Kalender Hijriah yang “Tidak Ilmiah”
Setiap Ramadan tiba, perdebatan awal bulan selalu berulang dengan pola narasi yang sama. Perbedaan tanggal disebut-sebut disebabkan oleh dua cara menetapkan awal bulan: yang satu “kuno” karena harus melihat hilal di ufuk (ru’yah), yang satu “canggih” karena berbasis hitungan (hisab) astronomi yang dianggap “ilmiah”. Ada pula yang ekstrem: pemerintah dituduh boros karena masih menggelar rukyat dan sidang isbat. Cara berdebat seperti itu, menurut saya, menutup ruang berpikir yang jernih. Debat yang menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Persoalan awal bulan bukan sekadar persoalan “ilmiah” dalam arti kosmologis, melainkan melibatkan keputusan-keputusan teknis dan pilihan desain sistem yang justru bersifat konvensional. *** Dulu sekali, ketika belum ada sistem pencatatan modern, ketika orang berutang dan berjanji melunasi, fenomena alam adalah satuan waktu paling netral yang dapat disepakati. “Saya kembalikan pinjamannya saat purnama.” Jika bukan purnama pertama, tentu pur...