Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2014

Tak Perlu Membela Jokowi

Gambar
Koran pagi ini Selama masa kampanye hingga akhirnya diketok palu KPU, entah berapa kali saya menerima kritik atas sikap terbuka saya, atas pilihan saya, dan atas keberpihakan saya pada Jokowi. Akhirnya, setelah semua hiruk pikuk usai (ah, anggap saja usai, biarkan yang ribut itu melanjutkan keributannya sendiri), saya perlu menuliskan latar belakang pilihan politik saya. Saya jelaskan di blog ini, dalam benak saya, minimal untuk dibaca anak-anak saya kelak ketika mereka dewasa dan mungkin akan menghadapi hal-hal yang serupa di masa depan. Sebagian dari sikap politik saya hari ini, jujur saja, dibentuk oleh pengalaman bapak saya. Sebagian pengalaman itu ditanamkan lewat diskusi-diskusi kecil kapan pun waktunya memungkinkan, sebagian lewat kesaksian pada kegiatan politik di rumah kami, di lingkungan kami, dan (yang bapak sendiri mungkin tidak tahu) dari catatan-catatan buku harian di masa muda bapak yang secara tidak sengaja saya temukan di anatar buku-buku bekas di almari rumah....

Untuk apa lagi berbohong?

Gambar
Saya terpaksa menulis lagi. Saya menulis bukan karena getol membela Jokowi seperti yang dituduhkan beberapa teman saya. Sungguh, soal Jokowi saya sudah menyerah. Biar kalah, biar menang, #akurapopo. Kalau saya menulis sekarang, karena saya sedang melawan kebohongan yang disebarluaskan dan mendapat ratusan LIKE di Facebook. Saya mendapatkan gambar berikut awalnya dari status salah seorang teman. Kemudian saya cari asal-usul gambar ini dan menemukan puluhan akun yang mengupload gambar ini lewat Twitter, Facebook, dan Kaskus. Sumber tertuanya (13 Juli) ada di Kaskus , diposting oleh akun ardezzo yang pp-nya bergambar " Pray For Gaza " persis seperti yang dipakai Junro yang suka sebar propvokasi itu. ah.. . PKS lagi yang nyebar Tetapi, jangan kira kampanye luhur untuk Gaza itu seluhur kampanye deligitimasi Kompas, LSI, TVRI dan pembelaan terhadap IRC yang ia tampilkan dalam gambar berikut: Pesan kampanye ini jelas: orang curang tidak bisa mengalahkan kita . Saya ...

Quick Count bisa dipercaya, kecuali QC pesanan!

Gambar
Perang kita sekarang pindah. Kata Pak Mahfud, adu klaim kemenangan  quick-count itu bagian dari "Cyber War"  (yang bener, kata timses Prabowo psywar ). Setelah banjir fitnah dan berita miring menjelang pilpres lewat social media dan televisi, kini peperangan dipindah ke  quick count. Tentu saja, nadanya sama. Satu pihak berpikir positif terhadap hasil-hasil quick count lembaga independen, lainya bilang " quick count tidak bisa dipercaya". Saya menemukan kampanye semisal ini beredar di Facebook. Apa pesan dari kampanye ini? Ada tiga pesan yang ingin saya garis bawahi. Pertama: Tunggu Saja KPU! Pada dasarnya saya setuju. Keputusan akhir toh ada di tangan KPU. Tetapi, saya ingin ingatkan keputusan KPU itu adalah keputusan politik, kebenaran angka yang dikeluarkan KPU adalah 'angka politik', dihasilkan dari sebuah proses politik, mulai dari pencoblosan, penghitungan di TPS, hingga rekapitulasi data nasional. Saya menekankan pen...

Dapatkah Google memprediksi Pemenang Piplres 2014?

Gambar
Data prilaku pengguna internet dalam menggunakan mesin pencari Google telah dimanfaatkan untuk banyak hal. Salah satunya, yang cukup mengesankan, untuk memetakan penyebaran penyakit fluberbagai belahan dunia. Google bahkan sudah mendedikasikan halaman khusus di sini  http://www.google.org/flutrends/ Beberapa tahun terakhir, data Google juga secara 'menarik' digunakan untuk membaca dunia politik. Di artikel dalam tautan ini , kita bisa melihat korelasi antara data trend Google dengan kemenangan para capres dalam tiga pemilu terakhir di Amerika Serikat. Screen capturenya dapat saya sajikan sebagaimana berikut: Sesuai dengan data Google, Bush memenangkan Pemilu 2004 sedangkan Obama 2008 dan 2012. Perlu kita ingat, bahwa sistem pemilu di Amerika pada dasarnya bukan pemilihan langsung. Namun demikian, Google tetap bisa meprediksi dengan baik. Di Indonesia, kita belum tahu polanya. Saya mencoba simulasi data pada Pilpres 2009. Kita bisa menemukan data trend SBY, tetapi...

Jokowi itu Kristoff

Gambar
Dalam sejarah pemilihan langsung, kita belum pernah memilih presiden sipil. Dua kali coblos langsung, dua kali rakyat memilih militer (SBY). Salah satu faktor kemenangan SBY adalah fisiknya yang menyimbolkan raja-raja dalam dongeng: gagah, tampan, berwibawa, dan terpenting -- seperti dalam dongeng -- jagoan perang.  Karena para pemimpin negeri dongeng (dari Mahabarata, Ramayana, sampai Saur Sepuh dan Hatim) selalu punya keunggulan fisik dan jagoan perang, maka pemimpin seperti itulah yang dipilih langsung oleh rakyat dalam dua pemilu sebelumnya. Ah, jangankan rakyat umumnya, kita dengar orang-orang pintar, professor, pun mengatakan hal itu belum lama ini (presiden itu harus tampan, gagah, nggak klemak-klemek). Seandainya SBY diberi kesempatan maju lagi, saya kira beliau bisa mengalahkan Prabowo. SBY lebih gagah, lebih tampan, lebih bersih masa lalunya, berlatar belakang keluarga yang baik (mertuanya jenderal terhormat, keluarganya utuh dan punya anak yang ganteng-ganteng...

Pak Quraish Shihab Idola Kita

Gambar
Prof. Dr. M. Qureish Shihab adalah sosok penceramah yang dari segi kapasitas ilmu tidak ada bandingannya di TV. Bahkan, dari segi keilmuan tafsir, saya kira beliau pun kini menjadi ahli tafsir terdepan di Indonesia. Karya-karya dalam bidang keilmuan al-Qur'an dan Tafsir yang sudah diterbitkan menjadi rujukan penting di Indonesia. Saya belum pernah riset seberapa laris buku-bukunya, tetapi dari data yang saya miliki, buku Membumikan al-Qur'an  sudah cetak ke-13 pada tahun 1996 (ada yang tahu apakah buku itu masih dicetak ulang sampai sekarang?) Dengan keunggulannya tersebut, mestinya tidak mengejutkan bila dalam survei ini Prof. M. Qureish Shihab berada di urutan pertama, menang telak dibandingkan para saingannya. K.H. Zainuddin M.Z. yang dikenal sebagai dai sejuta umat saja muncul di tempat kedua dengan perolehan suara separoh dari Pak Qureish. Dua nama terkenal itu disusul oleh Aa Gym ditempat ketiga, yang berbagai kursi dengan dai fenomenal yang namanya mulai berkibar dalam...

Ah, Si Kotak Ajaib itu!

Gambar
Anda pernah dengar gerakan matikan TV satu hari. Saya punya teman yang emoh TV sama sekali. Anda pernah membaca tulisan-tulisan tentang... hiii, " bahaya TV bagi anak-anak ". Atau artikel tentang bahaya TV bagi otak seperti dalam artikel ini . Apa pun deh, banyak hal negatif yang sering dibicarakan orang tentang kotak ajaib itu! Hanya saja, kita harus terima bahwa ternyata TV adalah tempat belajar agama kedua setelah masjid. Mungkin TV berbahaya bagi anak-anak, tidak untuk orang dewasa. Seperti aturan minum alkohol di Amerika itu. Orang dewasa boleh mabuk, anak-anak wajib  menjauhinya. Orang tua boleh mabuk TV, anak-anak wajib menghindarinya. Sebulan sebelum Ramadan, TV kita sudah berlomba mengiklankan acara-acara Ramadan unggulan mereka. Sinetron terbaru. Film ruhani. Lomba dai dan hafiz. Mungkin juga kelak akan ada lomba taqwa. Apa pun yang bisa dijual di Ramadan diiklankan, termasuk makanan dan minuman yang konon bisa menambah kualitas puasa kita. Begitu Ramadan, s...

Topik Ceramah Favorit Jamaah

Gambar
Kalau diperhatikan, para ustadz kita di TV seperti orang pemasaran. Mereka ambil segmen tertentu dan dengan tema tertentu. Ada ustadz yang kemana-mana 'jualan' tangis, ada yang 'jualan' sedekah, ada yang jualan 'curhat', ada yang 'jualan' istighfar, dst. Mereka bisa eksis, kata ahli marketing, karena mereka spesifik dengan 'produknya'. Pertanyaan saya di survei tidak secara khusus diarahkan pada spesifikasi produk. Nanti, dalam pertanyaan tentang dai/ustadz favorit toh akan kelihatan juga kecenderungan ke arah itu. Pertanyaan saya buat lebih umum, lebih terbuka agar kita bisa menjajaki tema-tema apa yang menarik menurut jamaah Facebook dan mencerminkan apa. Saya akui, pertanyaannya agak 'bermasalah' dari segi kategori ketat karena bisa jadi masing-masing pilihan tumpang tindih. Seorang responden bahkan mengisi "suka semuanya" karena saking susahnya membedakan antara topik yang satu dengan yang lain. Jadi.... mohon maaf ya ka...

Hujan Siraman Rohani

Gambar
Apakah hujan ceramah di bulan Ramadan bisa mengakibatkan masuk angin? Kita mungkin perlu mengajukan pertanyaan susulan seperti itu dalam survei ceramah kita. The golden rule  is, 'apa pun itu kalau terlalu banyak ya tidak baik'.  Dulu ada tiga orang yang datang kepada Nabi untuk 'pamer' kesalehan. Orang pertama bilang, ia puasa terus setiap hari. Orang kedua tidak mau kalah, ia tak pernah tidur di malam hari karena sibuk salat malam. Sementara orang ketiga bilang ia rajin beramal saleh sampai-sampai tak perbah mengumpuli istrinya. Nabi senyum-senyum. "Ini nggak gue banget..." mungkin begitu yang ada di dalam hati beliau. Kemudian dengan halus menegur mereka. "Aku nih Nabi. Meskipun puasa, tapi tidak tidap hari. Aku juga bangun malam, tapi ya tidur dulu. Aku punya istri, dan aku pun menghabiskan sebagian waktuku bersama mereka. Dalam dirimu, ada hak perutmu untuk makan, hak matamu untuk tidur, dan hak istrimu untuk digauli."  Beragama yang...

Waktu Ceramah Agama Ideal

Gambar
Survei jamaah Facebook menunjukkan bahwa ceramah agama sebaiknya tidak lebih dari 15 menit. Hanya 1 responden yang memilih 30 menit sebagai waktu yang ideal. Dengan jumlah yang hampir berimbang, 29 orang responden memilih 7 menit dan 22 responden memilih 15 menit. Saya kira, hasil survei ini sudah relatif diduga sebelumnya. Kita tahu bahwa waktu-waktu Isya di bulan Ramadan adalah waktu yang secara fisik kita juga tidak cukup prima untuk mengkonsumsi informasi seperti ceramah. Kalau tidak karena capek karena seharian bekerja, perut kita juga sedang kenyang dan menyebabkan kantuk. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan oleh seorang penceramah di sini: Pertama, jangan terlalu panjang membaca 'khutbah' atau 'muqaddimah'. Saya pernah menghitung waktu yang dibutuhkan oleh seorang ustadz untuk mengucapkan hamdalah, syukur, dan salawat kepad Nabi bisa sampai 5 menit sendiri. Kalau cermahnyanya 7 menit dan pembukaan 5 menit, apa yang bisa kita sampaikan? Cukuplah ...

Latar Belakang Survei

Gambar
Mengapa survei? Seperti pernah saya sebutkan, sebagai dai amatir, setiap Ramadan saya mendapatkan kepercayaan untuk mengisi ceramah di sejuumlah masjid, mushalla, dan sebuah stasiun radio. Dalam kapasitas sebagai pendengar ceramah, saya sering menemukan dai-dai yang ceramahnya tidak menarik, menarik tetapi salah topik (acaranya mauludan tetapi topiknya salat lima waktu), salah audiens (topiknya tasawuf di acara bukber anak-anak masjid), dan seterusnya. Saya tidak ingin mengalami apa yang dialami para dai itu. Meski untuk menghindari kesalahan yang sama 100 persen juga tidak mungkin, minimal saya berusaha agar ketika diminta ceramah saya bisa memberikan yang terbaik: pas topiknya, pas penyajiannya, pas waktunya, pas audiensnya, dan seterusnya. Tetapi kepada siapa saya belajar?  Saya kira, saya bisa belajar langsung ke audiens saya. Andai memungkinkan, saya akan sebarkan survei di masjid dan langgar tempat saya ceramah. Atau, meminta pendengar radio untuk mengirimkan SMS. Dua...