Ilmu Agama dan Ilmu Manusia
Saat saya di Madrasah Aliyah yang mengambil jurusan khusus keagamaan, kami dibekali apa yang mungkin disebut sebagai ilmu keulamaan. Ilmu alat dasar seperti nahwu dan sharf, ilmu dasar tafsir (ulumul Qur'an), ilmu dasar Hadits (ulumul Hadits), ilmu Fiqh dan Usul Fiqih, juga ilmu kalam dan sedikit tasawuf, dan kami setiap hari bergulat dengan berbagai diskusi tentang masalah masalah keislaman dengan bekal ilmu ilmu dasar itu. Seolah olah, itu cukup. Lalu, saya menjadi sadar itu belum cukup karena persoalan agama tak pernah bisa berhenti pada teks dan pendekatan teks. Di IAIN, untungnya, kesadaran itu adalah mainstream. Buku Tafsir Kontekstual karya Taufiq Adnan Amal, misalnya, menandai momentum kesadaran bersama itu. Catatan saya hari ini bukan sesuatu yang baru bagi orang-orang IAIN. Saya tulis untuk pembaca Facebook yang lebih luas. Intinya. Kita harus membaca melampaui teks. Salah satunya, membaca teks sebagai manusia. Lho? Memang selama ini kita membaca sebagai apa? Kita mem...