Kalender Hijriah yang “Tidak Ilmiah”


Setiap Ramadan tiba, perdebatan awal bulan selalu berulang dengan pola narasi yang sama. Perbedaan tanggal disebut-sebut disebabkan oleh dua cara menetapkan awal bulan: yang satu “kuno” karena harus melihat hilal di ufuk (ru’yah), yang satu “canggih” karena berbasis hitungan (hisab) astronomi yang dianggap “ilmiah”. Ada pula yang ekstrem: pemerintah dituduh boros karena masih menggelar rukyat dan sidang isbat.

Cara berdebat seperti itu, menurut saya, menutup ruang berpikir yang jernih. Debat yang menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Persoalan awal bulan bukan sekadar persoalan “ilmiah” dalam arti kosmologis, melainkan melibatkan keputusan-keputusan teknis dan pilihan desain sistem yang justru bersifat konvensional. 

***

Dulu sekali, ketika belum ada sistem pencatatan modern, ketika orang berutang dan berjanji melunasi, fenomena alam adalah satuan waktu paling netral yang dapat disepakati. “Saya kembalikan pinjamannya saat purnama.” Jika bukan purnama pertama, tentu purnama kedua, ketiga, dan seterusnya. Seperti kekasih yang “menunggumu sekian purnama,” tetapi tak kunjung datang juga.

Manusia meminjam fenomena kosmik itu untuk menavigasi hidup—secara harfiah maupun simbolik. Bintang utara menjadi pandu pelayaran. Matahari menjadi penentu hari. Namun fenomena alam itu sendiri tidak pernah peduli pada cara manusia menamai dan membaginya. Ia berjalan konstan dan kontinu, tidak pernah persis cocok dengan hitungan manusia. Satu tahun bukan 365 hari, melainkan sekitar 365,2422 hari. Kita ciptakan tahun kabisat untuk "mengkalibrasi." Satu bulan sinodik, rata-rata 29,530588853 hari, kita genapkan 29 atau 30 hari di kalender.

Di sinilah letak masalahnya. Peristiwa kosmik bersifat kontinu; kalender bersifat diskret—memaksa yang kontinu menjadi satuan-satuan genap. Karena itu, jika “ilmiah” didefinisikan sebagai gerak kosmis yang pasti dan objektif, maka kalender “tidak ilmiah” murni,  ia membutuhkan konvensi-konvensi (seperti tahun kabisat) dan standar-standar lain yang sifatnya arbitrer saja. Misalnya, mengapa ada garis tanggal internasional di Pasifik, ada GMT di Inggris, dst; pembuatanya bukan karena hukum fisika dan astronomi tertentu, tetapi keputusan praktis politis!

Ini yang sering tidak disadari (atau pura-pura kita tutupi?) dalam hal penetapan awal Ramadan dan kalender Hijriyah. Seolah-olah perbedaan pendapat itu soal canggih dan tidak canggih, ilmiah dan tidak ilmiah, kuno dan maju. Mari kita lihat mana yang “ilmiah” dan mana yang harusnya ditetapkan “suka-suka” (baca: konvensi dan pilihan-pilihan non ilmiah) itu.

Yang pasti itu “konjungsi”!

Dalam debat awal bulan Qomariah, yang benar-benar ilmiah-alamiah itu adalah peristiwa konjungsi atau ijtimaʿ. Konjungsi adalah momen ketika bujur ekliptika geosentrik Matahari dan Bulan sama. Dalam astronomi modern, momen ini dihitung dengan model numerik presisi tinggi—misalnya VSOP untuk Matahari dan seri DE (Development Ephemeris) JPL untuk Bulan. Konjungsi adalah fakta geometri langit yang dapat dihitung jauh sebelum kita lahir dan akan tetap terhitung jauh setelah kita mati. Peristiwanya pasti dan tidak akan ada selisih hari!

Sebagai contoh, perhatikan konjungsi menjelang Ramadan 1447 H. Dengan ephemeris modern seperti JPL DE440, konjungsi diperkirakan terjadi pada 17 Februari 2026 sekitar pukul 12:01 UTC. Jika ada perbedaan, yang berbeda hanyalah sistem waktu antara negara ketika perisitwa itu terjadi. Jam 12:01 UTC di Indonesia adalah pukul 19:01 WIB; di Alaska pukul 03:01 waktu setempat. Peristiwanya satu dan sama; terjadi di “angkasa sana” yang beda hanya jam lokal di berbagai negara.

Orang yang tidak belajar Falak tetapi “sok ilmiah” sering kali tidak tahu masalah ini. Konjungsi bisa dihitung dengan pasti dan presisi, tetapi hilal dan tanggal 1 Ramadan butuh “tafsir”, butuh kriteria, butuh penerjemahan! Caranya? 

Cara paling sederhananya adalah teknik ru’yah Nabi: “Jika terlihat, maka berpuasalah; jika tidak terlihat, genapkan tiga puluh.” Anda boleh menyebut ini cara kuno, tetapi ru’ya adalah pondasi seluruh apa yang kemudian diteorikan menjadi kriteria "hilal". Kriteria-kriteria hilal modern—termasuk Wujudul Hilal—adalah upaya teoritis untuk menerjemahkan peristiwa kosmik itu dalam ambang-ambang tertentu. Ru'yah itu ilmiah, walau sederhana. Teori hilal bukan lebih ilmiah; ia hanya lebih terstruktur karena berbasis data ratusan observasi. 

Dari Konjungsi ke Hilal

Menariknya, konjungsi sendiri tidak pernah dijadikan titik awal kalender. Mayoritas ahli falak menetapkan “tanggal satu” dengan kriteria hilal yang, menurut saya, bersumber dari “DNA keterlihatan” (visibiltas hilal). Mengapa saya sebut DNA? Karena secara historis, tanggal satu selalu diasosiasikan dengan “terlihatnya” bulan sabit pertama. Konjungsi sendiri tak pernah bisa dilihat.

Jika Nabi memilih metode paling sederhana—lihat atau genapkan—ahli Falak modern menambahkan parameter untuk meminimalkan kesalahan persepsi. Kriteria MABIMS, misalnya, menetapkan tinggi minimal 3° dan elongasi minimal 6,4° pada saat matahari terbenam. Pun demikian, angka-angka itu bukan jaminan terlihat, melainkan ambang probabilitas “terlihat” berbasis data historis observasi Asia Tenggara.

Apakah cuma ahli ru’yah yang mengacu ke kriteria visibilitas? Meski tidak diakui (karena tidak pernah menyebut sebagai imkanur ru’yah), mereka yang "anti" ru’yah pun tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari "DNA" visibilitas ini. Contohnya hisab Wujudul Hilal yang pernah digunakan Muhammadiyah. Kriteria hilalnya tidak mensyaratkan keterlihatan empiris (imkanu al-ru’yah), tidak mensyaratkan elongasi minimum, tidak menetapkan ambang probabilitas; tetapi definisi “wujud” (ada)-nya hilal mensyaratkan dua hal yang hanya bermakna dalam konteks “melihat” penampakan: ijtimaʿ harus terjadi sebelum matahari terbenam dan bulan berada di atas ufuk saat matahari terbenam. Dua syarat ini bukan teori kosmik murni; ia lahir dari logika pengamatan—sunset tertentu, ufuk tertentu, lokasi tertentu, yang dengan itu hilal “masuk akal” untuk disebut hilal.

Ringkasnya, apa pun teori hisab-nya hilal adalah konstruksi praktis-teknis berbasis "DNA" visibilitas bulan sabit, bukan peristiwa konjungsi. Maka, dari konjungsi ke tanggal satu selalu ada langkah tambahan: penentuan ambang dan jangkar pada ruang-waktu tertentu (matla’). 

Selema bertahun-tahun itu, yang kita debatkan adalah “definisi” ini. Kelompok ru’ya murni menysratakan terlihat mata, kelompok imkan ru’ya membuat kriteria panampakan, dan kelompok wujud membuat kriteria minimal ada walu pun tak tampak. Jadi, janganlah menggunakan kata-kata “bangsa lain sudah mengirimkan astronot ke bulan, kita masih debat soal ngintip bulan.” Belajar dulu kakak, biar kakak terlihat terdidik!

Tentang KHGT

Perdebatan yang tidak selesai itu menjadi semakin dinamis setelah Muhammadiyah meninggalkan Hisab Wujudul Hilal dan mengadopsi KHGT—Kalender Hijriah Global Tunggal. Gagasan kalender Hijriah global sebenarnya bukan baru. Konferensi Istanbul 1978 dan Kongres Kalender Hijriah Internasional di Turki tahun 2016 sudah mendorong sistem global berbasis hisab dengan satu tanggal untuk seluruh dunia. Turki mengimplementasikan model berbasis imkan al-ru’yah global: jika visibilitas terpenuhi (tinggi hilal minimal 5° dan elongasi minimal 8°) di suatu tempat sebelum pukul 00.00 UTC/fajar di Selandia Baru, seluruh dunia masuk bulan baru. 

Muhammadiyah lalu mengadopsi model global dengan penyesuaian. Jika sebelumnya Wujudul Hilal berbasis matla’ lokal—ijtimāʿ sebelum ghurub dan bulan di atas ufuk di lokasi tertentu—KHGT memindahkan jangkar ke sistem global dengan referensi bujur 180° (International Date Line) sebagai batas hari. 

Apa yang baru? Bukan teori fisika, bukan teori kosmik. Peralihan dari Wujudul Hilal ke KHGT tidak disebabkan oleh revolusi astronomi. Konjungsi dihitung dengan ephemeris yang sama. Parameter visibilitas tetap tunduk pada teori-teori yang sudah lama (dan selama ini ditolak oleh Wujud al-Hilal). Apa yang berubah adalah kebutuhan: keseragaman global, manajemen sosial lintas zona waktu, dan cita-cita kalender tunggal.

Sikap Saya

Dalam penetapan awal bulan Ramadan, saya sudah lama mengambil posisi pragmatis: saya ikut keputusan pemerintah. Bukan karena saya penganut mazhab ru’yah atau mazhab imkan al-ru’yah. Bukan pula karena saya merasa satu metode lebih “ilmiah” dari yang lain. Saya hanya menganut satu kaidah sederhana: kalender adalah urusan publik, dan urusan publik harus diatur oleh otoritas yang mengatur masyarakat. Titik.

Jika pemerintah memakai hisab, saya ikut. Jika memakai ru’yah, monggo mawon. Jika besok memakai KHGT, sami’na wa atha’na. Bagi saya, yang lebih penting dari metode adalah otoritas kolektif yang mengikatnya.

Sebab, sikap semacam inilah yang sebenarnya dibutuhkan jika kita sungguh-sungguh ingin menyatukan kalender—baik secara lokal, nasional, maupun global. Mustahil berbicara tentang kalender global, tetapi masing-masing berjalan sendiri, membuat sistem sendiri, mengumumkan sendiri, lalu berharap semua orang mengikuti. Kalender itu sistem sosial, buka teori fisika. Ia tidak berguna tanpa kesepakatan bersama.

Maaf ya, atas dasar apa sebuah organisasi merasa cukup menetapkan kalender sendiri untuk tujuan global? Karena kita bisa bertanya: jika ingin kalender global tunggal, mengapa memilih bujur 180° atau Alaska sebagai matla’, dan bukan Makkah? Sama-sama pilihan geografis. Sama-sama tidak ditentukan oleh hukum kosmik. Jika harus memilih, memilih Makkah memiliki nilai simbolik dan teologis yang jauh lebih kuat bagi umat Islam.

Bayangkan, jika KHGT tidak berbasis Makkah, sangat mungkin terjadi skenario ketika Arab Saudi (yang tidak mau KHGT) baru wukuf di Arafah, sementara kita sudah Idul Adha. Di mana manfaat spiritualnya kalender global?

Saya mungkin akan menulis argumen khusus tentang Makkah, tetapi lain kali saja ya. Terpenting sekarang, mari kita puasa tanggal 1 Ramadan. Kompak, nggak ada yang tanggal 2 gitu. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama