Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Hentikan Fitnah Itu!

Gambar
Saya tidak anti-kritik. Makanya saya mulai lebih menyimak narasumber TvOne yang anti-Jokowi untuk mendengarkan kritik. Dalam banyak hal, seperti mewakili sikap bosnya, TvOne sudah mulai lebih baik daripada saat kampanye lalu: memaparkan fakta, memuji yang perlu dipuji, mengkritik yang perlu dikritik. Dalam hal-hal ini, saya lebih suka TvOne daripada MetroTv yang mulai menjadi "juru bicara" pemerintah, menjadi semacam TVRI era Soeharto. Tidak ada kritik, bahkan kadang mulai memuji berlebihan. Bukan hanya TvOne, Pak Prabowo pun sudah sangat " move-on ". Saya sebenarnya tidak terkejut melihat sifat kestria Prabowo: mau bertemu Jokowi, pada akhirnya, hanyalah pembenar dari apa yang saya yakini sejak masa debat presiden lalu: Pak Prab orang baik, sayangnya ia dikerubuti "Sangkuni" yang menitis ke banyak orang jahat di sekitarnya. Tadi saya baca berita soal Prabowo yang bertemu JK dan secara khusus menyampaikan permhonan maaf atas apa yang telah terjadi sela...

Bahaya "Madzhab Agama tanpa Akal"

Gambar
Tidak hanya sekali saya menemukan pemikiran "bunuh akalmu dalam beragamamu" di mimbar khutbah Jumat. Di kampung saya, ada dua khatib yang suka mengulang-ulang mantra anti akal ini. Di masjid kampus UIN Sunan Kalijaga, saya pernah mendengar khutbah semisal dari teman sejawat saya, Okrisal Eka Putra, M.Ag. Hari ini saya baca di status teman dosen lainnya, Dr. Musthofa. Untuk tiga khatib yang saya sebut, saya tidak bisa memprotes karena khutbah Jumat tidak bisa didebat. Untuk Pak Musthofa, saya akan menulis lebih panjang dari sekedar mengomentari statusnya di Facebook. Pak Musthofa, sebagaimana para khatib, menulis demikian: Status itu banyak diamini orang, kalau ukurannya tombol "like" di Facebook. Mayoritas mahasiswa kami di KPI, tetapi ada juga Pak Kholili. Saya sendiri senyum-senyum saja awalnya membaca status itu. Sederhana sekali. Pak Musthofa, kalau pemahaman akal tidak boleh digunakan dalam agama, tolong jawab pertanyaan saya: Hadits Nabi yang sampeyan...

Puasa 9 Dzul-hijjah, Harinya tidak Penting

Gambar
Tulisan berjudul " Puasa Arafah atau Puasa Mina " ini dimuat di koran Jawa Pos. Saya bukan pembaca Jawa Pos dan jujur tidak kenal kualifikasi si penulis untuk menulis topik yang para ahli Falak pun tidak menemukan kata sepakat. Dalam diskusi ahli, bahasanya argumentatif, punya dasar ilmu, punya dasar untuk mengatakan A dan B sebagai pendapatnya. Penulis yang satu ini, menggunakan argumen 'aneh': kata teman saya yang orang Mesir. Seolah-olah kalau sudah orang Arab yang ngomong, otomatis agamanya lebih benar daripada kita. Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang metode mana yang lebih tepat dalam menentukan kalender Hijriyah. Saya hanya akan mengomentari "sesat  pikir" yang dipakai dasar tulisan di Jawa Pos itu. Sumber masalahnya adalah: Saudi wukuf hari Jumat dan kita puasa Arafah hari Sabtu. Masalah ini timbul secara tidak sadar karena orang, penulis artikel dan kebanyakan orang, mengabaikan fakta bahwa kita tengah mencampuradukkan dua si...

Soeharto, Desy ratnasari, dan Pembunuhan Imaji

Gambar
Lagu itu berjudul "Takdir". Ia dilantukan dengan vokal pas-pasan Desy Ratnasari, artis yang sedang populer lewat dunia peran dan setengah memaksakan diri menyanyi. Liriknya mendayu. Tema yang saat itu, entah kenapa, membuat rejim Soeharto gerah. Beberapa lagu yang digolongkan dalam 'genre' ini diberangus, seperti lagu super hit "Hati Yang Luka" yang dilantukan Betharia Sonata. Salah satu yang masih saya ingat, lagu-lagu itu dilarang karena dianggap sebagai lagu "cengeng", tidak mendidik dan mungkin dianggap sebagai elemen penghambat dalam memajukan bangsa (mungkin sih). Lagu Desy Ratnasari, di sisi lain, dianggap lebih parah daripada lagu cengeng. Lagu "takdir" mengusik orang-orang di MUI karena lagu itu dianggap menyalahkan Tuhan. Coba perhatikan liriknya, khususnya di bagian refrain: SEUNTAI HARAPANKU UNTUK MENCINTAIMU PUPUS SUDAH KASIH BERLALU TINGGALKAN KENANGAN KAU DAN AKU MEMANG KITA BERBEDA AKU ORANG BIASA MUNGKIN TA...