Qibtiyah pagi itu menelepon untuk meminta tulisan bagi buku ini, saya sempat menyatakan tidak sanggup. Menulis tentang Pak Amin Abdullah , guru kita , adalah sebuah kehormatan ; tetapi karena waktunya hanya tiga hari, saya tak berani mengecewakan beliau. Dengan Mbak Alim, saya masih bisa menolak; tetapi begitu Pak Amin sendiri yang mengambil alih telepon dan menyampaikan dawuh nya, saya tak berdaya lagi untuk menawar. Murid itu tidak punya jawaban kepada permintaan guru selain, “ Nggih pak. Siap!” jawab saya. Pak Amin dan tulisan-tulisannya adalah bagian tak terpisahkan dari siapa saya (dan kita). Jika sosok saya direpresentasikan dalam sebuah gambar yang tersusun dari kepingan-kepingan puzzle , misalnya, pasti ada yang bolong-bolong kalau unsur pengaruh Pak Amin dibuang dari gambar itu. Pak Amin adalah dan selalu menjadi bagian dari saya baik sebagai alumni maupun sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga. Sebagai orang yang beruntung menjadi murid langsungnya di ...