Beyond NU-Muhammadiyah?


Terkait kasus gesekan NU-Muhammadiyah di Kauman, respon beberapa orang mungkin seperti striker yang sampai menit ke-85 belum mencetak gol. Apalah istilahnya, biasanya si striker akan melakukan tendangan-tendangan di luar normalnya seorang striker. Ia mungkin tidak menemukan cara menjelaskan gesekan itu dengan perspektif dikotomi NU-MD dan mengajukan tesis: sekarang waktunya berpikir melampaui NU-Muhammadiyah, akan muncul generasi “hibrid”, beyond NU-MD. Serius? Saya punya dua jawaban.

Anekdot

Saya pernah mendengar pengajian dari salah satu kiai. Tetapi daripada salah tokoh dan detailnya, izinkan saya mengubah kisah nyata itu sebagai anekdot.

Dikisahkan, ada orang menemui seorang kiai berpengaruh dan mengatakan bahwa sebagai seorang Muslim ia resah dengan umat yang terpecah-pecah dalam berbagai organisasi. Sebagai solusi, ia mengusulkan dan mengajak sang kiai untuk mendirikan organisasi yang menyatukan seluruh umat Islam. “Kita bikin organisasi yang bukan NU dan Muhammadiyah,” ujarnya mantap.

Sambil senyum si kiai bertanya, “Terus, apa nama organisasinya?” Masih yakin dengan idenya, orang itu menjawab, “Pokoknya, yang bukan NU dan Muhammadiyah. Misalnya, Ukhuwah Islamiyah atau apalah...” Mendengar itu, si kiai bilang, “Yo wis, buat saja organisasi baru itu. Aku tetap di NU saja.”

Terlepas dari cita-citanya yang ingin melampaui sekat NU-MD, ya ujung-ujungnya dia bikin organisasi baru, nambah “pecah belah” kalau menggunakan sudut pandangnya.

Sejarah

Kalau pun mau menggunakan 'hibrid' sebagai istilah untuk orang setengah NU dan setengah Muhammadiyah, atau MuhammadiNU, maka 'generasi hibrid', campuran NU-MD sebenarnya sudah ada pada diri para kader PKS/Tarbiyah. Di gerakan Tarbiyah/PKS ada banyak (mantan) orang NU dan MD. Jika orang itu aslinya NU, dia pertahankan amaliah NUnya seraya memeluk visi sosial Ikhwanul Muslimin (IM) yang menjadi kibat Tarbiyah/PKS. Jika ia orang Muhammadiyah, ia tetap beramal Muhammadiyah seraya memeluk harakah politik IM. Banyak orang hibrid NU/IM di PKS.

Selain mereka, tentu saja harus disebut HTI. Sama seperti IM yang aslinya adalah gerakan politik, HTI juga organisasi politik. Maksud saya, dengan fitrah mereka sebagai organisasi politik itu, maka mereka bisa dengan mudah mengabaikan perbedaan identitas ke-NU-an dan ke-MD-an dalam Fikih dan akidah, karena yang penting melakukan 'konversi' secara sosial-politik. Tidak heran jika banyak anak-anak NU dan MD yang berhasil direkrut HTI.

'Hibrid' bentuk lainnya adalah 'separoh konversi'. Misalnya, orang NU yang menjadi Muhammadiyah karena bekerja di amal usaha Muhammadiyah. Saat saya dulu menjadi dosen di UMY, salah satu syarat untuk menjadi dosen tetap adalah menjadi anggota Muhammadiyah. Orang NU yang seperti ini banyak. Saya lihat, mereka tetap NU di rumah, lalu menjadi Muhammadiyah waktu di kampus atau di organisasi (hahaha).

Hibrid lainnya adalah anak-anak NU yang menjadi Muhammadiyah karena konversi lewat organisasi seperti IMM atau IRM. Konon Pak Dien Syamsuddin itu aslinya NU, kemudian aktif di banom Muhammadiyah dan akhirnya menjadi Muhammadiyah, minimal secara organisasi. Saya tidak kenal beliau dan tidak tahu kalau di rumah.

Faktanya: tetap NU, Muhammadiyah, atau varian lainnya

Tetapi seperti Anda lihat sendiri dalam kasus-kasus itu. ‘Hibriditas’ mereka ya sebatas individu (seperti konversi orang NU di Muhammadiyah itu). Begitu berubah menjadi organisasi, mereka tidak bisa menawarkan suatu identitas yang beyond NU-MD. Alih-alih punya identitas ‘universal’, Islam ‘murni’ atau ‘Islam ukhuwah’ kalau mau menggunakan istilah ini, identitas mereka adalah identitas ‘ketiga’.

Seperti dalam anekdot awal tadi, mereka adalah varian baru, bukan menyatukan, tidak melampuai, tetapi pecahan baru, yang dalam pengalaman Indonesia, belum pernah melampaui NU-MD. Bagi Anda yang percaya mitos ukhuwah, muslim united, beyond dikotomi NU-MD, kenyataan pahitnya adalah bahwa Anda hanya akan menjadi penganut sempalan kecil, slilit NU dan Muhammadiyah.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama