Kepergian Seorang Teman
Kata para alim, kita tidak bisa memilih kematian: kapan, dimana, dan bagaimana, semua sudah ada taqdirnya. Tetapi aturan itu seperti tidak berlaku bagi Pak Nanang, kolega di UIN Jogja, tetangga depan rumah kami. Ia seperti bisa memilih waktu, tempat, dan bagaimana caranya meninggal. Sudah bertahun-tahun Pak Nanang menderita stroke yang membuat bicaranya tak lancar dan kondisi fisiknya tak prima. Kami sering harus memintanya untuk mengulang pertanyaan bila saling sapa, "Apa pak?", dua atau tiga kali harus kami tanyakan kalau ia yang ramah selalu berusaha menyapa kami. Sebagai tetangga, kami termasuk tetangga yang 'tidak baik' bagi Pak Nanang. Kami (saya dan tetangga yang lain) seringkali 'menuntut lebih': mestinya Pak Nanang itu begini, mestinya begitu, mestinya tidak begini, mestinya tidak begitu, dan semisalnya ketika kami melihat hal-hal yang tidak kami cocoki (ahh, apa sebenarnya hak kami menuntut seperti itu?). Maka 'rasan-rasan' tetangga p...