Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2022

Mendefinisikan Ulang Ihya' al-Mawat

Gambar
Pengkaji Fikih pasti akrab dengan konsep ihya’ al-mawat , yang di Fikih lebih didefinisikan sebagai usaha untuk mengelola lahan yang terbengkalai. Dalam kajian Fikih, “nada” pembicaraannya adalah persoalan hak milik. Sederhananya, “barangsiapa mengelola, ia punya hak milik atas tanah itu.” Maka, diskusinya menjadi soal apa “bukti” mengelola itu, ada yang berpendapat diberi bangunan, ada yang mengharuskan usaha produktif, ada yang hanya memberi pagar. Nah, karena diskusinya mengarah kepada hak, saya melihat kecenderungannya adalah kecenderungan eksploitatif. Saya menemukan pelajaran lain dari kasus Ein Gedi kemarin. Ein gedi yang saya kunjungi kemarin adalah air mancur setinggi hampir 30 meter. Mengalir deras dan menghijaukan lembah di tengah gurun pasir di tepi barat Laut Mati. Hari ini kita bisa menikmatinya sebagai tempat rekreasi dan olahraga. Tetapi mata air dan air terjun ini pernah mati sebelumnya, mengering sejak tahun 1950an. Lalu, tahun 2003, Israel menerbitkan undang-un...

Wayang di Israel

Gambar
  Hebrew University of Jerusalem, tempat saya ‘mosdok’ sekarang, punya satu set gamelan lengkap, demikian juga wayang kulitnya. Saat pertama kali datang, saya langsung mendapatkan informasi ini dan ditanya apakah saya bisa main gamelan? Duh. Saya penggemar wayang kulit. Lima tahun di Solo, saya kenyang mendengarkan wayang kulit di radio. Dulu, entah tahun berapa persisnya saya lupa, juga ada pentas 1000 dalang (jumlah persisnya tentu tidak seribu) di Keraton Solo. Tiap malam, mungkin lebih dari empat puluh hari berturut-turut, puluhan dalang bergiliran manggung di depan selatan alun-alun itu. Tentu saya puas-puaskan nonton wayang kulit. Tetapi untuk main gamelan, opo meneh ndalang , nggak, sama sekali nggak bisa. Saya baca kemarin Kiai Ulil Absor Abdalla cerita, ia iri sekali dengan orang yang main gitar. Ia pingin bisa main tetapi dulu gitar adalah barang haram bagi santri seperti dirinya. Saya mengamini pengalaman itu. Seingat saya, sewaktu saya kecil dulu, wayang orang atau ...

Anjing dan Yahudi

Gambar
Tadi, saya menemukan adegan menarik di serial  Shtisel,  yang tayang di Netflix .  Ada scene Shulem yang tampak kaget saat cucunya mampir dengan menggendong seekor anjing. Bahasa tubuh dan raut muka Shulem di film itu, menurut saya, koq mirip dengan saya dulu ketika ketemu anjing. Fikih Syafi’i membuat kita menghindari anjing sejauh-jauhnya. Bukan soal galaknya, tetapi najisnya. Akan report sekali kalau sampai kita terkena najis yang berasal dari bulunya yang basah atau, apalagi, air liurnya.  Njingkat  kaget, sambil mundur mengambil jarak, Shulem bertanya, “He... kamu bawa apa itu!” Demi melihat cucu yang seharusnya di “pesantren”, Shulem kaget, “Kenapa kamu di sini, tidak di pondok?” Cucunya menjawab bahwa ia baru saja diusir dari pondok. Ia bilang menemukan anjing itu di luar pondok kehujanan. Karena kasihan, anjing itu ia ambil, ia selamatkan dan ia bawa ke kamarnya. “Tetapi teman saya sekamar juga senang dengan anjing ini. Ada orang lain yang sirik dan mela...

Salat "Sembarangan"

Gambar
Saya belum tahu mazhab Fikih apa yang dianut mayoritas orang Palestina. Tetapi yang bisa saya duga dari cara salat mereka, bukan penganut Syafi’i. Mayoritas orang yang salat Jumat di kompleks al-Aqsa itu ada di luar masjid. Nah salatnya di "sembarang" tempat begitu. Bukan hanya tempatnya, salatnya pun banyak yang tidak lepas sepatu. Mereka nyaman saja salat demikian karena duduk mereka tanpa iftirasy dan tawarruk .  Ya, saya tahu bahwa tanah itu suci. Secara Fikih juga tidak ada masalah kalau orang mau salat sembarangan begitu. Beda mazhab, beda definisi syarat salat dan kesucian. Bagi orang Indonesia yang ikut Mazhab Syafii, syarat salat itu suci badan, pakaian, dan tempat. tanahnya mungkin suci, tetapi sepatu yang kita pakai, mungkin saja kena najis hukmi. Begitu cara pikir kita.  Di depan apartemen saya ada pembangunan jalan trem. Saya pernah lihat salah satu kuli bangunan, yang mayoritas orang Arab, sedang salat zuhur di trotoar. Tanpa sajadah, memakai baju dan dan celana...

Riders of Justice

Gambar
Tahun 2017, seseorang DM saya. Ia seorang difabel baru. Delapan bulan. Setelah lulus SMA, ia tidak kuliah dan memilih bekerja di Jakarta. Tak lama, ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan disabilitas. Ia tidak hanya kehilangan anggota badannya, tetapi juga pekerjaannya.  Delapan bulan setelah menjadi difabel pasti periode yang sangat tidak mudah. Saya banyak bertemu difabel dan umumnya "difabel baru" lebih sulit menghadapi kehidupan dibandingkan difabel dari lahir. "Kebetulan" ia menemukan informasi tentang UIN Sunan Kalijaga. "Kebetulan" Facebook mempertemukan kami. Ia menghubungi saya, memperkenalkan diri, dan ringkas cerita ia diterima dan kuliah di sini. "Kebetulan" ia diterima di prodi saya. Beberapa hari yang lalu, alhamdulillah, ia sudah menyelesaikan seluruh tahapan kuliahnya. Saya yang "kebetulan" ia hubungi di Facebook itu, "kebetulan" menjadi dosen pembimbing skripsinya. Skripsinya sangat baik, nyaris tanpa rev...

Beasiswa S3 dan Posdoc di Hebrew University Yerusalem

Gambar
Beberapa hari yang lalu, saya sudah sharing lowongan posdoc Islamic studies (masih buka, silakan cek di sini ). Kini Hebrew University membuka peluang beasiswa dalam Translation Studies. Saya termasuk rekrutan pertama dalam proyek riset ini ( cek di sini ). Penelitian kami difokuskan untuk meneliti manuskrip-manuskrip interlinear translation  di Nusantara. Kita, di Jawa, mengenalnya sebagai makna gandhul . Sejauh ini, kekayaan literatur kita, atau manuskrip dalam literatur ini, belum banyak disentuh oleh para peneliti.  Kacamata proyek riset kami adalah translation studies , tetapi bersifat interdisciplinary .  Untuk tahun ajaran 2022/2023, beasiswa dibuka untuk dua lowongan, doctoral (S3) untuk jangka waktu empat tahun dan Post-doct (satu tahun). The European Research Council (ERC) project Textual Microcosms: A New Approach in Translation Studies is offering Doctoral study scholarships beginning in October 2022. The program is located at the Hebrew University of Jerusale...

Kubah Emas itu Bukan Masjidil Aqsa

Gambar
Karena ada yang masih salah mengira, saya ingin jelaskan di sini kubah cantik berwarna emas yang sering Anda lihat sebagai ikon Yerusalem itu bukan Masjidil Aqsa. Namanya? Ada yang menyebut Qubbah as-Sahra, Qivat haSela, atau Dome of the Rock. Saya sebut saja, Kubah Emas Batu Cadas. Saya sering memotret kubah ini dan kubah Masjidil Aqsa secara bersamaan dalam satu frame karena kebetulan lokasi saya ada di arah jam 7 dari masjid. Akan selalu tampak di foto, kubah hitam Masjidil Aqsa, lebih kecil, di sebelah kirinya. Ya, karena hitam dan kecil, orang salah lihat dan mengira Kubah Emas sebagai kubah Masjidil Aqsa. Di video berikut, saya rekam perjalanan pendek dari kubah Emas ke hitam. Pas ada azan isya (saya rekam full azan dari awal sampai akhir).  Saya belum banyak cerita soal-soal teknis detil begini karena dua hal. Pertama, saya masih terus belajar tentang kota ini. Kedua, saya masih fokus ke riset yang mendanai saya bisa ke sini. Nah, kelak, insyaallah saya cerita. Sementara sek...