Bughyatul Mustarsyidin: Kitab Paling Sering Dirujuk di NU


Jika menelusuri berbagai dokumen putusan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (NU), kita akan menemukan satu karya yang sangat dominan dirujuk dan dikutip: kitab Bughyah al-Mustarsyidin. Oleh karena itu, mengenali kitab ini menjadi sangat krusial bagi para peminat maupun pengkaji hukum Islam (fikih).

Profil dan Pengarang

Kitab bertajuk lengkap Bughyah al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin ini merupakan kompilasi fatwa-fatwa fikih mazhab Syafi'i dari generasi muta-akhkhirin (ulama era belakangan). Kitab ini disusun oleh al-’Allamah Sayyid ’Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin ’Umar Ba ’Alawi al-Hadhrami, seorang mufti terkemuka di Hadhramaut, Yaman pada zamannya.

Bughyah al-Mustarsyidin mengartikulasi dan merangkum pandangan fatwa dari lima ulama muta-akhkhirin ternama, yaitu:
  • Imam Abdullah bin al-Husain Bafaqih
  • Sayyid Abdullah bin ’Umar bin Abu Bakr bin Yahya
  • Imam ’Alawi bin Saqaf bin Muhammad al-Jafri
  • Imam Muhammad bin Abi Bakar al-Asykhari al-Yamani
  • Imam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madani

Metodologi dan Sistematika Penulisan

Sayyid ’Abdur Rahman menyusun kitab ini dengan tujuan menyajikan materi fikih yang aplikatif dan mudah dipahami, tanpa terjebak dalam perdebatan alot yang bertele-tele. Beliau menyandingkan tiap permasalahan hukum secara sistematis langsung dengan solusinya.

Struktur pembahasannya mengikuti sistematika fikih klasik, dimulai dari thaharah (bersuci), salat, zakat, puasa, haji, muamalah/perdagangan, waris, nikah, hingga jinayah (hukum pidana). Di bagian akhir, penyusun melengkapinya dengan ulasan faedah Al-Qur'an, sejarah Nabi dan Sahabat, keutamaan Ahlulbait, serta konsep wasilah.

Namun, sebagaimana dicatat oleh Prof. Azyumardi Azra, kitab ini tidak mencantumkan rujukan atau catatan kaki eksplisit. Hal ini kerap menyulitkan pembaca dalam membedakan secara tegas mana pendapat pribadi pengarang dan mana pendapat ulama yang dirujuk.

Keagungan kitab ini menginspirasi Sayyid Ahmad bin ’Umar al-Syathiri untuk memberikan catatan kritis (ta'liq) melalui karyanya, Ta'liqat 'ala Bughyah al-Mustarsyidin. Kini, kitab ini telah diterbitkan oleh berbagai penerbit dalam format satu jilid.

Panduan Membaca dan Menguraikan Simbol (Rumuz)

Membaca Bughyah al-Mustarsyidin tidak hanya membutuhkan penguasaan tata bahasa Arab (nahwu-sharaf), melainkan juga ketelitian tinggi. Sebab, pengarang menggunakan sistem kodifikasi (rumuz/inisial) untuk mewakili kelima ulama sumber fatwa guna menghemat ruang dan menjaga fokus pembahasan:
  • ب (Ba): Imam Abdullah Bafaqih
  • ي (Ya): Imam Abdullah bin Yahya
  • ج (Jim): Imam ’Alawi bin Saqaf al-Jafri
  • ش (Syin): Imam Muhammad bin Abi Bakar al-Asykhari
  • ك (Kaf): Imam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi
Memahami dan menghafal kode simbol ini sangat penting karena kelima tokoh tersebut tidak jarang memiliki pandangan yang saling berseberangan dalam satu kasus hukum.

Selain penggunaan rumuz, pengarang juga menerapkan formulasi teknis berikut:

Istilah Fa'idah (فائدة): Ditambahkan di sela-sela pembahasan untuk menandai informasi atau faedah penting yang patut diketahui pembaca.

Kesepakatan dan Perbedaan Pendapat: Jika beberapa ulama sepakat, pengarang menyandingkan simbol mereka. Jika ada catatan khusus atau perbedaan minor dari ulama tertentu, pengarang menyisipkan frasa “kadza fulan zad” (demikian pula fulan, dengan tambahan...) atau “kadzalika khalaf” (demikian pula fulan berbeda pendapat...).

Anotasi Pengarang: Jika ada keterkaitan masalah yang belum disinggung oleh mufti sumber, penyusun menambahkan penjelasan pribadi yang diawali kata “qultu” (aku katakan/berpendapat), lalu mengakhirinya dengan simbol “ah” (اھـ - singkatan dari intaha, menandakan akhir kutipan).

Unduh PDF Kitab Bughyah al-Mustarsyidin

Bagi yang berminat untuk membaca langsung kitab ini, selakan unduh filenya di link PDF berikut:


Comments

Thoughts, questions, and responses are welcome.