Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Asal Usul Plagiarisme

Gambar
Kapan-kapan mungkin saya akan bercerita tentang sejarah plagiarisme, kapan munculnya, di mana, oleh siapa, dan mengapa. Sekarang, saya akan bercerita saja bagaimana praktik plagiat itu kemudian menjadi kebiasaan seseorang. Singkat cerita: plagiarisme berawal dari kelas! Hari ini, saya mengoreksi tugas review mata kuliah Fikih Sosial. Tugasnya adalah: mereview buku Kiai Sahal Mahfudh (wajib beliau!),  Nuansa Fiqih Sosial , yang disunting dan diberi pengantar apik oleh Mas Hairus Salim itu. Dalam mengajar, saya tidak selalu 'mengajari' dulu. Saya biasa memberi tugas dan membiarkan mahasiswa untuk mengerjakan sesuatu sesuai yang mereka tahu. Tujuannya ganda: bagi saya sebagai dosen, untuk mengetahui apa yang harus saya ajarkan dan tidak saya ajarkan. Bagi mahasiswa, agar belajar dari kesalahan. Konon,  mistakes have the power to turn us better than before.  Sebagai metode mengajar, maka saya tidak memberi hukuman atas kesalahan. Untuk tugas review itu, saya memberi mereka pa...

Monograf sebagai Karya Tunggal Mahasiswa

Gambar
  Sebelumnya, kita sudah berbicara tentang dua jenis tugas akhir: monograf dan artikel. Dua model itu tersedia di perguruan tinggi luar negeri sebagai pilihan, bukan kewajiban ganda seperti di sebagian universitas kita. Pada artikel ini, mari kita bicara khusus soal monograf, model yang masih menjadi standar tugas akhir di Indonesia. Di universitas luar negeri yang sudah tersedia alternatif untuk memilih artikel atau monograf, berikut ini empat perbedaan dan alasan, menurut tressacademic, mengapa mahasiswa S3 memilih monograf daripada artikel. Sumber:  tressacademic.com Pertama , dari segi bentuknya, kita yang di Indonesia pasti sudah familiar karena kita yang kuliah dari S1 sampai S3 di Indonesia pasti pernah membuat monograf. Kita menyebutnya dengan nama skripsi, tesis, dan disertasi.  Kedua , authorship , hak kepengarangan. Ini yang perlu dicatat oleh siapapun yang ingin numpang nama karya mahasiswa. Ketika mahasiswa memilih monograf, tressacademic menjelaskan singkat,...

Bentuk Tugas Akhir: Monograf dan Artikel

Gambar
Dari dulu dan sebagian besar sampai sekarang, tugas akhir yang diberi nama skripsi, tesis, dan disertasi, itu berwujud monograf. Kita tidak pernah menggunakan istilah monograf untuk tugas akhir, tetapi ada di  PAK (Penilaian Angka Kredit) dosen. Monograf didefinisikan sebagai sebuah karya yang terdiri atas beberapa bab, yang antar-babnya saling terkait, berhubungan, dan menguatkan. Argumen sebuah monograf tidak bisa diterbitkan terpisah, bab 1 saja atau bab 2 saja, misalnya. Sebab, secara kesuluruhan antar bab saling terkait.  Begitulah tradisi kita menulis skripsi, tesis, disertasi selama ini. Bab 1 pasti pendahuluan, Bab 4 atau Bab 5 kesimpulan. Tidak ada orang yang menulis skripsi hanya bab 2 atau 3. Saya mendengar sih ada orang yang menerbitkan bagian survey literatur saja. Tetapi itu sih tergantung bagaimana jurnalnya. Sebab, jurnal ilmiah itu kadang juga menerbitkan section artikel non-riset, seperti resensi buku dan laporan kegiatan. Jadi, riset litertur pun juga diterb...

Tugas Akhir Kuliah: Skripsi, Tesis, Disertasi

Gambar
Tentang negeri ini, mari kita mulai dari negeri ini. Soal luar negeri bagaimana, nanti kita singgung juga sebagai referensi dan perbandingan. Bukan sebagai ukuran benar dan salah. Sebab, benar dan salahnya harus dikembalikan ke tempat masing-masing.  Misalnya, teman saya bercerita kalau di luar negeri, profesor diangkat oleh kampus. Koq di Indonesia diangkat oleh negara? Jawabnya sederhana saja: di Indonesia, tunjangan guru besar dibayar oleh negara. Kalau masing-masing universitas mengangkat sendiri guru besarnya, sementara standar etis dan kualitas kita masih seperti sekarang, bisa bangkrut negeri kita. Luar negeri benar, kita juga sudah pas. Kembali ke tugas akhir. Secara tradisional di Indonesia, untuk mendapatkan gelar sarjana mahasiswa wajib menyetorkan tugas akhir berupa karya ilmiah yang disebut skripsi untuk S1, tesis untuk S2, dan disertasi untuk S3. Semua cover skripsi, tesis, disertasi, menyebutkan itu: sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Coba lih...

Republikasi Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Gambar
Selain menghapus nama dosen pembimbing dan penguji skripsi/tesis dari artikel yang dipublikasikan di Jurnal Inklusi, kami juga mengembalikan naskah 'republikasi' (daur ulang) ke penulisnya untuk direvisi karena tesisnya ternyata sudah diterbitkan dalam bentuk buku sebelum versi artikelnya sukses kami terbitkan di jurnal.  Kami jelas tidak mau menerbitkan dobel republikasi semacam itu. Tetapi penulis berargumen bahwa artikelnya, meskipun bersumber dari data-data tesis, berbeda dari tesis dan bukunya. Ia menjelaskan secara panjang lebar di Whatsapp, tetapi kami ingin apa yang ia sampaikan panjang lebar itu ditulis di artikel: bangun argumen kepada pembaca bahwa artikel Anda adalah suatu tambahan, atau kritik, atau bantahan atau apa pun yang memastikan posisi akademiknya berbeda dari tesis (punya novelty !)  *** Seperti pandangan yang saya tulis di buku Tanya Jawab Plagiarisme  ( link ), skripsi/tesis/disertasi itu pada dasarnya adalah publikasi. Sebab, mereka bisa diakses o...

Memahami Keragaman Disabilitas

Gambar
  Sebagai orang yang lama mendampingi difabel, saya selalu memulai dan menekankan di kelas bahwa "saya akan berusaha keras untuk memperhatikan kebutuhan, keunikan, dan hambatan orang per orang mahasiswa." Saya menindaklanjuti sikap itu, salh satunya, dengan membuat form kontrak belajar individual, personal, hanya saya dan dia yang tahu. Di kontrak itu, mahasiswa boleh meminta dispensasi waktu, modifikasi tugas, dan adaptasi personal lain jika diperlukan. Saya akan me- review kelayakannya dan kemudian memenuhi permintaan itu.  Usaha ini dilakukan karena disabilitas itu tidak semua kelihatan. Kita belum memiliki sistem asesmen yang mampu mendeteksi disabilitas di luar orang-orang disabilitasnya tampak mata. Nah, yang tidak tampak itu kadang lebih membutuhkan dari yang tampak.  Di atas mereka yang disabilitasnya tidak tampak dan kemudian mau mengakuinya di form rahasisa itu, ada juga yang lebih serius: si mahasiswa tidak menyadari disabilitasnya. Merespons undangan saya untu...

Pembimbing Skripsi bukan Pengarang!

Gambar
Jurnal Inklusi yang saya editori, sudah lama membuat kebijakan 'tegas': tulisan yang bersumber dari skripsi atau tesis, hanya boleh mencantumkan nama masiswa sebagai pengarang. Pembimbing? Tidak boleh. Penguji? Ah apalagi!  Memang ada yang begitu? Tentu saja. Ini kami sedang mengirimkan surat kepada dua orang calon author untuk menghapus nama dosen pembimbing dan pengujidari daftar pengarang di naskah mereka.   Apa dasarnya Jurnal Inklusi melakukan itu? Menurut asosiasi editor jurnal ilmiah internasional, CSE (The Council of Science Editors), editor mempunya kewajiban mengawal integritas publikasi ilmiah dan memiliki hak prerogratif untuk membuat kriteria siapa yang berhak disebut pengarang.  It is the prerogative of journal editors to define authorship and contributorship criteria; journals are encouraged to use one of the widely accepted sets of criteria for authorship, such as that from ICMJE or proposed by McNutt, but the editor of the journal may vary the criter...

Workshop Pendampingan Difabel di Unlam

Gambar
  Pagi ini, untuk kesekian kalinya, saya mendapatkan kehormatan untuk berbagai pengalaman dengan teman-teman dosen di Universitas Lambung Mangkurat dalam Workshop Pendampingan Mahasiswa Difabel. Acara intinya terdiri atas dua sesi. Saya mendapatkan bagian sesi pertama dengan topik Pendampingan Difabel di Perguruan Tinggi Inklusif sementara di sesi kedua ada Slamet Thohari yang membahas pengelolaan kelas inklusif. 

Tidak Ada Dalil

Gambar
Dulu pas kuliah di Amerika, saya sewa apartemen dengan tiga orang muslim dari tiga asal: Somalia, Lebanon, dan Amerika. Meski kami dari empat penjuru dunia, kami cocok dalam banyak hal, salah satunya, membaca qunut waktu subuh. Hanya saja, kami jarang baca qunut. Maklum, kami rajin ke masjid. Ehem. Masjidnya milik komunitas Arab Saudi. Imamnya tidak pernah baca qunut. Sebagai makmum, ya kami manut.  إنما جعل الإمام ليؤتم به Tetapi, pada sebuah pagi yang dingin menusuk hati, kami tidak pergi ke masjid. Sebagai orang yang paling tua, saya menjadi imam. Ini kesempatan kami baca qunut. Nah, seperti di Indonesia, saya membaca sirri kalimat " fainnaka taqdi ..." dst. Memperhatikan saya berhenti membaca qunut, para makmum menjahrkan kalimat yang saya sirrikan itu. Mereka mengira saya lupa dan berusaha mengingatkan saya. Selesai salat kami bahas masalah tersebut. Jujur saja, saya memang tidak tahu dalilnya. Mengapa sebagian doa qunut disirrikan. Pokoknya begitulah saya diajari bapak ...

Cara Cek Data NIK KK Bocor

Gambar
Ini negeri tanpa  privacy ! Data pribadi diumbar di sana-sini.  Beberapa waktu yang lalu saya mengkritik UIN Sunan Kalijaga karena websitenya menampilkan data personal dosen. Bagi orang yang berniat jahat, data itu makanan empuk untuk tujuan kejahatan. Buktinya, beberapa kali ada penipuan via SMS yang modalnya bisa dari data-data personal yang diobral itu. Kritik saya mentok nabrak tembok. Data personal itu tetap  open to public . Ndonga ae wis!  Kita juga sering melihat kebocoran data warga. Belum lama ini, kita mendengar kebocoran data salah satu aplikasi buatan pemerintah. Kemudian disusul bocornya data NIK Presiden Jokowi. Kapan hari itu, beredar foto nasi yang dibungkus fotocopy KK. Peristiwa-peristiwa itu membuat saya tidak pernah percaya kepada siapa pun yang meminta data fotocopy KK. Siapa pun.  Misalnya, beberapa waktu yang lalu, ada petugas dari dukuh datang ke rumah meminta fotocopy KK. Saya tanyakan, "Untuk keperluan apa?" Ia menjawab, cuma disuruh P...

Mereka Percaya, Bunga Bank Sama dengan Riba

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya melakukan survei kecil-kecilan. Populasi survei saya adalah para dosen dan ulama yang saya lihat 'aktif' di perbankan syariah. Aktifitas mereka macam-macam, ada yang menjadi dosen di Fakultas Ekonomi Islam, ada yang menjadi konsultan atau komisaris Bank Syariah, atau menjadi ulama tetapi dengan pesan-pesan pro bank Syariah.  Saya mengajukan pertanyaan begini: apakah Anda percaya bahwa bunga bank konvensional sama dengan riba yang diharamkan dalam Al-Qur'an. Jawabnya? 100% responden saya percaya bahwa bunga bank adalah riba . Saya pribadi tentu terkejut. Teman-teman saya itu bukan HTI, Salafi, apalagi milenial hijrah. Mereka mempunyai latar pendidikan minimal S2 dalam kajian keislaman. Jawaban mereka menohok asumsi saya bahwa penganut mazhab "bunga bank= riba" adalah kaum tekstualis atau yang disebut Abdullah Said sebagai kaum neo-revivalis.  Teman-teman saya itu hampir semua orang NU. Mana mungkin NU neo-revivalis? Saya sendiri, seja...

On that Day, We will be Taliban Again

Gambar
"Kalau Allah menakdirkan Taliban menang, kami akan menjadi Taliban lagi. Paham kan? Kelak kami akan kembali menjadi Taliban." Ucap jujur seorang mantan Taliban yang sebulan sebelumnya membelot dan bergabung dengan pemerintah Afghanistan bersama 30 orang anak buahnya. Ucapan itu disampaikannya secara empat mata dengan seorang ketua suku, tetapi ia lupa ada mic yang menempel tubuhnya untuk film dokumenter. Si mantan mendapat laporan dari anak buahnya yang sedang patroli bahwa ada penyusup Taliban di kampung mereka. "Pak ketua suku mengira saya masih Taliban, jadi ia memberitahu saya kalau ada Taliban di rumahnya," begitu si anak buah lapor. Si komandan yang mantan Taliban tampak gelisah dan bingung harus bersikap bagaimana. Sejak mereka bergabung dengan pemerintah, mereka ternyata tidak digaji. Disuruh memburu Taliban, tetapi tidak dapat akomodasi. "Repotnya lagi, dulu sewaktu kami masih menjadi anggota Taliban, ke mana pun kami pergi warga selalu menyambut kami ...

Inilah Alasan Taliban Menang Mudah di Afghanistan

Gambar
Film dokumentar This is What Winning Looks Like  dipublikasikan tahun 2013 ketika Presiden Obama baru saja mengumumkan kemenangan Amerika dalam perang Afghanistan. Berbeda dengan Obama dan pernyataan resmi pemerintah dan militer Amerika, film ini bercerita sebaliknya: tidak ada kemenangan, yang terjadi di lapangan adalah Amerika sudah menyerah, tidak bisa mencapai target perang, capek, dan penguman itu hanya upaya menyelamatkan muka agar bisa pergi dari Afghanistan secepatnya. Pernyataan Ben Anderson, si pembuat film dokumenter, di menit-menit pertama film ini memberikan ramalan 100% akurat, penjelasan tak terbantah, mengapa bulan lalu, Taliban begitu mudah menaklukkan seluruh Afghanistan. Nonton film ini, dan Anda tidak akan terkejut sama sekali. Kalau di Indonesia banyak yang ikut-ikut anti Taliban, memakan mentah-mentah semua framing brutal tentang mereka, film ini akan membuka mata mereka. Emang yang dimusuhi Taliban siapa? Orang-orang saleh? pemerintah yang jujur? tentara patr...

Belum pantas

Gambar
Saya tulus ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya yang sudah mengabdikan dirinya untuk menjadi kiai. Saya percaya gelar kiai tidak penting bagi mereka, tetapi mereka pantas mendapatkanya, sepantas-pantasnya.  Melihat perhatian mereka ke pondok, kecintaan mereka ke para santri, waktu yang diluangkan untuk mendidikan anak-anak kita, mereka pantas mendapatkan apa yang selama ini oleh orang luar pesantren disebut sebagai kultur yang tidak demokratis, kiai sentris, feodalis, apa pun lah. Sebab sentralitas, kalau pun ada, lahir tidak dari pengumpulkan kekuasan (hard power) seperti para politis, tetapi dari hard work .    Bagi mereka yang pernah nyantri atau menjadi orang tua yang punya anak yang ditipkan ke kiai, apa yang diberikan kiai ke diri mereka dan ke anak mereka seringkali tak ternilai dengan apa pun. Jadi, kalau cuma pasrah total ke kiai, atau memberi apa saja yang kiai perlukan, bukan sesuatu yang di luar nalar. Sebaliknya, sangat bernalar, masuk akal....