Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Skripsi dari Masa Depan!

Gambar
[Sambungan dari Jangan Menulis Skripsi ] Kalau Anda tidak menemukan apa yang Anda sukai di kelas, Anda juga tidak memiliki kesenangan di luar kelas (duh, kasihan sekali), saya punya usul lagi: mencari skripsi dari masa depan. Saya tidak tahu apakah Anda punya rencana terkait masa depan Anda. Tetapi sebagain orang jelas memilikinya. Saya pernah bertemu dengan mahasiswa yang menjawab begini, "Saya ingin jadi penguasaha saja Pak. Skripsi itu tidak penting-penting amat. Apa saja yang penting selesai." Anak itu tidak sendiri. Saat saya membuat status di Facebook bahwa skripsi yang baik itu dari minat bukan dari memulung judul di perpustakaan, beberapa orang berkomentar, "apa pentingnya skripsi seperti itu?"; "apa gunanya skripsi yang baik?"; atau "ah, skripsi kan cuma salah satu syarat lulus, it's not worth fighting for." Bahkan, di fakultas tempat saya bekerja juga ada dosen yang berpandangan demikian, "sudahlah, jangan susah-susa...

Jangan menulis Skripsi!

Gambar
Kalau Anda saat ini Semester 6, sudah menyelesaikan hampir semua mata kuliah, maka JANGAN MULAI MENULIS SKRIPSI! Sebab, skripsi itu bukan "permulaan", skripsi itu adalah "hasil". Kalau yang Anda pikirkan adalah 'menulis skripsi', maka Anda, seperti kebanyakan mahasiswa yang pernah saya temui, akan mengalami masa-masa sulit seperti berikut: bingung mencari judul, bingung memulai dari mana menulis, bingung membuat proposal, bingung mencari mencari contoh, hingga... bingung mencari BIRO SKRIPSI yang siap membantu Anda lulus! LANGKAH PERTAMA: MENGUBAH HOBI MENJADI SKRIPSI Maka, cara yang lebih baik adalah: jangan mulai menulis. Mulailah dari diri kita sendiri dan ajukanlah pertanyaan berikut: "selama saya belajar di jurusan ini, tema, keahlian, masalah, atau pembahasan apa yang paling menarik?" Misalnya, di jurusan kami, Ilmu Kesejahteraan Sosial, kita bisa membedakan beberapa topik besarnya dalam tiga kategori: pertama , masalah sosial (PMK...

Wawancarai Google sebelum Narasumbermu!

Gambar
Sejak mendapat amanat sebagai kepala Pusat layanan Difabel, ada satu agenda yang hampir setiap hari harus saya jadwalkan di kantor: melayani wawancara. Wartawan, dosen atau peneliti yang sedang mengumpulkan data, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, sampai dengan sekedar wawancara untuk tugas-tugas kuliah. Penelitiannya bisa macam-macam, topiknya bisa berbeda-beda, tetapi dalam posisi sebagai kepala PLD ada beberapa pertanyaan standar yang selalu diajukan "dalam perspektif Bapak sebagai kepala PLD..." Setelah sekian bulan, ada satu hal yang saya amati dan menurut saya itu adalah kelemahan seorang pewawancara: mereka datang dengan gelas kosong! Maksud saya, mereka datang dengan sepenuhnya berharap sayalah yang akan mengisi seluruh gelas mereka karena mereka tidak melakukan RISET PRA WAWANCARA! Akibatnya, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan adalah pertanyaan yang menurut saya hanya menghabiskan waktu saja: Bapak nama lengkapnya siapa? (hah!?) Kedudukan Bap...

Tasyakuran itu tidak untuk penguji skripsi!

Gambar
Himbauan anti-gratifikasi yang layak ditiru! ٍSalah satu kebiasaan di lingkungan kami adalah dosen menerima 'sesuatu' dari mahasiswa. Saat ujian skripsi, mahasiswa menyediakan makanan ringan, minuman, bahkan ada yang makan siang. Prodi tempat saya mengabdi sebenarnya belum 'terbiasa' dengan hal itu karena kami memang belum lama meluluskan dan kira-kira baru beberapa gelintir mahasiswa saja yang sudah lulus. Tetapi karena 'kebiasaan' itu sudah ada di rumah besar kami, Fakultas Dakwah, anak-anak pun ikut-ikutan dengan kebiasaan itu. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengangkat issu itu di Forum Online Fakultas Dakwah. Menurut saya, kebiasaan itu harus dihentikan! Reaksinya macam-macam. Sebagian setuju dengan pendapat saya, sebagian lagi menganggap masalah itu masalah kecil. " Wong ada anak mau syukuran masak ditolak." Atau, yang membuat saya mak jleg baru kepikiran, "Kalau kita sendiri lulus doktor, masak kita juga tidak syukuran kepa...

Pemilu di Kampungku: Sebuah Cerita Politik di Akar Rumput

Gambar
Hasil Pemilu di kampungku, Dukuh Glagah Kidul, Tamanan, Bantul, pasti tidak akan sama dengan hasil Quick Count sejumlah lembaga survei. Tetapi, mungkin variabel-variable gagal-sukses sebuah partai yang terjadi di sini bisa digunakan juga untuk perbandingan dengan level nasional (yang hasilnya belum bisa saya baca di sumber mana pun). Cerita hari H berikut mungkin penting bagi para pengamat. 68 Gan! Pemenang Telak Sudah bisa Ditebak! Di kampungku, pemenang untuk masing-masing kursi sudah bisa ditebak sejak sebelum hari H pencoblosan. Kursi DPRD II dan DPRD I akan jatuh ke caleg PAN; sementara kursi DPR RI akan jatuh ke caleg PKB; dan kursi DPD pasti jatuh ke tangn G.K.R Hemas (siapa lagi kalau bukan dia ?). Formasi ini berubah dari tahun 2009. DPRD II (PAN), DPRD I (PDIP), DPR (Demokrat), DPD (GKR Hemas). PAN No. 2! Sumber Kemenangan Dari masing-masing kursi itu, kecuali kursi DPD, kemenangan bersumber dari 'kontrak politik' dengan tokoh pedukuhan yang terdiri atas...