Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Khutbah Jumat: Pemilu

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca (lagi) pernyataan menarik Kyiai Ali Mustafa Ya'qub di Republika tentang politik uang. Beliau mengutip sebuah hadits yang terjemahannya sebagai berikut: Ada pelajaran penting dari Rasulullah SAW terkait pemilihan umum. Dalam hadis sahih, beliau bersabda, ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah SWT pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih. Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya. Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan. Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya. (HR Imam Ahmad bin Hanbal dalam kita...

Pak Nuh dan Pendidikan Inklusi

Gambar
Anda sudah membaca Gatra edisi 26 Maret? Coba buka halaman 48 dan simak baik-baik sejumlah pernyataan orang-orang di pendidikan tinggi kita. Mulai dari menteri sampai ke rektor. Membaca pernyataan mereka, saya jadi pesimistis nasib pendidikan inklusi akan segera menemukan titik terangnya. Pandangan mereka mengandung pemahaman yang salah tentang hak pendidikan difabel di perguruan tinggi. Masalah pertama dan sangat fatal: mereka tidak sadar bahwa mereka telah melakukan diskriminasi. Lebih mudah bagi kita untuk menegur orang yang tahu dirinya salah. Kalau "tidak merasa salah", nah, mau gimana coba? Menurut Pak Nuh, "Jika sebuah jurusan mensyaratkan tidak boleh buta warna, itu bukan diskriminasi. Sebab, perkuliahan di jurusan tersebut memang membutuhkan kemampuan seseorang untuk mengenali warna dalam melakukan kegiatan tertentu." Bagi kami, Pak Nuh, persoalannya adalah pada konsep "butuh" itu. Di website ini, kami punya beberapa contoh beta...

Memahami Inklusi

Gambar
Semakin sering saya melayani wawancara (wartawan, peneliti, mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah) semakin sering saya mendengar pertanyaan semisal ini, "Pak, kalau jumlah difabelnya sudah banyak apa akan dibuka kelas khusus?" Atau, "Berapakah tenaga dosen terlatih yang khusus mengajari mereka?" Atau, kalau si penanya dari kampus lain, "Universitas kami juga inklusi, karena kami punya mahasiswa difabel." Maka setiap kali pertanyaan itu muncul, saya harus segera menjawab dengan ilustrasi yang menurut saya sederhana agar sesuatu yang sesungguhnya rumit, filosofis, dan ideologis bisa segera dipahami dengan mudah oleh para penanya saya. Saya : "Anda pernah dengar bahwa di Indonesia seorang penyandang buta warna tidak dapat memperoleh SIM? Mengapa mereka tidak boleh punya SIM?" Penanya, "Karena dianggap tidak akan mampu membedakan rambu dan lampu lalu lintas." Saya : "Jadi, kalau saya ubah pertanyaannya dengan lebih kera...

Kursi Para Difabel di Perguruan Tinggi

Gambar
Tangan Rohmadi, mahasiswa angkatan 2013 saat tes masuk jalur reguler di UIN Sunan Kalijaga Berbicara tentang difabel di perguruan tinggi itu sama dengan berbicara tentang sesuatu yang dianggap tidak penting, bukan prioritas, marjinal, atau paling jauh adalah berbicara tentang "tantangan dan hambatan". Sedemikian marjinalnya issu difabel di pendidikan tinggi hingga kita tidak memiliki data berapa sesungguhnya difabel yang memperoleh kesempatan kuliah di perguruan tinggi di Indonesia. Angkanya tidak jelas berapa, tetapi yang pasti jumlahnya sangat kecil! Di UIN Sunan Kalijaga, kampus inklusif pertama di Indonesia, setiap periodenya kita hanya melayani 30 sampai 40 orang mahasiswa difabel. Bandingkan dengan jumlah mahasiswa UIN secara keseluruhan yang 16.080 orang. Setiap tahunnya, UIN menerima sekitar 3600 mahasiswa baru dan dari jumlah ini kami di PLD tak pernah menerima lebih dari 15 orang per angkatan atau 0.004 persen per tahun! Angka yang dimilik...