Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Kulina Terbiasa

Gambar
Kemarin saya bersepeda ke timur, menelusuri sawah, kemudian mendaki perbukitan selatan Piyungan. Tanpa rencana pasti, saya mencoba sebuah jalan cor baru yang menurut perkiraan ke arah Puncak Sosok. Sekitar 500 meter jalan, ternyata jalur itu berbelok ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Piyungan. Halah , balik ke sini juga batinku. Saya tetap lanjut ngonthel, mengikuti jalan menembus TPA. Bau busuk menusuk segera tercium. Bahkan setelah saya keluar dari kawasan TPA, bau itu masih tercium di kampung-kampung sebelah selatan yang berjarak lumayan jauh. Saya sempat buka masker untuk memastikan bahwa bau itu memang masih ada dan bukan kaena nempel di masker saya. Saya jadi mikir bagaimana orang-orang ini bisa hidup di lingkungan demikian? Saya yang cuma lewat hampir muntah tidak kuat. Pas terakhir lewat beberapa bulan lalu, seingatku baunya tidak separah hari ini. Ini luar biasa busuknya. Nggak kebayang bisa hidup di tengah bau seperti itu. Tetapi saya segera teringat mudik lebaran kemarin....

Butuh Layanan vs Butuh Cepat

Gambar
Sebagai dosen, saya sering bertemu mahasiswa yang butuh cepat. Jam ini stor naskah, malam atau besok pagi sudah bertanya: Apa yang perlu saya perbaiki Pak? Sudah ACC belum Pak? Teknologi komunikasi melatih kita untuk mendapatkan sesuatu serba cepat.  Tahun 1980an, pacar Iwan Fals mengabari kedatangannya dengan kereta, dua hari sebelumnya. Kabar dikirim via Telegram, teknologi kirim pesan tercepat pada saat itu. Pacarnya mungkin mendadak ingin main ke Jakarta dan baru bisa kirim kabar h-2. Kereta pun juga lambat dan sering terlambat. Dua jam sudah biasa! Lalu kita mulai mengenal email, SMS, dan sekarang WA dan sejenisnya. Ringkas cerita, pesan kita kirim, balasan langsung kita dapat. Kita lalu terbiasa agar semua hal seperti itu adanya. Cepat dan instant,  termasuk untuk pekerjaan-pekerjaan yang quality oriented dan tidak mungkin 'instant'. Skripsi dikirim hari ini pukul 9, contreng biru ganda pukul 10, maka ... "dosen sudah baca skripsiku". Rumangsamu   bro! Tentu y...

Orang Aneh

Gambar
Menurut perasaan saya, maaf kalau salah, saya sudah lama sekali menghilangkan kata bodoh, atau orang bodoh, dari benak saya. Kadang saya masih misuh sih, 'goblok!' begitu. Selain tidak di depan umum, pisuhan itu lebih sering muncul sebagai respon atas perbuatan seseorang, bukan sebagai sifat orangnya. Misalnya, ada mobil Pajero berhenti di tengah jembatan, buka pintu, buang sampah! Sulit bagi saya untuk tidak menyebut prilaku itu sebagai goblok.  Jadi, 'bodoh' dalam pengertian yang dulu sering digunakan untuk menyebut siswa rangking 1 dari belakang, bisa membaca paling akhir, susah diajari matematika, sudah lama saya buang. Sejak menggeluti dunia 'difabilitas', saya diajari untuk melihat mereka sebagai orang yang berbeda cara, berbeda keahlian, berbeda minat. Kalau saya ketemu mahasiswa yang susah sekali dibimbing untuk mengerjakan skripsi, sama sekali saya tidak punya fikiran dia bodoh. Ia hanya punya keahlian berbeda. Saya lihat, ia pintar main gitar, aktif di...

Hitam Putih

Gambar
Salah satu teman saya cerita, setelah berhari-hari menonton berita tentang Afghanistan, anaknya bertanya, "Who are the good guys? Who are the bad ones?" Anak itu ingin menonton Afghanistan seperti kita menonton film-film action. Ada pahlawan, ada penjahat. Ada hero, ada villain. Tetapi, dia tidak sendiri bukan? Banyak orang saya lihat juga menggunakan pendekatan yang sama. Hitam putih. Pokoknya Taliban itu jahat, tidak bisa dipercaya, sampai kepada anggapan Taliban sama dengan ISIS. Pertarungan kekuasaan di Afghanistan adalah pertarungan antara Avengers yang kalah melawan Thanos. Baik. Saya tidak ingin mengajukan narasi sebaliknya. Taliban adalah pahlawan. Sama sekali tidak. Saya tidak menyukai ideologi mereka. Titik. Tetapi saya ingin kita ganti kacamata saja. Pertarungan politik dan kekuasaan itu di mana pun sama saja. Abu-abu. Masak kita tidak bisa belajar dari pilpres kemarin? Si Orang baik apa baik banget sampai perlu dibela segitunya? Dalam ruang-ruang perebutan kekuasa...

Tidak Manusiawi

Gambar
Menjadi dosen itu gampang sekali untuk jatuh menjadi monster, AKA tidak manusiawi.  Ada kasus anak yang mau ujian skripsi, tetapi tiba-tiba baru tahu kalau ada satu mata kuliah yang belum lulus dan kebetulan Anda pengampunya. Tiba-tiba Anda dihubungi agar Anda MEMBANTU bagaimana caranya agar anak itu bisa diberi tugas atau apa begitu, yang penting dapat nilai lulus. Menurut aturan, itu hal yang mustahil. Semester sudah lewat. Sistem sudah merekam. Anak itu juga tidak pernah ada komplain sebelumnya. Kalau dia beruntung, ambil saja semester depan, menunda ujian skripsi. Bayar UKT lagi.   Karena terkait UKT, maka membantunya dianggap manusiawi, tidak membantunya ... "dosen tegaan!" Di kasus lain. Setelah ujian skripsi, biasanya mahasiswa diberi waktu dua bulan untuk revisi. Tentu, itu kalau waktu ujiannya di awal semester. Bagaimana dengan ujian di akhir semester menjelang pendaftaran wisuda? Waktu dua bulan itu formalitas.  Hari ini ujian, seminggu revisi, lalu... Sebu...

Anak Muda

Gambar
Albert Camus, sang filsuf, konon pernah berkata, " Youth, above all, is a collection of possibilities ." Hal-hal yang tidak mungkin bagi orang tua, menjadi mungkin di tangan anak muda. Sebab, di matanya hanya ada kemungkinan. Dengan kata lain, kalau kita tidak lagi punya apa yang dulu kita punya, maka itu tandanya kita sudah tidak lagi muda. Saya sering melihat diri saya dahulu melakukan hal-hal yang dalam ukuran saya sekarang, tidak mungkin saya lakukan. Tamat SMP (MTs), sepuluh lulusan terbaik laki-laki dari sekolah kami dikirim ke Surabaya untuk mengikuti tes MAPK di asrama haji. Sembilan dari sepuluh itu, datang ke Surabaya berombongan diantar salah satu guru kami. Saya pergi sendiri. Hanya karena saya punya Pak Dhe di Sidoarjo.   Saya belum pernah pergi sendiri sejauh itu. Saya hanya tahu Pak Dhe saya punya toko di Sidoarjo Plaza. Saya juga belum tahu di mana asrama hajinya. Saya bahkan tidak menghitung jarak bahwa Sidorajo-Surabaya itu jauh. Untuk ikut tes di pagi hari ...

Aku dan Kopi

Gambar
Aku lupa kapan persisnya, tujuh atau sembilan tahun lalu. Untuk pertama kalinya aku opname di rumah sakit. Tetapi sakit itu bukan yang pertama aku alami. Sejak 1999 aku pernah sakit yang semisal. Setiap tiga atau dua tahun kambuh. Selama itu, tak pernah sampai masuk rumah sakit. Hanya ke dokter dan dokter tak pernah secara persis mengatakan aku sakit apa. Paling ya dibilang capek atau infeksi pencernaan. Pulang diberi antibiotik (seperti biasa). Dan aku tidak melakukan diet apa pun terkait penyakit itu. Nah, pas opname pertama itulah aku tahu sakit apa. Mual, muntah, sampai isi perut terkuras habis sementara apa pun tidak bisa masuk. Jangankan minum air putih, untuk kumur wudu pun muntah. Kata dokter, aku menderita grastitis. Aku separoh percaya saja. Sebab, tidak semua gejala grastitis, terutama yang ngeri-ngeri aku alami. Pada keadaan itu, aku hanya tidak bisa makan dan minum saja. Maka aku harus hati hati soal makan dan minum. Termasuk, berhenti minum kopi. Ringkas cerita. Sudah dua...

Kemerdekaan yang Berkurang

Gambar
Indonesia hari ini menambah umur kemerdekaannya. 76 tahun! Tetapi 'kemerdekaan' sendiri tidak otomatis bertambah. Pada tiap-tiap peringatan kemerdekaan, kita tahu dan bisa merasakan seberapa merdekakah kita sebagai manusia Indonesia.  Karena pada diri orang per orang Indonesia itulah tujuan kemerdekaan itu. Pada jaman Soeharto, kita pernah merasakan bagaimana kemerdekaan itu sedemikian semu. Enak bagi dia dan orang-orangnya, tetapi pahit bagi kita sebagai manusia Indonesia. Maka kita bertekad mengakhiri kemerdekaan semu itu dengan reformasi. 'Janji reformasi' adalah negeri yang merdeka dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tetapi apakah janji itu terpenuhi? Sebagian pernah terpenuhi. Ada masa ketika sesudah reformasi itu birokrasi kita lebih bersih, ada masa ketika kita bisa menjadi pegawai negeri tanpa khawatir dengan orang dalam dan kenal siapa, ada masanya ketika segalanya serasa lebih baik. Tetapi, sepertinya itu tidak cukup lama. Sekarang, anaknya anu bisa menjadi a...

Cara Bayar PBB Online via GoPay

Gambar
Per 2019, BPD DIY bekerjasama dengan GoPay untuk melayani pembayaran online. Saya sudah menggunakannya tahun lalu dan sempat lupa bagaimana saya dulu bayar. Bahkan sempat lupa, ap[akah saya dulu pakai eBanking atau apa. Saya baru ingat kembali setelah mencari di Google bagaimana caranya membaya PBB secara online itu. Cek, baru ingat kalau pakai GoPay, bukan eBanking.  Daripada lupa. Saya catat dan share di sini untuk saya sendiri dan untuk mereka yang memerlukan pembayaran dengan cara yang super mudah ini. Sebelumnya, siapkan: Saldo GoPay yang cukup. Besarnya relatif sesuai NJOP dan luas tanah Anda Nomor obyek pajak. Nomor ini bisa diperoleh dari struk pembayaran PBB tahun sebelumnya atau dari akta jual beli tanah yang Anda peroleh ketika proses jual beli tanah. Langkah-langkah pembayaran PBB melalui GoPay: 1. Buka aplikasi gojek. Cari menu GoTagihan Menu GoTagihan biasanya tidak di halaman muka atau di menu favorit. Jadi, search saja "Gotagihan" di menu pencarian. 2. Scroll ...

Niat

Gambar
Entah mengapa, meski sudah lama tahu, saya kadang melupakan nilai-nilai pokok, sederhana, dan ' immortal ' yang dapat menjadi suluh hidup kita. Kita tahu, berulang kali membaca, bahwa innama al-a'mal bi al-niyyah, perbuatan itu tergantung niatnya. Sederhana kan? Apa pun yang kita lakukan harusnya dimulai dari ... niatnya apa? Niat di situ akan lebih baik kalau menggunakan definisi NU: diucapkan secara jelas, minimal kita sendiri yang mendengar. Lalu kita tuntun diri kita dengan niat itu untuk berbuat yang baik, dan hanya dengan tujuan yang baik.  Mungkin tidak semua niat baik akan berbuah baik atau diterima dengan baik oleh yang kita tuju dengan perbuatan itu. Tetapi, minimal kita sudah berniat baik. Bayangkan, kalau niat baik saja kadang diterima buruk, apalagi kalau tidak punya niat baik. Saya menulis ini sebagai pengingat diri sendiri karena dalam kurun seminggu ini saya membaca dua tulisan dua 'pengusaha' tentang bisnis mereka, dnegan pesan yang sama: niatnya ap...

Kebahagiaan Guru

Gambar
Sebagai guru, bahagia itu ketika menerima kabar-kabar baik dari para muridnya. Lebih bahagia lagi ketika muridnya meluangkan waktu untuk mengabarkan bahwa ilmu yang dulu ia pelajari bermanfaat dalam hidupnya. Karena makna 'keguruan' kita itu bukan di pintar dan tidaknya, tetapi di manfaatnya. Maka, saya senang sekali menerima kabar bahwa apa yang kami lakukan bersama (bukan sekedar saya ajarkan) di kelas ternyata bermanfaat bagi si mahasiswa. 'Proyek' kecil filantropi yang dirancang dan menjadi unsur pokok mata kuliah Filantropi Islam, ternyata berguna untuk jangka waktu yang lebih panjang: bukan sekedar untuk mencari nilai kuliah bagi si mahasiswa. Dalam kabar yang saya terima ini, manfaatnya pun ganda: Pertama, manfaat bagi masjid. Denyut masjid di kampung itu menjadi lebih hidup setelah implementasi proyek filantropi yang waktu itu diberi waktu hanya sekitar 4-6 minggu. Kedua, manfaat kepada si mahasiswa. Semua proyek yang diselenggarakan di kelas Filantropi Islam di...