Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Selamat Jalan Pak Bob

Gambar
Bagi banyak orang Pak Bob dikenal sebagai pengusaha sukses, Raja Hutan, dan salah satu menteri era Soeharto. Bagi banyak orang lagi, Pak Bob adalah pahlawan olahraga atletik. Bagi kami, Pak Bob adalah orang yang peduli dengan difabel. Pak Bob adalah pembina Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia). Lewat Pertuni inilah kedermawanan Pak Bob mengalir dan lewat jalur itu pula saya mengenal secara pribadi. Sekitar tahun 2017, Pertuni meluncurkan program perpustakaan digital dan kami, PLD, digandeng untuk sosialisasi. Rupanya Pak Bob lah orang di balik program itu. Beliau menyumbang 4 unit komputer untuk PLD sebagai hadiahnya. Sukses dengan acara ini, Pak Bob yang kebetulan juga punya kegiatan sosial di Jogja, mengubdang saya dan Pak Rektor Yudian Wahyudi Asmin untuk bertemu dan makan malam di salah satu hotel yang ia miliki. Kami ngobrol banyak hal termasuk rencana kerjasama lain untuk pemberdayaan difabel. Singkat cerita, keakraban itu berlanjut. Kalau ada acara di Jogja, saya k...

Salah Paham Profesi Dokter

Gambar
Video dari tenaga medis ini mungkin sudah Anda lihat sebelumnya karena sudah viral sejak beberapa hari yang lalu. Video ini adalah reminder atas strategi perang kita yang mungkin keliru dalam menghadapi Covid-19. Sebab, jika benar kita memang 'perang melawan Corona', maka seperti perang-perang lain, tenaga medis bekerja di garis belakang: mengobati mereka yang terluka. Ia mengingatkan bahwa kita, masyarakat secara kolektif, berada di garis terdepan. Dengan demikian maka medan pertempuran (battle) pertamanya adalah pribadi kita, senjata dan pertahanan kita adalah cuci tangan dan pakai masker. Masih di garda depan, adalah lingkungan kita. Orang masjid tentu bertempur dengan cara tidak berjamaah, menutup masjid, meliburkan Jumatan, menghentikan pengajian, dsb. Di kampung, senjata kita adalah kepedulian terhadap lingkungan, mulai dari mendata warga yang ODP; membantu mengawasi mereka yang wajib isolasi mandiri, dan seterusnya. Di unit yang lebih besar, kabupaten, provinsi...

Besok Jumatan Libur?

Gambar
AFP. Barusan ada yang menelpon saya soal implementasi Fatwa MUI tentang anjuran salat di rumah dan mengganti Salat Jumat dengan Salat Zuhur. Jawaban saya begini (panjang): 𝐒𝐮𝐛𝐬𝐭𝐚𝐧𝐬𝐢 𝐅𝐚𝐭𝐰𝐚 Jika mengacu ke fatwa MUI, ada tiga kategori kawasan yang terkena wabah: sangat tinggi, tinggi, dan rendah. Jangan tanya saya mengapa tidak tinggi, sedang, rendah... Bunyi fatwanya begitu. Secara hukum tiga kawasan itu hanya dibedakan menjadi dua: - Boleh meninggalkan salat Jumat bagi yang di kawasan tinggi dan sangat tinggi penyebarannya. - Wajib menjalankan ibadah seperti biasa dengan menghindari kontak fisik bagi yang di kawasan rendah. Fatwa MUI memberikan kewenangan sepenuhnya kepada pemerintah (ulil amri) untuk menetapkan kategori kawasan itu. Rakyat diharapkan tunduk kepada keputusan pemerintah. 𝐌𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐏𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐭𝐚𝐡 Kewenangan yang diberikan MUI kepada pemerintah, untuk menetapkan jenis kawasan (zona) itu, sayangnya tidak menemui kenyataan. Pemeri...

MUI versus NABI

Gambar
Kemarin, ada anggota grup WA yang membagikan sebuah artikel anonim yang isinya kumpulan hadits-hadits. Pesan utamanya: umat Islam tetap harus meramaikan masjid dan salat Jumat tanpa perlu takut virus Corona. Pesan artikel ini tentu bertentangan dengan fatwa MUI, Muhammadiyah, NU dan lembaga-lembaga fatwa dunia. Kebetulan, teman di grup WA hanya menyebut MUI, lalu dia bertanya, “Bagaimana ini kiai, fatwa MUI koq bertentangan dengan Hadits Nabi?” Lalu saya jawab: cara berfikir yang menganggap artikel itu sebagai “Hadits” (Hadits = Nabi) dan fatwa MUI sebagai “cuma fatwa” (Fatwa=Manusia) tidaklah tepat. Meskipun artikel itu berisi 10 hadits Nabi, artikel itu bukan Nabi. Artikel itu adalah pendapat si penulis yang diberi dalil Hadits Nabi. Maka cara kita melihatnya harus diubah: Pendapat Penulis versus Fatwa MUI. “Nah, njenengan mau ikut fatwa MUI atau pendapat si penulis?” *** Saya tidak ingin membela MUI. Saya hanya ingin mengkritik cara pandang kita yang sering simplifikasi...

Pembalajaran Online? Jangan Lupa Difabel ya

Gambar
Bahan kuliah untuk Tunanetra Mulai kemarin hingga dua minggu ke depan, kita di UIN Sunan Kalijaga dan banyak perguruan tinggi lainnya, akan kuliah online/daring. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam kuliah online itu, mulai dari platform yang kita pilih sampai dengan metode belajar mengajarnya. Secara platform, mungkin sebagian kampus sudah membuat sendiri. UIN Sunan Kalijaga menyediakan learning.uin-suka.ac.id yang terintegrasi sudah terintegrasi dengan sistem akademik. Namun demikian dosen bisa menggunakan berbagai platform komersial yang ada, seperti dari Schoology sampai dengan Classroom. Cara mengajarnya juga bisa divariasikan, mulai dari video tutorial, video ceramah, audio podcast, quiz online, diskusi online, dan seterusnya. Alternatifnya banyak, jadi jangan hanya bebani mahasiswa dengan tugas-tugas online. Kasihan mereka. Ingat difabel Satu hal yang saya ingin Bapak-Ibu perhatikan: pastikan bahwa mahasiswa difabel tidak menemui hambatan untuk berpartisipasi p...

Kalau saja istilah itu penting

Gambar
Istilah-istilah kunci dalam Wabah Covid-19 di Indonesia bersumber dari keterangan Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto di hadapan wartawan. Saya tidak tahu mengapa tidak ada dasar yang lebih kuat dari keterangan beliau. Penjelasan beliau dibuat untuk mendidik masyarakat yang semula hanya menggunakan dua kategori "suspect" dan "positive". ------------------------------------ ODP Semua orang yang masuk ke wilayah Indonesia, baik Warga Negara Indonesia (WNI) atau Warga Negara Asing (WNI) dan berasal dari suatu negara yang telah dikonfirmasi penularan Corona antar manusia. PDP ODP yang mengalami beberapa gejala seperti influenza sedang sampai berat, seperti batuk, pilek, demam, dan gangguan napas. SUSPECT PDP yang terkonfirmasi pernah ada kontak dengan positif Covid-19 ------------------------------------- Saya punya cerita. Sewaktu rombongan UIN yang ada acara tiga hari di Bali hendak balik ke kamp...

Ketika Rakyat adalah Beban dalam Kebijakan Corona

Gambar
Screenshot: merahputih.com Kalau kita cermati baik-baik pernyataan para pejabat kita dalam menghadapi wabah Covid-19, ada satu hal sangat penting yang ‘gaib’, hilang dari benak mereka, hilang dari pidato mereka, hilang dari kebijakan mereka: rakyat yang berdaya dan mandiri! Semua pidato itu dibuat dalam narasi satu arah: kami yang kuasa, kami yang punya informasi, kami yang ambil keputusan baik dan buruk, kami yang akan selesaikan masalah ini. Anda, dengarkan kami, percaya kami, ikut kami! Saya tidak melihat, misalnya, pemerintah mengajak ormas-ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah untuk menjadi bagian dari gugus tugas dan solusi untuk menghadapi wabah ini. Padahal kita tahu, ormas Islam punya jaringan sampai ke akar rumput. Ormas Islam juga punya resources yang tidak boleh diremehkan. Sekolah, pesantren, universitas, hingga rumah sakit. Jaringan umat dan sekaligus resources itu bisa jadi beban tetapi bisa jadi kekuatan, tergantung cara pandang pemerintah. Kalau cara panda...

Tanggap Corona dan Takut Mati

Gambar
Saya lihat, tidak sedikit orang yang merespon tindakan penanganan dan pencegahan meluasnya wabah Corona dengan cap "takut mati". Mereka bilang, mati sudah ada yang mengatur. Izrael sudah punya daftar tunggu. Atau, ini ujian keimanan kita, apakah kita takut Allah atau takut virus. Atau ... beri contoh semisal di komentar! Begini, helm diwajibkan agar Anda tidak mati kebentur. Apakah Anda akan bilang: ngapain pakai helm, toh kalau takdirnya mati karena kebentur aspal di jalan, ya mati juga walau pakai helm. Lampur APILL dibuat agar Anda tidak mati ketabrak. Apakah Anda akan bilang: kalau memang takdirnya mati karena tabrakan, ya tetap saja akan mati ketabrak. Hukum pidana dibuat agar Anda tidak dibacok orang di jalan. Apakah Anda akan bilang: kalau memang takdirnya mati dibacok, ya tetap saja mati dibacok. Dengan logika yang Anda pakai, maka kapan-kapan kalau Anda kemalingan, dibacok orang, ditabrak orang di jalan. Anda tinggal bersyukur saja: Alhamdulillah saya menj...

Aplikasi Google Classroom Android

Gambar
Jika bapak ibu sudah menginstall aplikasi Google Classroom di HP, berikut ini saya buatkan tiga tutorial (dulu) paling dasar. Membuat kelas di Classroom Update status seperti di Facebook Membuat tugas Video pertama: Cara membuat Kelas di Classroom Video kedua: Update Status di Classroom   Video Ketiga: Cara membuat Tugas di Classroom  

Google Classroom Tutorial

Gambar
Mengapa Menggunakan Classroom? UIN Sunan Kalijaga sebenarnya sudah memiliki sitem eLearning yang dapat diakses di learning.uin-suka.ac.id. Saya tidak dapat memberikan komentar atau review terhadap fitur tersebut karena belum secara praktik nyata menggunakan di kelas saya. Dahulu, saya menggunakan Schoology. Dalam banyak hal, Schoology adalah yang 'terbaik'. Fiturnya lengkap, tampilannya bagus, dan tersedia aplikasi androidnya. Hanya saja, ada dua kelemahan yang saya temukan: Pertama, saya tidak bisa memaksa mahasiswa menggunakan akun UIN Sunan Kalijaga. Dengan begitu, siapa saja sebenarnya bisa masuk ke kelas itu. Kedua, layanan servernya yang lambat. Aplikasi Schoology sangat tidak friendly untuk bandwith lemah para mahasiswa. Maka, saya memilih Google Classroom. Pertama, saya bisa membatasi akses hanya mereka yang memiliki akun NIM@student.uin-suka.ac.id ; Kedua, fitur yang lebih lengkap dari dulu ketika saya memutuskan menggunakan Schoology; Ketiga, aplikasinya ringan...

Nunggu UGM

Gambar
Pertengahan Februari, beberapa teman panitia kegiatan internasional di UIN Sunan Kalijaga sudah resah. Apakah kegiatan mereka akan berlanjut atau harus dihentikan? Banyak peserta luar negeri yang sudah menghubungi panitia. Mereka bertanya di grup. Responnya: sepi. Mereka yang mau bepergian juga punya keresahan yang sama. Saya sendiri punya tiga rencana perjalanan luar negeri tahun ini. Salah satunya, direncanakan pertengahan Maret ini ke Australia. Saya sudah menghubungi Om Zulfan Tadjoeddin jauh hari sebelumnya. Awal Maret, beliau tanya, "Jadi nggak?" UIN belum mengambil keputusan. Tetapi saya memutuskan sendiri. Toh itu perjalanan dinas dengan anggaran PLD yang saya rancang sendiri. "Saya takut Corona Om. Kita tunda dulu ke Sydney-nya." Setelah UGM mengeluarkan surat himbauan untuk tidak melakukan perjalanan dinas luar negeri, dan surat itu ramai dibincangkan secara nasional, UIN ikut bikin surat yang mirip-mirip. Isinya kurang lebih samalah dengan univers...

Beyond NU-Muhammadiyah?

Gambar
Terkait kasus gesekan NU-Muhammadiyah di Kauman, respon beberapa orang mungkin seperti striker yang sampai menit ke-85 belum mencetak gol. Apalah istilahnya, biasanya si striker akan melakukan tendangan-tendangan di luar normalnya seorang striker . Ia mungkin tidak menemukan cara menjelaskan gesekan itu dengan perspektif dikotomi NU-MD dan mengajukan tesis: sekarang waktunya berpikir melampaui NU-Muhammadiyah, akan muncul generasi “hibrid”, beyond NU-MD. Serius? Saya punya dua jawaban. Anekdot Saya pernah mendengar pengajian dari salah satu kiai. Tetapi daripada salah tokoh dan detailnya, izinkan saya mengubah kisah nyata itu sebagai anekdot. Dikisahkan, ada orang menemui seorang kiai berpengaruh dan mengatakan bahwa sebagai seorang Muslim ia resah dengan umat yang terpecah-pecah dalam berbagai organisasi. Sebagai solusi, ia mengusulkan dan mengajak sang kiai untuk mendirikan organisasi yang menyatukan seluruh umat Islam. “Kita bikin organisasi yang bukan NU dan Muhammadiyah,”...

Pura-Pura Ukhuwah NU-Muhammadiyah

Gambar
PWNU tahun 1980-an.sumber foto: belum terlacak. Sebenarnya, ada nggak sih ukhuwah NU-Muhammadiyah itu? Ukhuwah itu kenyataan atau cita-cita? Pengalaman atau norma saja? Kalau ketua Pemuda Muhammadiyah dan Ansor pamer foto mesra, apakah tiba-tiba ada ukhuwah karena foto mereka? Kalau ada film dibuat bersama oleh elit NU dan Muhammadiyah, apakah itu tanda ukhuwah atau justru sebaliknya: tidak ada ukhuwah, dibuatlah film untuk menjalin ukhuwah? Daripada percaya jargon “kita ini saudara tunggal seperguruan, pendiri kita adalah murid dari kiai yang sama,” mbok sudah jujur saja: tidak ada ukhuwah antara NU dan Muhammadiyah. Mereka bukan saudara. Orang seperguruan juga bukan jaminan untuk hidup sejalan. Saya akan mengajukan tiga bukti untuk menghentikan kepura-puraan ukhuwah ini. Pertama: mereka lahir sebagai ‘musuh’, bukan saudara. Muhammadiyah dilahirkan untuk mengoreksi tradisi, membuang apa yang menurut mereka sebagai penyakit umat. Istilah yang biasa dipakai adalah TBC (takhay...

Wakaf Buku Menemani Difabel

Gambar
Judul Buku: Menemani Difabel: Coretan Kesan relawan PLD Penulis: Tim Relawan PLD UIN Sunan Kalijaga  Penerbit: Mahata Tahun Terbit: 2019 ISBN: 978-602-60532-8-2 Full text: PDF Saat tim buku relawan meminta saya untuk memberi kata pengantar, saya belum membaca tulisan-tulisan yang berhasil dikumpulkan dari 35 relawan PLD ini. Saat itu, jujur saja, saya sedikit meragukan ‘kualitas’ buku ini. Apa sih yang bisa dibaca dari relawan? Hanya saja, setelah membaca tulisan mereka, saya akan selalu mengatakan kepada setiap orang yang saya temui untuk membaca buku ini. Jika orang ingin mengerti salah satu aspek penting dari pendidikan inklusif ‘mazhab’ UIN Sunan Kalijaga, membaca buku ini hukumnya wajib. Salah satu karakter penting dari pendidikan tinggi inklusif di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah pada aspek kerelawanannya. Anda harus ingat bahwa pada tahun 2007 ketika kami mendirikan Pusat Studi dan Layanan Difabel dan bertekad menjadikan UIN Sunan Kalijaga sebagai ...

Khutbah: Agama bukan Empon-empon

Gambar
Dikisahkan dalam berbagai kitab tarikh, dengan dua versi yang saya coba rangkum di sini, bahwa suatu ketika di zaman Khalifah Umar bin Khattab terjadi wabah penyakit yang melanda negeri Syam, salah satu wilayah yang baru ditaklukkan tentara Muslim. Beberapa sejarahwan, seperti Albaladzuri, menyebut peristiwa ini sebagai Ta’un Amwas (atau wabah yang terjadi di daerah Amwas, Palestina sekarang). Menurut Ibn Atsir, wabah ini merenggut nyawa 15.000 orang. Di antara korbannya adalah Sahabat-Sahabat terkemuka seperti Abu Ubaidah Amir b. al-Jarrah dan Muadz b. Jabal. Mendengar kabar ini, Khalifah Umar yang awalnya berencana melakukan kunjungan lapangan menjadi bimbang. Awalnya beliau meminta nasehat para sahabat Muhajirin. Mereka ternyata berselisih pendapat, ada yang mengusulkan agar khalifah tetap melakukan kunjungan dan ada yang mengusulkan agar khalifah membatalkan perjalanan. Lalu, beliau minta pendapat para Sahabat Ansor, dan mereka juga terbelah pendapatnya. Keputusan khliafah U...

Kunjungan Ke Saintek

Gambar
Rabu, 4 Maret 2020, saya dan teman-teman PLD berkunjung ke Fakultas Sains dan Teknologi untuk bertemu dengan para dosen, khsusunya dosen-dosen baru. Agenda pertemuan kami adalah sosialisasi pendidikan inklusif dan sharing masalah implementasi pendidikan inklusif di fakultas. Saya dan Tim PLD didampingi oleh Wakil Dekan Bidang Akademik. Karena bertemu dengan banyak dosen baru, dalam forum ini saya memperkenalkan alasan mengapa UIN Sunan Kalijaga memilih menjadi kampus inklusif. Saya tekankan bahwa pandangan pendidikan inklusif itu pandangan yang tak mudah diucapkan dan tak mudah dilaksanakan. Butuh komitmen yang kuat untuk memastikan bahwa difabel dapat mengakses pendidikan di tengah sistem pendidikan kita yang berorientasi pasar. Dari diskusi dengan teman-teman Saintek inilah lahir ide untuk menulis bersama, buku tentang pengalaman mengajar difabel. Fakultas Saintek dan para dosennya sudah cukup punya pengalaman sementara dosen baru belum punya gambaran dan belum punya ruj...