Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

ICIS (UIN Pekalongan) 2025 dan Ekoteologi

Gambar
Hari ini, saya baru saja menghadiri International Conference on Islamic Studies (ICIS) 2025 yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Tahun ini konferensi mengangkat tema besar “Islam, Environment, and Sustainability: An Ecotheological Perspective.” Tema yang tampak sederhana, tetapi menyimpan perdebatan panjang tentang bagaimana agama—khususnya Islam—mengartikulasikan hubungan antara manusia dan alam. Saya diminta menjadi salah  invited speaker untuk menyajikan tulisan yang sudah lama ingin saya uji di forum akademik: sebuah kritik terhadap ekoteologi . Selama ini kita cenderung menerima wacana ekoteologi sebagai sesuatu yang indah, luhur, dan secara otomatis progresif. Padahal, jika dibaca dengan lebih teliti, ekoteologi kerap mengulang pola lama: idealisasi kosmos, romantisasi hubungan manusia-alam, dan pengaburan persoalan struktural yang justru menyebabkan kerusakan ekologis. Konferensi ini memberi ruang bagi perdebatan semacam ...

Islamic, Jewish, and Secular Perspectives on “Loopholes”: A Symposium on Elana Stein Hain’s Circumventing the Law

Gambar
Ada satu pertanyaan yang selalu menggelitik ketika kita berbicara tentang hukum agama: apakah umat beragama itu benar-benar taat hukum, atau taat pada cara mengelak dari hukum? Pertanyaan ini, yang bagi sebagian orang mungkin terdengar sinis, justru menjadi pintu masuk paling jujur untuk memahami bagaimana hukum bekerja dalam kehidupan nyata. Tidak terkecuali dalam tradisi Islam, dan tentu juga dalam Yahudi, yang sering disebut-sebut sebagai "saudara tua" dalam urusan legalisme. Pertanyaan itu pula yang menjadi semangat sebuah simposium daring yang saya ikuti minggu ini—sebuah forum lintas tradisi yang membongkar cara masing-masing agama dan sistem hukum (Yahudi, Islam, dan sekuler) memperlakukan yang sering kita sebut loopholes : jalan tikus legal yang penuh kecerdikan, kadang penuh tipu daya, dan hampir selalu menyingkap alasan mengapa hukum yang “sakral” tidak pernah sesak napas oleh perubahan zaman. Simposium ini mengambil titik tolak dari buku baru Elana Stein Hain , C...

Academic Writing ITB: Cara Menghindari Plagiarisme

Gambar
Ada semacam ironi yang selalu muncul setiap kali saya diminta bicara tentang plagiarisme. Di satu sisi, plagiarisme adalah dosa akademik paling tua—lebih tua dari perdebatan fikih tentang riba dan lebih keras hukumnya daripada sebagian larangan sosial. Di sisi lain, plagiarisme tetap hidup dengan sehat, bahkan subur, di era ketika kampus dan lembaga riset berlomba-lomba mengibarkan jargon “integritas akademik”. Barangkali karena plagiarisme, seperti juga kebiasaan buruk lainnya, tidak pernah mati hanya dengan seruan moral. Ia hilang hanya kalau kita bisa melihat mekanismenya, menelanjangi cara kerjanya, lalu memotong jalur yang membuat kita tak sengaja ataupun sengaja jatuh ke lembah itu. Itulah yang saya bicarakan dalam Workshop Academic Writing Series SBM ITB pada 14 November 2025—sebuah sesi pagi yang cukup padat, tiga jam lebih, tetapi justru menyenangkan karena kita membahas sesuatu yang sering dianggap remeh, padahal efeknya bisa fatal: bagaimana menghindari plagiarisme. Dari ber...

Kakek

Gambar
Dalam proses menjadi manusia, kita pasti melewati banyak momentum-momentum pertama — semacam tonggak kecil yang menandai perjalanan hidup kita. Pertama kali melangkah, pertama kali bicara, pertama kali jatuh, pertama kali berpisah, dan seribu satu “pertama” lainnya yang membentuk siapa diri kita hari ini. Tidak semua mungkin kita ingat dengan jelas; sebagian hanya terekam samar dalam cerita orang lain, dalam foto lama, atau dalam rasa yang tak bisa dijelaskan. Namun setiap “pertama” itu punya makna sendiri — kecil bagi dunia, tapi besar bagi perjalanan pribadi. Minggu lalu, saat naik pesawat pulang dari Jakarta, saya mengalami satu lagi “pertama” yang tidak akan saya lupakan. Saya duduk sebaris dengan sepasang suami-istri muda. Posisi saya di pinggir lorong, sang suami duduk di tengah, dan istrinya di sisi jendela. Bersama mereka ada seorang bayi mungil yang sedang lucu-lucunya — usia 1,5 tahun, begitu kata ibunya. Kadang si kecil dipangku bapaknya, kadang berpindah ke pangkuan ibunya...