Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2009

Akhirnya, ada yang membela kita [yang miskin]

Saya menunggu harap-harap cemas kasus yang melibatkan proyek digitalisasi buku "yatim" (orphant books : tanpa pengarang atau yang ahli warisnya tidak ada, dan yang sudah tidak dicetak ulang) oleh Google. Sebagai orang yang tinggal di negara miskin, Google books dan proyek buku gratis tersebut sangat menggembirakan kita. Kita akan cepat pintar! Kita akan bisa bersaing dengan negara maju karena kita memiliki akses yang sama terhadap buku! Apa sih yang membedakan kuliah di Amerika dan di Indonesia? Salah satunya ya akses terhadap koleksi buku itu. Kalau akses ini dibuka, maka kualitas riset kita pun akan bisa diperhitungkan karena kekuatan referensi kita. Jadi, ya harus didukung lah proyek-proyek semisal itu. Sayangnya, Google terancam oleh para pesaingnya yang meminta Departemen of Justice untuk meninjau. Saya senang sekali dengan adanya gerakan pendukung Google seperti yang termuat dalam berita berikut: A proposed settlement allowing Google to digitize millions of books will h...

Economist punya laporan khusus ttg Arab

Gambar
Majalah Economist edisi terbaru menurunkan laporan khusus tentang dunia Arab. Ini adalah laporan menarik yang wajib dibaca bila Anda ingin memahami wilayah paling "panas" di dunia saat ini. Berikut saya kutipkan beberapa poin penting dari laporan tersebut: “THE Arab world is more or less a vicious circle. None of its problems will be solved soon. All these troubles have the capacity to reinvent themselves.” So says Ali al-Din Hillal Dessouki, a former minister and senior figure in Egypt’s ruling party. This special report opened by arguing that the causes of conflict in the Arab world—the competition for energy, the conflict with Israel, the weakness of Arab statehood and the stagnation of politics—are taking on the characteristics of a chronic condition. But they are not just chronic. They are also connected to each other, and self-reinforcing. Di bagian lain ditulis: The Arabs are a dynamic and inventive people whose long and proud history includes fabulous contributions to...

Buat Apa Blogging?

Sudah saya katakan, saya akan mulai nge-blog lagi. Orang boleh bilang nge-blog (dan semisalnya, facebooking), itu narsis. Tetapi, orang perlu berkomunikasi, dan blog adalah salah satu bentuknya. Blog, juga, melatih kita menulis, dan mendokumentasikan apa yang kita baca, alami, dan mungkin rasakan. Kisah yang ditulis wartawan NPR berikut menjadi sdalah satu contoh bagaimana blog (media komunikasi itu), bisa mengurangi beban seorang ibu yang tengah diuji dengan anaknya yang terkena kangker. Christina Avery describes herself as "someone who likes to keep private stuff private." But she found that blogging helped her deal with the stress of having a child with cancer, and it kept loved ones updated on her daughter's treatments. Like to read the story? Click here .

Bom itu lagi...

Saat saya mendengar berita bom, saya marah, tentu bukan karena MU gagal main di sini (Datang pun, kalau tanpa Ronaldo ya seperti tidak datang...), tetapi karena benci keamanan dan ketertiban yang sudah kita rasakan selama lima tahun terakhir ternoda kembali. Apa kata dunia? Kebetulan saya sedang punya tamu dari Afrika Selatan, seorang dosen Antropologi yang sedang melakukan riset tentang Islam di Indonesia. Tadi malam ia main ke rumah, dan saya tanya apa dia tidak takut? Dia bilang, keluarganya di Capetown sempat telpon dan panik, tapi ia sendiri merasa nyaman saja. "It's not the first time I come here and it is also not the first bombing I happen to be here. My first visit to Indonesia was in 2002, just months after the Bali bombing. I was here, in Jogja, when the earthquake hit the region. In addition, We used to have more bombings and killings back home." Ah, kebetulan saja dia orang yang sudah akrab dengan kita. Nggak takut apa-apa untuk datang dan tinggal di Indones...

17 Juta Orang Inggris Nggak Mau Internet!!! Indonesia?

Artikel di BBC ini menarik: ... 17 million Britons have never been online. They have chosen not to do so, seeing the internet as irrelevant to their lives, too expensive or simply too daunting. Inggris adalah negara maju. Saya belum pernah ke Inggris, tetapi kalau misalnya Inggris seperti Amerika, tentu berlangganan highspeed Internet $US30 sebulan (seharga 4 piring nasi goreng Thai) bukanlah barang mahal. Kalau mereka saja bisa menganggap Internet adalah barang yang tidak relevan, lalu bagaimana dengan kita? yang beli HP dengan syarat ada fitur untuk akses Facebook? Apakah internet benar-benar relavan dengan kehidupan kita? Pernahkah kita menghitung, berapa jama sehari kita di Internet dan dari sekian jam itu berapa yang kita gunakan untuk sesuatu yang produktif dan berapa jam yang untuk facebook-an? Saya sendiri bisa 5 jam lebih dalam sehari di Internet. Kegiatan paling favorit adalah membaca berita tekologi (dulu pemilu di Amerika) dari Google Reader saya, lalu cari e-book gratis (y...

Moving to the New Ground

I left my desperate blog for some times. I did want to return one time. But I haven't. Again and again I want to be back here again. And I don't know if this is the time. I won't promise. And I will try again. Salah satu sebabnya adalah koneksi internet. Meskipun lambat bukan main, dengan IM2, sekarang saya punya koneksi 24 jam lagi. Jadi kapan saja sempat, saya bisa menulis kembali di blog. Termasuk, sambil momong, ganti popok seperti sekarang :) Kedua, kuliah telah tiba. Eksperimen kelas online selama ini berjalan baik. Jadi, saya akan terus mengembangkan lingkungan belajar online ini untuk membantu kuliah. Untuk semester depan, kelas Fiqh akan kembali online dengan beberapa fasilitas tambahan. Ketiga, masih perlukah alasan yang lebih banyak? Ya. Saya sudah mengubah lagi tema lama blog ini dengan baju baru. Kalau dulu saya gunakan karya sendiri, sekarang saya cukup puas dengan menggunakan template gratis dari Internet. Back to the blue...

Bimbingan Akademik Online

Memasuki tahun ajaran baru, hari Rabu ini para mahasiswa yang terdaftar dalam bimbingan akademik saya diminta untuk menghadiri pertemuan yang dirancang oleh fakultas di ruang 403. Saya belum tahu apa yang akan mahasiswa sampaikan di forum itu, tetapi saya tahu satu hal yang saya perlukan: bantuan para mahasiswa untuk memberikan data pribadi dan rekam perkembangan studi mereka. Jadi, bila Anda adalah mahasiwa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, tolong isi dan "submit" e-formulir ini.