Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Review Relive Plus: Lima Alasan untuk Subscription

Gambar
Saya mengenal aplikasi Relive sejak 2018. Tetapi entah mengapa saya waktu itu hanya mencoba sekali dan tidak saya lanjutkan. Padahala, dari segi mobilitas waktu itu, sedang Umroh, harusnya saya terus menggunakan aplikasi ini. Ya 'harusnya', kalau dilihat dari performa Relive sekarang. Saya duga Relive versi 2018 mungkin tidak 'sebaik' sekarang. Sekarang baik? Ini alasannya mengapa saya mengatakan demikian. Saya aktif kembali menggunakan Relive kira-kira dua bulan terakhir bersamaan dengan rutinitas baru bersepeda. Saya juga sudah hampir satu bulan menggunakan versi premium trial (Relive Plus). Besok, tanggal 22 adalah saat memutuskan apakah worth it untuk bayar Rp. 369.000 per tahun! 1. Relive memberi 'tujuan!' Hal paling sulit dalam semua kegiatan adalah rutinitas. Rutin berolahraga adalah hal yang lebih sulit dari yang paling sulit. Selama pandemi, saya mengganti renang dan futsal awalnya dengan senam. Tentu saja saya tidak suka senam, tetapi apa yang bisa dil...

K.H. Afifuddin Muhadjir: Faqih Ushuli dari Timur

Gambar
Rabu, 20 Januari 2021 ini, UIN Walisongo Semarang memberikan gelar doktor honoris causa kepada KH Afifudin Muhajir, Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ceremoni penganugerahan gelar ini sendiri sempat tertunda mungkin karena mas rektor Taufiq sempat dinyatakan positif Covid-19. Kondisi pandemi juga yang membuat acara yang seharusnya kita rayakan rama-ramai ini hanya dibatasi pesertanya.  Saya sendiri adalah pengagum beliau. Saya sering mendengar teman-teman saya memuji kelimuan dan wawasan beliau. Teman saya, Asrori S. Karni, menyebutnya sebagai "bintang di panggung bintang sembilan" dan saya merasakannya ketika satu forum dengan beliau sebagai angin sejuk intelektual yang bersumber dari samudera pengetahuan. Tulisan saya selengkapnya tentang beliau ada di Bab 19 (hlm. 101-106). Sebagai bukan siapa-siapa dan pengagum diam-diam kelimuan dan pribadinya, saya merasa terhormat dapat menyumbangkan tulisan dalam buku kompilasi kesan perjumpaan dan kesan para murid Kiai Afif...

Submit Ganda, Publikasi Ganda

Gambar
Jika di seri pertama tulisan ini saya bercerita tentang republikasi, yang artinya publikasi kedua atau ketiga dan seterusnya, kali ini kita berbicara tentang salah satu sumbernya: submit ganda. Kasus Plagiarisme USU jelas memberikan gambaran bagaimana kasus self plagiarism  itu salah satunya bersumber dari submit ganda yang dilakukan oleh penulis dan teman penulis. Saya juga menduga, dari kronologi waktu bagaimana naskah itu sempat dikirim ke jurnal lain dan kemudian ia tarik (tetapi ternyata tetap terbit), penulis tidak berhati-hati dan sabar dengan naskahnya. Ia sepertinya ingin segera terbit untuk mengejar syarat guru besar, dan melakukan langkah-langkah yang merugikan dirinya sendiri. Tetapi begitulah kita! Sebagai pengelola jurnal, sering sekali kita menerima kontak yang menanyakan hal-hal yang bersumber dari ketidaksabaran itu. Jurnalmu kapan terbit? (seolah-olah kita ini amatir). Masih ada slot kah? (seolah-olah kita ini tukang parkir). Kalau saya kirim sekarang, bisa terbit...

Publikasi Rombongan

Gambar
Pelajaran dari Plagiarisme USU #3 Dalam tulisan sebelumnya, saya menjanjikan untuk membahas praktik norak republikasi skripsi/tesis/disertasi. Terkait dengan itu, saya ingin menyebut praktik "publikasi rombongan."  Sebagaimana halnya dengan republikasi skripsi/tesis/disertasi, pada dasarnya tidak ada yang salah dengan publikasi rombongan alias "publikasi dengan pengarang banyak". Jadi, tidak perlu ditanya "apa salahnya?" Saya akan selalu tegas menjawab tidak ada yang salah. Co-authoring itu sah, halal, dan tayyib seperti Vaksin Cinovac.  Masalahnya ada di praktik 'aneh' dalam co-authoring itu. Keanehan itu tampak dalam praktik co-authoring republikasi skripsi/tesis/disertasi. Mengapa aneh? Sebab, skripsi/tesis/disertasi itu adalah 'tugas akhir mahasiswa'. Artinya, karya mahasiswa! Anehnya lagi, di sejumlah perguruan tinggi republikasi skripsi/tesis/disertasi membuat author -nya berubah: dari yang semula single author (mahasiswa) menjadi do...

Republikasi Skripsi/Tesis/Disertasi

Gambar
[PELAJARAN DARI KASUS PLAGIARISME DI USU #2] Kasus self-plagiarism USU melibatkan praktik yang dalam satu titik sebenarnya normal tetapi di titik lain bisa jadi norak. Kita mulai dari yang normal. Dulu, sebelum zaman internet, skripsi/tesis/disertasi itu menjadi hasil riset yang menumpuk di meja penguji, ruang dosen, dan di perpustakaan universitas. Jumlah cetaknya terbatas. Mungkin hanya satu copy di perpustakaan. Dalam keadaan demikian, skripsi/tesis/disertasi menjadi barang mati, tidak terbaca oleh umum. Paling banter, dibaca adik kelas, untuk apesnya dijiplak bagian bab satu untuk menulis skripsi generasi berikutnya, dan berikutnya. Dalam keadaan seperti itu, skripsi/tesis/disertasi dianggap 'belum dipublikasikan'. Mengapa? Karena tidak bisa diakses 'publik'! Maka, timbullah upaya 'publikasi' agar naskah-naskah itu terbaca. Zaman dulu (lagi-lagi, beda dengan zaman sekarang), ketika publikasi dimonopoli penerbit besar, sangat langka ada tugas akhir kuliah di...

4 Pelajaran dari Plagiarisme USU

Gambar
Kasus plagiarisme di Univesitas Sumatera Utara, terlepas dari situasi polititik personal dan lokal yang menyertainya, menggarisbawahi banyak persoalan publikasi ilmiah di Indonesia. Saya belum membaca SK rektor-nya, tetapi saya sudah membaca dengan seksama pembelaan rektor terpilih yang dituduh plagiat itu (terlampir di bawah).  Saya tidak akan mengomentari secara khusus kasus ini dan hanya ingin mengajak Anda memperhatikan masalah-masalah yang terkait  dengan etika dan praktik publikasi ilmiah di negeri kita. 1. Self Plagiat =  Republikasi Kalau Anda mengacu ke Permendiknas, seperti pembelaan rektor terpilih, memang tidak disebutkan secara eksplisit soal definisi self plagiarisme atau auto plagiat dalam definisi plagiat. Sebab apa yang disebut self-plagiarism  itu hakikatnya terkait dengan 'republikasi' atau publikasi dua kali sebuah hasil riset.  Dalam hal republikasi pasal 'dosanya' bukan pada ' pencurian karya sendiri ' tetapi ' penipuan terhadap orang l...

Kalender PBNU 2021

Gambar
 

Pandemi tanpa Pemimpin

Gambar
Tiga anak saya semua di akhir tahun sekolah, SD, SMP, dan SMA. Dalam acara sosialisasi semester genap, ketika ditanya secara terpisah: bagaimana ujian akhir nanti? Bagaimana kelulusan nanti? Semua tingkat pendidikan kompak menjawab, "Kami belum tahu!" Kita tahu, sekolah tidak bisa mengambil keputusan. Mereka menunggu keputusan pusat. Masalahnya, kita juga tahu, November lalu, yang di pusat juga lempar tangan. Tiga atau empat menteri waktu itu bertemu hanya untuk mengatakan bahwa untuk belajar tatap muka atau tidak, "daerah lebih tahu". Dengan kata lain? Kami tidak tahu! Soal daerah lebih tahu itu, ya. Namun, menghadapi pandemi itu butuh leadership, kebijakan yang terkoordinasi di pusat. Ibarat tim sepak bola, pemain lebih tahu apa yang terjadi dan harus dilakukan di lapangan sesuai posisinya. Tetapi, tim sepakbola butuh pelatih yang membuat rancangan kapan barisan belakang bisa membantu serangan dan sebaliknya barisan depan membantu pertahanan. Tidak bisa pelatih bi...

Universitas Inklusif: Kisah Sukses atau Gagal?

Gambar
UNIVERSITAS INKLUSIF: KISAH SUKSES ATAU GAGAL? Arif Maftuhin, 1*  Siti Aminah 2     1  UIN Sunan Kalijaga     2  UIN Sunan Kalijaga    * Corresponding Author DOI:  https://doi.org/10.14421/ijds.070206 Artikel ini bertujuan menjawab salah satu pertanyaan penting dalam implementasi dan promosi pendidikan inklusif di Indonesia, khususnya dalam pendidikan tinggi inklusif. Dengan mengambil kasus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, penelitian ini membuktikan keberhasilan pendidikan inklusif di perguruan tinggi melalui pelacakan karier (tracer study) para alumni difabel yang telah diluluskan UIN Sunan Kalijaga sejak 2008-2018.  Data dikumpulkan melalui survei daring dan wawancara, baik secara tatap muka atau jarak jauh, untuk menjawab indikator-indikator subjektif dan objektif keberhasilan dan kegagalan alumni.  Penelitian menunjukkan bahwa pada saat kuliah para difabel telah berhasil menjalani pro...