Kebahagiaan Guru


Sebagai guru, bahagia itu ketika menerima kabar-kabar baik dari para muridnya. Lebih bahagia lagi ketika muridnya meluangkan waktu untuk mengabarkan bahwa ilmu yang dulu ia pelajari bermanfaat dalam hidupnya. Karena makna 'keguruan' kita itu bukan di pintar dan tidaknya, tetapi di manfaatnya.

Maka, saya senang sekali menerima kabar bahwa apa yang kami lakukan bersama (bukan sekedar saya ajarkan) di kelas ternyata bermanfaat bagi si mahasiswa. 'Proyek' kecil filantropi yang dirancang dan menjadi unsur pokok mata kuliah Filantropi Islam, ternyata berguna untuk jangka waktu yang lebih panjang: bukan sekedar untuk mencari nilai kuliah bagi si mahasiswa.

Dalam kabar yang saya terima ini, manfaatnya pun ganda: Pertama, manfaat bagi masjid. Denyut masjid di kampung itu menjadi lebih hidup setelah implementasi proyek filantropi yang waktu itu diberi waktu hanya sekitar 4-6 minggu. Kedua, manfaat kepada si mahasiswa. Semua proyek yang diselenggarakan di kelas Filantropi Islam disarankan untuk mengambil lokasi di daerah terdekat dengan si mahasiswa. Demikian pula proyek kelompok Sri Rahayu ini. Ia mengambil lokasi di masjidnya. Ia yang semula 'urang srawung' menjadi terlibat aktif di kampung dan masjidnya.

Laporan kelompok ini saya taruh di lampiran bawah (di web). Masih selalu saya simpan, buat kenang-kenangan. 

Sebagai guru, kabar seperti ini bukan yang pertama kali saya terima, tetapi memang jumlahnya tidak banyak. Kadang, tanpa kabar dari mahasiswa, membuat saya berpikir: apakah ada gunanya jadi dosen? Jadi, mbok kalian itu kirim kabar ke dosenmu. Ojo nek wis penak terus podho lali. 

Berita seperti ini mungkin dianggap sepele oleh banyak orang, tetapi tidak bagi para gurumu. Ya setidaknya bagi gurumu yang satu ini 😀 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama