Skripsi No, Penelitian Yes
Di tengah-tengah acara launching Jurnal Inklusi yang diterbitkan Pusat Layanan Difabel, saya mendapatkan pertanyaan menarik dari salah seorang peserta. Saya tak perlu menyebut apakah ia dosen, peneliti, atau mahasiswa, tetapi ia salah satu dari warga 'kelas akademik' ini. "Pak, tulisan yang diterima di Jurnal Inklusi berupa hasil penelitian lapangan atau opini?" Terus terang saya sudah lama membaca samar-samar gejala kerancuan di kalangan warga kampus tentang hakikat "tulisan ilmiah". Pertanyaan tadi seolah-olah mengkategorikan tulisan 'ilmiah' itu ada dua: pertama, tulisan opini ; kedua, tulisan hasil penelitian . Dalam kesempatan lain, saya juga pernah bertemu dengan kolega yang punya kebingungan semisal. Waktu itu kami bicara soal frasa penelitian dan publikasi ilmiah untuk sebuah lembaga di kampus. Saya bilang, "Frasa itu hanya berguna dalam nomenklatur proposal dan anggaran; secara substansi penelitan dan publikasi ilmiah i...