Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

5 Alasan Anda Harus Punya Dokumen Digital

Gambar
Beberapa hari yang lalu, saat mudik, saya harus opname di sebuah rumah sakit. Tidak ada makan siang gratis, apalagi opname. Sebagai peserta ASKES/BPJS tentu saya ingin menggunakan fasilitas itu. Ada tiga syarat yang harus saya penuhi sebelum keluar dari rumah sakit: 1. Fotokopi Kartu Keluarga 2. Fotokopi KTP 3. Fotokopi Kartu ASKES (yang belum saya ganti dengan BPJS) Pernahkah Anda bawa dokumen-dokumen seperti itu (kecuali KTP) saat mudik atau bepergian jauh? Lazimnya, tentu tidak kita bawa. Nah bagaimana saya bisa menyerahkan dokumen yang diperlukan? Pulang ke Jogja? Tidak perlu. Sebab, apa pun dokumen yang diperlukan dan untuk keperluan apa pun, saya selalu ‘membawanya’. Ijazah TK sampai Universitas, KTP, C1, kartu registrasi semua rumah sakit yang saya miliki, apa pun lah pokoknya tinggal ‘klik’. Semua dokumen ada di Dropbox dan tinggal kita pilih mau diakses lewat apa: HP, tablet, atau komputer. Cara penggunaan Dropbox baca di sini Cara penggunaan Google Drive baca di sini...

Guru dan Dosen Tidak Cuti Bersama, Tidak Ngantor Hari ini

Gambar
Hari ini semua PNS yang ikut cuti bersama (garis bawahi ya, yang ikut cuti bersama ), wajib masuk kantor. Tentu saja kalau Anda sedang cuti hamil atau cuti tahunan, maka Anda boleh saja masuk sesuai jadwal cuti Anda. Kalau cuti hamil Anda masih satu bulan lagi, ya nggak perlu masuk, nggak perlu takut disebut indisipliner. It's that simple. Demikian juga Anda, PNS yang tidak ikut cuti bersama karena peraturan tidak memberi hak Anda. Menurut SKB tiga menteri, ada dua golongan PNS yang tidak dapat cuti bersama: guru dan dosen. Ya, jangan kaget, peraturannya berbunyi begitu: Karena Guru dan Dosen dikecualikan dari cuti bersama dalam SKB tiga menteri tahun 2012, maka Anda juga tidak wajib masuk bersama mereka yang cuti bersama. Terus? Ya, tergantung. Menurut SKB tesebut, guru dan dosen tidak ikut cuti bersama karena guru dan dosen sudah mendapat liburan mereka seperti diatur oleh Pasal 8 PP 24/1976. Pasal dimaksud, sayangnya tidak membantu menjelaskan hak cuti/libur guru dan do...

Ramadan 28: Ziarah

Gambar
Suatu ketika, teman ngobrol yang baru saya kenal di bandara Adisucipto, bertanya, "Mas, untuk apa mayit dibacakan talqin ? Apakah mayit bisa mendengar? Apakah penyusun talqin pernah mati sehingga ia tahu pertanyaan malaikat?" Saya tidak tahu apakah kenalan baru saya ini orang puritan dengan keyakinan bahwa talqin itu bid'ah atau orang awam yang bertanya karena rasa ingin tahu. Apa pun ia, saya tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan cara orang NU membela diri. Ini jawaban saya: Talqin dibacakan untuk mereka yang hidup. Keluarga mayit dan para hadirin yang kelak mati. Talqin adalah pengingat bahwa kematian bukan akhir urusan. Kematian hanya permulaan perjalanan, yang lebih jauh, yang lebih panjang, dan jika kau tak membawa bekal, menjadi perjalanan yang menyengsarakan! Untuk bekal kematian, engkau perlu iman, perlu kenal Tuhan, dan kenal Sang Utusan. Sebab, merekalah sebaik-baiknya teman perjalanan dalam kematian. Pesan seperti itu kapan saja bisa diajarkan. Di ...

Ramadan 26: Mbah Kung Mudik

Gambar
Blitar, September 2014 Dalam hidup ini, hanya satu Mbah Kung yang dapat kukenal. Mbah Kaji Irsyad, orang tua bapakku, sudah meninggal sejak bapak masih muda. Pamanku pun tak sempat mengingat wajah bapaknya. Karena hanya satu Mbah Kung, kami tidak perlu menambah kata sifat lagi di belakang julukannya.  Eh , Mbah Kung juga sudah tidak perlu tambahan kata sifat karena sifat-sifat baiknya selalu kudengar dari orang-orang yang mengenalnya. " Mbahmu ki grapyak semanak, ahli silaturrahim!". Di jaman belum ada komputer, Mbah Kung mencatat sendiri nama-nama keturunan Bani Nuriman. Aku tidak tahu siapa yang mengetik, tetapi buku daftar keturunan Eyang Nuriman tercatat dengan baik hingga keturunan ketujuh (aku dan segenerasiku). Buku Bani Nuriman diperbarui, diperbanyak dan disebarkan Mbah Kung setiap menjelang haul. Dari buku nasab dan cerita-cerita Mbah Kung, kami tahu asal-usul eyang kami: seorang Prajurit Diponegoro, yang lari ke wilayah Kediri dan berasal dari Bagelen Purwo...

Ramadan 20: Kampung Para Dermawan

Gambar
Sebulan menjelang Ramadan, Pak Wahadi dan Pak Ponijo dari Bantengan selalu memintaku untuk bersedia dijadwal datang taraweh dan bukber di musala mereka. Lima tahun lalu, pertama kali saya datang ke kampung kecil itu, musalla mereka juga masih kecil. Bangunannya masih baru dan tampak jelas dari jalan raya karena dibangun di tepi sawah yang sedikit terpisah dari kampung jamaahnya. Sebagai warga pendatang, saya tidak tahu banyak riwayat keislaman kampung yang dihuni 75 KK ini. Tetapi Bantengan tidak sesantri tempat asal saya di Blitar. Kesan ini dapat dengan mudah ditangkap dari daftar nama warga setempat yang dijadwal menjadi imam dan penceramah mereka: tak satu pun bernama baptis "muhammad" atau "imam" seperti nama-nama di kawasan santri. ADa satu dua nama Arab, itupun berbau Jawa seperti Pak Amat, bukan Ahmad. Pun demikian, jamaah Musala al-Hidayah di Bantengan selalu membuat saya kagum. Mereka benar-benar 'berkembang'. Musala yang dulu kecil, kini sud...

Ramadan 19: Maling-maling Kecil

Gambar
Kelas di sekolah anakku heboh. Salah satu murid baru kehilangan uang yang ditaruh di tasnya. Tahun ajaran baru. Murid-murid baru, di kelas satu. Sekolah baru berjalan empat hari. Tetapi 'kejahatan' sudah terjadi. Tentu saja tidak ada yang mengaku. Sewaktu bu guru bertanya, semua membisu. Kelas pun sunyi tanpa suara. Kecuali hati anakku. Ia tahu 'pengambilnya', tetapi tidak tahu apa yang harus dilakukkannya. Si 'pengambil uang', apalagi, melotot sambil melempar isyarat dengan jari di bibirnya, "hushh!!". Anakku kenal si  bocah pengambil uang karena mereka sudah bersama sejak TK. Ulah si bocah yang ' lewat batas'  bukan yang pertama. Kata anakku, waktu di TK  bocah  itu sering menyembunyikan mainan milik sekolahan dan di bawa pulang. Tetapi, setahu anakku, mencuri uang baru sekarang. *** Saya lebih suka menyebutnya bocah pengambil uang. Masak sih anak sekecil itu disebut maling? Dalam Fiqih, anak usia tujuh tahun baru memasuki tahap tam...

Ramadan 18: Cara Melatih Anak untuk Tidak Jujur

Gambar
Buku Laporan Kegiatan Ramadan Puasa itu harusnya mengajari kita jujur. Entah berapa kali harus diceramahkan. Berapa kali harus dikhutbahkan. Berapa kali harus diingatkan. Berapa tahun saya sudah mendengar ajaran ini: puasa melatih kejujuran. Bosan, sampai. Konon, dalam ibadah lain kita bisa berbohong dan menjadi munafik. Sholat bisa pura-pura. Haji bisa dipasang gelarnya. Zakat dan sedekah bisa dipamerkan. Tetapi puasa tidak. Kau bisa saja pura-pura lapar. Pura-pura lemas. Pura-pura haus. Tetapi kau tahu pasti, kau hanya pura-pura puasa. Karena puasa ibadah hati. Ibadah sunyi, mestinya. Tetapi, sejak jaman Nabi pun sudah diingatkan. Berapa panyak dari kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Megap-megap melawan godaan makanan dan minuman, tetapi tunduk kepada perilaku hewan. Malam itu. Seperti malam-malam lain. Anak-anak mengerumuniku sehabis salat taraweh. Mereka membawa buku-buku laporan yang ditugaskan sekolah mereka. Saya selalu memanfaatkan waktu untuk menyapa mereka: s...