Postingan

Menampilkan postingan dengan label Ramadan

Khutbah Idul Fitri 1446 H

Gambar
 اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ; اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ   اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ.  اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ   أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ ...

Awal Puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, NU bisa beda dengan Pemerintah!

Gambar
Dalam beberapa dekade terakhir, mungkin orang lebih banyak melihat NU sejalan dengan pemerintah dalam menetapkan awal bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Kecuali dalam kasus orang per orang kiai NU, secara organisasi NU selalu sejalan dengan pemerintah. Penjelasan tidak seriusnya tentu, "karena menteri agama orang NU, ya nggak mungkin NU beda dengan pemerintah." Secara serius, tidak demikian kenyataannya di masa lalu. Keselarasan NU dengan pemerintah ini hanya bila pemerintah (Kementerian Agama) menggunakan ru'yah hilal sebagai dasar penetapan awal Ramadhan.  Sikap NU terdokumentasikan pada beberapa keputusan Bahtsul Masail yang dibuat terkait hisab dan ru'yah. Keputusan pertama yang muncul dibuat pada tahun 1954 menyikapi tindakan beberapa orang/organisasi yang mengumumkan awal Ramadan tanpa menunggu keputusan pemerintah. Tahun itu tampaknya pemerintah menggunakan dan menunggu hasil ru'yah, sementara ada kelompok yang menggunakan Hisab dan sudah membuat pe...

Mungkinkah Puasa 31 Hari?

Gambar
Jumat: Impossible Ru'yah! Bagi peminat Ilmu Falak, penentuan tanggal 1 Syawal tahun ini memang menarik. Teman saya, dosen Fakultas Syariah, Kiai Abdul Mughits, membuat catatan panjang yang perlu Anda baca sebelum membaca tulisan saya [1]. Ringkasnya, ia mengatakan bahwa ada perbedaan antara "Ilmu Syariah" dengan "Astronomi". Secara Syar'i, karena hari ini sudah tanggal 29, maka para Ahli Ru'yah akan melakukan pengamatan Hilal untuk memastikan apakah besok sudah 1 Syawal atau belum. Sementara secara Astronomi, mengacu ke release BMKG [2], ru'yah baru bisa dilaksanakan besok Sabtu karena ijtima'  (yang menjadi salah satu syarat ru'yah) baru terjadi nanti malam (Sabtu) Pukul 00:39 WIB. Kiai Mughits lalu mengajukan hipotesis menarik, "Kalau ru'yah besok Sabtu, seperti yang dinyatakan BMKG, berarti Ramadan sudah 30 hari. Jika Ramadan sudah 30 hari, maka kalau besok kita gagal ru'yah, Ramadan jadi 31 hari." Mungkinkah kit...

Puasa: Real Count vs Quick Count

Gambar
Apakah besok Senin sudah puasa? Tergantung Anda mau ikut mana. Quick Count apa Real Count. Ikut Quick Count pun masih tergantung lagi mazhab Quick Count yang dianut. 1 - Quick Count Wujud Hilal Kalau Anda mau ikut Quick Count versi Muhammadiyah yang menganut 'margin of error' 0 derajat, bisa dipastikan Anda puasa Senin. 2 - Quick Count Audah Margin of Error 7 derajat, Anda boleh bingung. Bisa Senin, bisa Selasa. Sebab, Hilal bisa terlihat dengan alat bantu dan tipis di bawah kriteria yang 'mungkin' terlihat. Tetapi dengan kriteria SAAO dan Yallup, puasa Selasa. 3 - Quick Count versi Imkanurrukyah Murni. Anda bisa puasa Senin, kalau Anda menganggap tidak perlu rukyah karena hilal sudah di atas 'margin of error' 2 derajat. 4 - Real Count versi Imkanurrukyah + Ru'yah Meski secara "situng" Senin sudah puasa, tetapi harus dibuktikan dengan data "C1" real rukyah yang diperoleh dari TPS observasi Hilal nanti sore. Sekarang Anda belum bis...

Ramadan 28: Ziarah

Gambar
Suatu ketika, teman ngobrol yang baru saya kenal di bandara Adisucipto, bertanya, "Mas, untuk apa mayit dibacakan talqin ? Apakah mayit bisa mendengar? Apakah penyusun talqin pernah mati sehingga ia tahu pertanyaan malaikat?" Saya tidak tahu apakah kenalan baru saya ini orang puritan dengan keyakinan bahwa talqin itu bid'ah atau orang awam yang bertanya karena rasa ingin tahu. Apa pun ia, saya tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan cara orang NU membela diri. Ini jawaban saya: Talqin dibacakan untuk mereka yang hidup. Keluarga mayit dan para hadirin yang kelak mati. Talqin adalah pengingat bahwa kematian bukan akhir urusan. Kematian hanya permulaan perjalanan, yang lebih jauh, yang lebih panjang, dan jika kau tak membawa bekal, menjadi perjalanan yang menyengsarakan! Untuk bekal kematian, engkau perlu iman, perlu kenal Tuhan, dan kenal Sang Utusan. Sebab, merekalah sebaik-baiknya teman perjalanan dalam kematian. Pesan seperti itu kapan saja bisa diajarkan. Di ...

Ramadan 26: Mbah Kung Mudik

Gambar
Blitar, September 2014 Dalam hidup ini, hanya satu Mbah Kung yang dapat kukenal. Mbah Kaji Irsyad, orang tua bapakku, sudah meninggal sejak bapak masih muda. Pamanku pun tak sempat mengingat wajah bapaknya. Karena hanya satu Mbah Kung, kami tidak perlu menambah kata sifat lagi di belakang julukannya.  Eh , Mbah Kung juga sudah tidak perlu tambahan kata sifat karena sifat-sifat baiknya selalu kudengar dari orang-orang yang mengenalnya. " Mbahmu ki grapyak semanak, ahli silaturrahim!". Di jaman belum ada komputer, Mbah Kung mencatat sendiri nama-nama keturunan Bani Nuriman. Aku tidak tahu siapa yang mengetik, tetapi buku daftar keturunan Eyang Nuriman tercatat dengan baik hingga keturunan ketujuh (aku dan segenerasiku). Buku Bani Nuriman diperbarui, diperbanyak dan disebarkan Mbah Kung setiap menjelang haul. Dari buku nasab dan cerita-cerita Mbah Kung, kami tahu asal-usul eyang kami: seorang Prajurit Diponegoro, yang lari ke wilayah Kediri dan berasal dari Bagelen Purwo...

Ramadan 20: Kampung Para Dermawan

Gambar
Sebulan menjelang Ramadan, Pak Wahadi dan Pak Ponijo dari Bantengan selalu memintaku untuk bersedia dijadwal datang taraweh dan bukber di musala mereka. Lima tahun lalu, pertama kali saya datang ke kampung kecil itu, musalla mereka juga masih kecil. Bangunannya masih baru dan tampak jelas dari jalan raya karena dibangun di tepi sawah yang sedikit terpisah dari kampung jamaahnya. Sebagai warga pendatang, saya tidak tahu banyak riwayat keislaman kampung yang dihuni 75 KK ini. Tetapi Bantengan tidak sesantri tempat asal saya di Blitar. Kesan ini dapat dengan mudah ditangkap dari daftar nama warga setempat yang dijadwal menjadi imam dan penceramah mereka: tak satu pun bernama baptis "muhammad" atau "imam" seperti nama-nama di kawasan santri. ADa satu dua nama Arab, itupun berbau Jawa seperti Pak Amat, bukan Ahmad. Pun demikian, jamaah Musala al-Hidayah di Bantengan selalu membuat saya kagum. Mereka benar-benar 'berkembang'. Musala yang dulu kecil, kini sud...

Ramadan 19: Maling-maling Kecil

Gambar
Kelas di sekolah anakku heboh. Salah satu murid baru kehilangan uang yang ditaruh di tasnya. Tahun ajaran baru. Murid-murid baru, di kelas satu. Sekolah baru berjalan empat hari. Tetapi 'kejahatan' sudah terjadi. Tentu saja tidak ada yang mengaku. Sewaktu bu guru bertanya, semua membisu. Kelas pun sunyi tanpa suara. Kecuali hati anakku. Ia tahu 'pengambilnya', tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukkannya. Si 'pengambil uang', apalagi, melotot sambil melempar isyarat dengan jari di bibirnya, "hushh!!". Anakku kenal si  bocah pengambil uang karena mereka sudah bersama sejak TK. Ulah si bocah yang ' lewat batas'  bukan yang pertama. Kata anakku, waktu di TK  bocah  itu sering menyembunyikan mainan milik sekolahan dan di bawa pulang. Tetapi, setahu anakku, mencuri uang baru sekarang. *** Saya lebih suka menyebutnya bocah pengambil uang. Masak sih anak sekecil itu disebut maling? Dalam Fiqih, anak usia tujuh tahun baru memasuki tahap tam...

Ramadan 18: Cara Melatih Anak untuk Tidak Jujur

Gambar
Buku Laporan Kegiatan Ramadan Puasa itu harusnya mengajari kita jujur. Entah berapa kali harus diceramahkan. Berapa kali harus dikhutbahkan. Berapa kali harus diingatkan. Berapa tahun saya sudah mendengar ajaran ini: puasa melatih kejujuran. Bosan, sampai. Konon, dalam ibadah lain kita bisa berbohong dan menjadi munafik. Sholat bisa pura-pura. Haji bisa dipasang gelarnya. Zakat dan sedekah bisa dipamerkan. Tetapi puasa tidak. Kau bisa saja pura-pura lapar. Pura-pura lemas. Pura-pura haus. Tetapi kau tahu pasti, kau hanya pura-pura puasa. Karena puasa ibadah hati. Ibadah sunyi, mestinya. Tetapi, sejak jaman Nabi pun sudah diingatkan. Berapa panyak dari kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Megap-megap melawan godaan makanan dan minuman, tetapi tunduk kepada perilaku hewan. Malam itu. Seperti malam-malam lain. Anak-anak mengerumuniku sehabis salat taraweh. Mereka membawa buku-buku laporan yang ditugaskan sekolah mereka. Saya selalu memanfaatkan waktu untuk menyapa mereka: s...

6 Alasan Mengapa Anda Perlu Waktu Imsak

Gambar
Pesan di WA atau media sosial jelas bukan fatwa. Tetapi pengaruhnya mungkin melebihi Fatwa MUI yang tidak populer. Misalnya pesan bahwa waktu imsak tidak dicontohkan Nabi. Saya sudah terima pesan ini dulu-dulu, nggak saya gubris. Eh, muncul lagi. Muncul lagi lewat berbagai jalur yang dalam ilmu Hadits bisa membuat sesuatu yang sesungguhnya daif (lemah) menjadi " hasan lighairih " (layak karena didukung oleh jalur lain). Ini versi terakhir yang saya ingin komentari, karena disebar di kalangan terdidik UIN dan tampaknya dibenarkan oleh sebagian pembacanya. Waktunya bicara kalau gitu! 1. Waktu Imsak bukan Ciptaan Islam Nusantara Imsak hanya di Indonesia dan Malaysia? Ciptaan Islam Nusantara? Anda yang punya jaringan teman internasional bisa tanya teman-teman Anda di berbagai belahan dunia lain. Di Arab, di Turki, dan di negara-negara lain (kecuali bagi yang beraliran Wahabi tekstualis seperti penulis pesan WA itu), penggunaan Imsak adalah hal yang biasa saja. Ini juga a...

Ramadan 05: Arif

Gambar
Dalam pertemuan yang singkat, saya hanya ingat namanya Arif. Gampang karena namanya sama dengan namaku. Ia tuli dan bisu. Sore itu ia datang ke kantor PLD (Pusat Layanan Difabel) ditemani Galih, salah satu relawan kami yang fasih bahasa isyarat. Untuk mahasiswa difabel, kami memang memberi pendampingan sejak mereka mendaftar. Melayani konsultasi jurusan pilihan, mendampingi proses pendaftaran online, pembayaran, dan hal-hal teknis lain terkait persiapan kuliah masuk di UIN. Dengan mendampingi sejak dini, kami berharap mengenal mereka lebih dekat sebelum kuliah. Tes tertulis seperti mahasiswa lain wajib mereka tempuh, tetapi untuk menilai kesiapan mereka kuliah tes saja kami anggap tidak memadai. Karena kebutuhan-kebutuhan khususnya, 'admisi' khusus sangat diperlukan bagi mereka. Ada yang bilang, cara itu diskriminatif. Bagi kami tidak. Untuk masuk perguruan tinggi, semua orang harus melewati pendidikan dasar dan menengah. Kalau sistem pendidikan pra-universitas sudah ad...

Ramadan 04: Jamaah yang Nyebelin

Gambar
Masjid itu tempat orang datang untuk menyucikan diri. Kita datang ke masjid karena kita merasa kotor dengan dosa yang kita perbuat dan berharap welas-Nya agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Datang bawa dosa, pulang bawa ampunan dan pahala. Rugi, kalau kita datang dan pulang tetap membawa dosa. Karena mereka yang ke masjid, seperti kita juga, bukan orang suci, maka jangan heran jika masjid juga tempat orang-orang 'nyebelin', the trouble makers. Saya pernah baca kisah teman saya yang pusing mikir jamaahnya karena urusan menyalakan atau mematikan kipas angin. Yang satu merasa kepanasan yang lain merasa kedinginan. Sebagai takmir, mana yang harus diakomodir? Tanpa melupakan diri sebagai orang yang berpotensi bikin sebel jamaah lain, ijinkan saya curhat tentang jamaah yang bikin saya sebel. Orang ini kalau ke langgar selalu bawa HP. Well , orang sibuk? Mungkin. Tetapi apa susahnya meninggalkan HP di rumah 10-15 menit. Toh kita hanya datang untuk salat berjamaah lalu pu...

Ramadan 03: Nasehat

Gambar
Biasanya, penceramah Ramadan seperti saya diundang untuk memberi nasehat. Untuk apa ceramah kalau tidak punya bobot nasehat? Pekerjaan seperti itu, tentu saja berat. Saya butuh waktu lama sekali untuk memutuskan mau menerima undangan-undangan memberi ceramah di masjid dan langgar sekitar rumah. Saya biasa menceramahi mahasiswa di kampus, tetapi merasa tidak pas untuk menceramahi masyarakat.  Pepatah Arab mengatakan lisan al-hal ablaghu min lisan al-maqal (pesan lewat teladan lebih mengena daripada pesan lewat lisan). Orang lebih mempercayai dan mengikuti apa yang kita teladankan daripada omongan berbusa-busa lewat mikropon musalla. Saya merasa, saya bukan tipe orang yang bisa memberi teladan. Tetapi saya marasa beruntung karena masyarakat ternyata tahu persis saya manusia biasa. Saya bukan ustadz, bukan kyai, dan bukan pula malaikat. Karena itu, kadang saya menerima nasehat dari jamaah. Oh, itu menyenangkan sebab: pertama , saya merasa dihargai dengan nasehat yang mereka...

Ramadan 02: Amal Maksimal Islam Minimal

Gambar
Memang, kenyataannya selalu begini: Ramadan bulan ibadah. Khususnya lagi, sepuluh hari pertama. Malam taraweh pertama semalam, langgar sebelah rumah penuh jamaah. Sampai tumpah keluar langgar dan menggelar tikar.  Padahal kami sudah memperluas langgar dengan dua saf. Pak Zainuddin MZ almarhum pernah mengkritik fenomena ini dengan mengatakan "semakin mendekati Idul Fitri, jamaah di masjid semakin mengalami kemajuan: maju saf-nya" Artis-artis yang tidak biasanya berjilbab, menutup tubuh rapat-rapat. Mereka tampak khusuk pula ikut acara-acara pengajian, minimal yang di TV. Sementara para penyanyi berlomba mengeluarkan musik religi. Di sekitar kita, mereka yang tidak biasa mengaji, selama Ramadan berlomba menamatkan al-Qur'an. Langgar dan masjid di sekitar kita ramai mengumandangkan bacaan al-Qur'an (tadarrus) sampai larut malam. Kadang sampai mengganggu tidur ibu-ibu yang harus bangun paling awal menyiapkan sahur (peduli amat, gue kan sedang syiar nih) Salahkah ...

Ramadan 01: Memulai Puasa

Gambar
Ramadan sudah tiba lagi. Kita bareng-bareng memulainya besok pagi. Tidak ada yang beda tahun ini. Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah (tiga yang paling penting karena paling banyak pengikutnya) akan memulai puasa pada tanggal 18 Juni 2015. Apakah mereka sudah rukun dan sepakat untuk menggunakan satu kalender? Oh, tidak. Ini kebersamaan akibat Om Hilal sendiri. Memang, selama Om Hilal tidak intervensi langsung, jangan harap pemerintah, NU, dan Muhammadiyah dapat bersatu dalam kalender tunggal. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Kemenag melakukan safari ke ormas-ormas Islam untuk menyatukan kalender. Tetapi sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda kesatuan itu. Pemerintah tetap dengan kriterianya, Muhammadiyah tetap dengan hisabnya, NU tetap dengan ru'yahnya. Tahun ini, intervensi Om Hilal membuat tiga mazhab itu berdamai. Om Hilal sengaja sembunyi total pada tanggal 29 Sya'ban. Ia berbaring di bawah ufuk hingga Muhammadiyah tak menemukan wujudnya dan, apalagi, NU tak bi...

Puasa 9 Dzul-hijjah, Harinya tidak Penting

Gambar
Tulisan berjudul " Puasa Arafah atau Puasa Mina " ini dimuat di koran Jawa Pos. Saya bukan pembaca Jawa Pos dan jujur tidak kenal kualifikasi si penulis untuk menulis topik yang para ahli Falak pun tidak menemukan kata sepakat. Dalam diskusi ahli, bahasanya argumentatif, punya dasar ilmu, punya dasar untuk mengatakan A dan B sebagai pendapatnya. Penulis yang satu ini, menggunakan argumen 'aneh': kata teman saya yang orang Mesir. Seolah-olah kalau sudah orang Arab yang ngomong, otomatis agamanya lebih benar daripada kita. Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang metode mana yang lebih tepat dalam menentukan kalender Hijriyah. Saya hanya akan mengomentari "sesat  pikir" yang dipakai dasar tulisan di Jawa Pos itu. Sumber masalahnya adalah: Saudi wukuf hari Jumat dan kita puasa Arafah hari Sabtu. Masalah ini timbul secara tidak sadar karena orang, penulis artikel dan kebanyakan orang, mengabaikan fakta bahwa kita tengah mencampuradukkan dua si...

Catatan Ramadhan (29): Terimakasih

Gambar
Scene 1  Perempuan itu naik pesawat sudah belakangan. Ia tergopoh-gopoh mencari tempat duduk. Begitu mendapatkan, kepanikan berikutnya adalah ia tidak mendapatkan kabin kosong di atas deretan kursinya. Tetapi, beruntunglah, lelaki yang ada di dekatnya segera tanggap. Si lelaki berdiri, dan perempuan itu bilang, "Tolong mas, tolong ini." sambil susah payah ia berusaha mendorong kopernya masuk ke kabin. Tahu kabin itu sudah tidak cukup, si lelaki dengan baik hati mengangkat koper itu di memasukkannya di kabin kosong di depan, sekitar dua baris dari tempat duduk si perempuan. Si lelaki kembali dan duduk di samping perempuan yang tak dikenalnya itu. Saya dengan serius mengamati untuk membuktikan dugaan saya karena melihat tingkah pulah si perempuan sebelumnya. Ya, sesuai dugaan saya, perempuan itu tidak mengucap sepatah kata terimakasih atas bantuan si lelaki. Halaman rumah mertua saya (atas); gerbang berbatu (kiri-bawah) Scene 2 Mertua saya tinggal di kampung kecil deng...

Catatan Ramadhan (28): Mercon bin Petasan

Gambar
Semalam saya terbangun dari tidur nyenyak saya, kaget luar biasa. Sebuah ledakan besar mengusik ketenangan pukul 02.30 malam. Selama Ramadhan, di Bantul, hanya satu hal yang sering membuat kami terjaga sebelum waktunya: salah satu jamaah langgar yang niatnya beribadah tetapi caranya salah! Ia membaca al-Qur'an dengan membunyikan pengeras suara (toa) sehingga semua penghuni kampung mendengar alunan Qur'annya yang tidak merdu itu! Saya baru sadar, ini bukan Tamanan, Bantul. Saya sedang tidur di Pejagoan, Kebumen, di sebuah kampung di bawah kaki bukit di dekat Sungai Luk Ulo. Ledakan itu bukan ledakan bom teroris, tetapi... halah ...ledakan mercon besar yang disulut anak-anak depan rumah mertua saya. Kalau orang mengaji di tengah malam saja kita ributkan, masak mercon perlu kita anggap hal biasa? Yah. Apa boleh buat. Di sini mercon hal yang biasa, dan jangan harap ada satu orang pun yang akan keluar rumah dan menjewer anak-anak itu. Malah, boleh jadi, orang akan heran deng...

Catatan Ramadhan (27): Mudik dengan Teknologi

Gambar
Pernah dengar Waze? Applikasi Android ini kira-kira 2 bulan yang lalu dibeli Google . Dan dari kabar pembelian itulah saya mengetahui dan penasaran dengan fungsinya. Dua tahun terakhir, saya selalu menggunakan Google Map untuk menemani perjalanan ke luar kota dan mencari jalur-jalur alternatif untuk pulang kampung. Google Map versi mobile menyediakan fungsi realtime  navigasi sebagaimana layaknya GPS. Jadi, buat apa Google membeli Waze? Waze adalah aplikasi peta dan navigasi yang kurang lebih sama dengan Google Map. Bedanya, Waze adalah alat navigasi berbasis jejaring sosial. Pengguna Waze (disebut  wazer )   bisa saling bantu menginformasikan kondisi jalan raya secara realtime: kemacetan, kecelakaan, pengalihan jalan, bahkan bila perlu kalau ada operasi pak polisi dan Anda lupa bawa SIM! Dari segi fitunya, Waze jelas kompetitor Google Map dengan sejumlah fitur unggulan yang tak dimiliki Google Map. Awalnya, saya mengira Waze hanya akan berfungsi maksimal untuk wila...

Catatan Ramadhan (26): Mudik Lagi

Dari zaman sekolah dulu, saya, seperti kebanyakan dari kita, termasuk golongan orang-orang yang ribut mudik. Sejak SMA, saya menempuh pendidikan di  luar kota: di Jember, di Solo, di Jogja, lalu di Jakarta. Oh, tentu di Seattle, Amerika yang tidak akan saya hitung dalam daftar tradisi mudik. Saya hanya punya agenda sederhana saja soal mudik itu: pulang kampung. Titik. Saya tidak pernah serius memaknai mudik dengan hal-hal yang terlalu religius, atau menafsirkannya secara filosofis dan sosiologis. Mudik, ya mudik: pulang untuk berlebaran, dan menunaikan seluruh kewajiban tradisi lebaran yang diajarkan desa saya sejak kecil: silaturrahim ke sanak famili dan tetangga kanan kiri. Sewaktu kuliah, ada teman dari Padang yang saya tanya, sebagaimana semua juga bertanya di akhir-akhir Ramadhan, "kapan mudik?" Tetapi bukannya jawaban sederhana soal hari dan tanggal saya memperoleh jawaban panjang, khas jawaban essai soal ujian akhir semester: Saya tidak mudik. Mudik itu "cuma...