Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2019

PROPORSI, REPRESENTASI, DELUSI

Saya sebenarnya sudah tidak berminat menanggapi mereka yang ribut dan teriak curang coreng. Sebab mereka akan terus mengatakannya sampai kapan pun. Tidak peduli apa pun. Sebab mereka sudah mulai teriak itu sejak "permainan" belum dimulai pun. "Hanya kecurangan yang membuat kami kalah," kata mereka dulu. Dulu sekali. Jadi, saya akan melihat yang lebih besar dari pemilu. Sebutlah namanya "delusi mayoritas!", penyakit paling naif yang menjangkiti sebagian kelompok Muslim Indonesia. Delusi mayoritas ini lebih tua dari delusi kemenangan Prabowo. Saya tidak tahu persis setua apa, tetapi saya teorikan sejak kita bersiap merdeka dan punya MIAI (Madjlisul Islami A'la Islami Indonesia), cikal bakal Masyumi. Seperti namanya, organisasi ini mengira bisa menjadi organisasi Islam untuk semua orang Islam. Islamnya orang Islam. Di atas NU atau Muhammadiyah yang terlebih dulu lahir. Lebih tinggi dari semuanya (a'la). Karena Muslim itu secara 'proporsi...

Bapak (1939-2019)

Gambar
Wafat: 19 April 2019, Pukul 14:10 Sejak menderita stroke pada 2011, Bapak sudah tidak seperti dulu lagi. Bapak hanya terbaring di tempat tidur. Awalnya bapak masih bisa dipindah ke kursi roda. Tetapi dua tahun terakhir fisiknya terlalu lemah untuk aktifitas apa pun. Menurut Ibu, Bapak pergi dengan tenang. Menutup mata dalam senyap dan tangan khusyuk bersedekap. Kami pun dalam keikhlasan penuh untuk ditinggalkan. *** Bapak itu guru, bukan karena bapak menjadi guru di madrasah. Dalam hidupnya, guru itu hanya pengabdian untuk madrasah milik NU yang harus berjuang melawan penetrasi sekolah negeri di sekitarnya. Sebagaimana pengabdian yang juga beliau berikan lewat ngaji kitab di rumah untuk para santri di pesantren dekat rumah. Atau pengabdian lewat wakaf diri, pikiran, dan waktu untuk menggerakkan kekuatan komunal kaum santri desa lewat Nahdlatul Ulama di Blitar sebelah barat. Dari segi profesi, Bapak lebih tepat disebut petani, pekerjaan yang bapak tekuni sampai saat stroke mel...

Rekam Jejak Google Trend dan Pemilu Indonesia

Gambar
Soal kepercayaan kepada Quick Count, saya sudah percaya sejak dulu dan sempat menulis argumennya di sini  http://maftuhin.blogspot.com/2014/07/quick-count-bisa-dipercaya-kecuali-qc.html . Pada pemilu 2014, saya mengajukan pertanyaan tentang kemungkinan menggunakan Google Trend sebagai prediktor hasil pemilu ( http://maftuhin.blogspot.com/2014/07/dapatkah-google-memprediksi-pemenang.html ). Berdasarkan tiga pemilu di Amerika, Google Trend cenderung benar dalam memprediksi. Di Indonesia? 2009, belum ada data. 2014, prediksi Google Trend dikonfirmasi oleh kemenangan Jokowi. Tahun ini? Meskipun belum ada pengumuman KPU, tetapi karena saya percaya Quick Count, maka dapat disimpulkan bahwa Google Trend gagal memprediksi hasil. Beberapa hari menjelang kampanye, saya memantau dengan cemas Google Trend. Data yang diberikan "mencemaskan" karena tergantung bagaimana kita setting filternya. Satu tahun, Jokowi- Prabowo 22-20 (menang Jokowi 2 poin); tetapi dengan filter 3 bulan terakhir,...