Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Testimoni Obat

Gambar
Suatu ketika, Pak Jokowi berkunjung ke sebuah negara. Oleh tuan rumah, ia diajak mengunjungi tempat-tempat menarik di ibu kota. Sebagai presiden dari negara sahabat, ia dan presiden tuan rumah dikawal ketat, mobilnya pun dilengkapi kaca anti peluru. Turun dari mobil, pagar betis mengawal perjalanannya.  Di waktu yang hampir bersamaan, saya juga berkunjung ke ibu kota negara itu. Saya juga mengunjungi tempat-tempat yang kemarin baru dikunjungi Pak Jokowi. Tentu saja tidak ada yang mengawal saya. Saya jalan sendiri dan tak seorang pun menggubris kehadiran saya. Copet dan preman pun tak tertarik untuk berbuat aneh-aneh ke saya.  *** Sesampai di Indonesia, wartawan tanya ke Pak Jokowi tentang keamanan di negara itu. Pak Jokowi menyimpulkan bahwa negara itu tidak aman. Menurut testimoninya, di negara lain ia tidak dikawal seketat itu. Sebaliknya, saya bilang ke wartawan yang kebetulan teman saya mencari ceplukan di sawah bahwa negara itu aman, aman banget.  *** Kalau Anda perc...

Permintaan Aneh

Gambar
Beberapa kali saya menerima permintaan aneh, menurut saya. "Pak, saya mau menulis skripsi tentang difabel. Bisa tidak saya minta referensi terkait yang Bapak miliki?" Mereka umumnya bukan mahasiswa bimbingan saya. Kadang malah dari universitas lain. Nah, yang hampir bikin murka saya itu ada yang mau menulis disertasi dan mengajukan permintaan semisal. Saya hampir saja menelpon para malaikat untuk melipat bumi dan menurunkan banjir. Untunglah saya ingat kalau saya bukan Nabi. Akhirnya saya hanya menelpon salah satu petinggi di universitas tersebut yang kebetulan saya kenal baik. " Iki lho pak, mahasiswamu. Pembimbing disertasinya siapa? Mengapa ia tidak diajari cara melakukan riset yang benar?" Kejengkelan saya tumpahkan ke pimpinan universitas saja, kepada si mahasiswa saya "ngempet" ngamuk, mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengetik sesantun mungkin. "Wah, bagus! Sudah memilih topik tentang difabel. Saya suka ini." Contreng satu, contreng dua, c...

Bahasa Indonesia di Israel

Gambar
Sepulang Jumatan tadi, saya berhenti sejenak di sebuah halte di Wadi Jos. Menunggu gerimis lewat dan menikmati swarma yang tadi saya beli di dekat Lion Gate. Jam pulang jumatan itu jalanan selalu padat merayap, kadang macet. Pengemudi mobil di seberang halte membuka kacanya. Tatapan matanya bertemu dengan mata saya. Saya mencoba cepat mlengos mengalihkan pandang ke mobil lain. Tetapi karena jalanan macet, saya bertatap muka lagi dengan orang itu. Ia berteriak menyapa saya, "Hi, where are you from?" Sambil melempar senyum. Anda tahu, bagian seperti inilah yang paling tidak suka di sini. Saya jadi tahu rasanya bule-bule yang di Indonesia mengundang tatap mata orang penuh tanya siapa dia.  Saya sering mengalaminya. Tidak hanya dengan orang tua, tetapi juga khususnya anak-anak. Di Israel, jumlah orang berwajah Asia itu tak sebanyak seperti di Amerika.  Ini juga bukan pertama saya disapa di jalan ini. Minggu lalu, juga pulang Jumatan, seorang sopir membuka kaca mobil dan menawari ...

Tanya Jawab Plagiarisme (Edisi 2021)

Gambar
Judul Buku : Tanya Jawab Plagiarisme  Tebal : xvi + 145 halaman; 9.5 x 14 cm  ISBN: 978-623-7507-82-6  Penerbit: Samudra Biru, 2021 Memenuhi permintaan berbagai pihak, buku Tanya Jawab Plagiarisme kembali dicetak. Edisi ini berbeda dengan edisi sebelumnya dari segi isi karena ada tambahan berbagai tulisan saya tentang aspek-aspek plagiarisme dalam praktik, kritik terhadap "imoralitas" akademik, dan komentar terhadap kasus-kasus plagiarisme di tanah air.

Azan di Israel

Gambar
Beberapa waktu yang lalu kami bertiga, tim di Textual Microcosms: A New Approach in Translation Studies ,  sedang serius rapat di kantor. Di tengah pembicaraan, tiba-tiba kami berhenti, saling tatap. Bahasa mata kami menunjukkan bahwa kami sama-sama pindah perhatian dari materi rapat ke suara yang kami dengar.  Jam zuhur tiba, suara azan bersahutan dari berbagai penjuru sekeliling kampus kami. Kampus kami kebetulan di Yerusalem Timur, di belakang kami perkampungan Arab yang besar. Tak jauh dari kami, Masjidil Aqsa dan masjid-masjid di area Yerusalem Timur yang lain.  "Seperti di Indonesia kan?" Kata professor saya. Beliau lama tinggal di Jogja, ngontrak di dekat UNY, setiap kali ia mendengar azan bersahutan di Yerusalem, justru Indonesia yang ia ingat. Saya hanya tersenyum tetapi juga ingat kata teman seapartemen dulu, orang Amerika yang pernah ngaji di Tarim, Yaman. "Saya kangen sekali suasananya. Setiap waktu salat datang, azan bersahutan di mana-mana, tidak seperti di...

Tidak Butuh Polisi Israel

Gambar
Anda pernah kehilangan kartu ATM? Di bank langganan saya, untuk mengurus pengganti kartu yang hilang, kita harus lapor polisi untuk mendapatkan surat keterangan kehilangan. Saya tidak tahu apa dasar hukumnya, tetapi saya duga itu produk dari "budaya tidak percaya" di kita. Kita tidak percaya para dosen itu jujur, maka laporan penelitian harus detil sampai uang buat makan pun wajib dilaporkan. Kita tidak percaya orang menyerahkan fotokopi asli, makanya kita wajibkan legalisir. Dan seterusnya. Sampai kepada ATM hilang itu. Apakah bank mengira kalau kita pura-pura kehilangan? Padahal, terlepas dari apa pun alasan penggantian kartu itu, toh ujung-ujungnya kita juga membayar kartunya. Aneh kan? Kartu wajib dibeli, tetapi bank tidak percaya kita jujur soal kehilangan kartu? Apa untungnya kita ngaku kehilangan? Kemarin saya kehilangan kartu Rav Kav. Ini kartu sama dengan kartu tol itu. Cuma fungsinya untuk naik angkutan umum, mulai dari bus kota, bus antar kota, sampai kereta api di...

Bahasa Inggris Lebih Penting daripada Arab?

Gambar
Pas di kelas tadi, kami diminta praktik berbicara Ibrani secara berpasangan. Kebetulan pasangan saya adalah satu satunya orang Palestina di kelas. Karena topiknya berkenalan, nama, pekerjaan, dan negara asal, kami jadi nglantur ngobrol hal hal lain terkait bahasa dan negara kami. Setelah praktik materinya, ia menebak, "I think you must have some basic Hebrew before. Where did you learn?" Saya bilang kalau saya cuma belajar otodidak. Lalu ia tanya lagi, orang Indonesia bahasanya apa, dan seterusnya. Nah, saya pun tertarik balik bertanya soal bahasa orang Palestina. Saya ceritakan kalau saya sering ketemu dengan orang Palestina di Masjidil Aqsa dan kesulitan untuk ngobrol dengan bahasa Arab fushah. Ia tidak bisa menjelaskan pasti mengapa orang Palestina yang saya temui tidak bisa fushah, tetapi ia punya cerita menarik. Hampir semua universitas di Palestina menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari di kampus, hampir seperti bahasa resmi begitu. Dosennya menggunakan b...

Maktabah Kitab Kuning Tafsir

Gambar
Salah satu cabang ilmu terpenting dalam studi Islam klasik adalah ilmu tafsir. Kita beruntung bahwa pada saat ini, warisan intelektual itu mudah sekali kita akses lewat berbagai versi digital. Saya mencoba mengoleksinya dengan mengumpulkan berbagai link yang tersedia di internet. Semoga kitab kuning tafsir berikut ini bermanfaat. [ UNDUH VERSI LEBIH LENGKAP DI SINI ]  Tafsir Jami' al-Bayan   Kitab tafsir ini dikenal sebagai salah satu tafsir pelopor dalam Islam. Jami' al-Bayan ditulis oleh Imam al-Thabari, seorang ulama multidisiplin dan dikenal ahli dalam berbagai bidang studi islam. Nama lengkap beliau adalah Abu Ja'far Muḥammad Ibn Jarīr Ibn Yazīd Ibn Katsir Ibn Gālib al-Ṭabarī dilahirkan di Tabaristan 224 H dan Wafat 310 H.  Unduh tafsir جامع البيان karya al-Tabari di link PDF ini . Tafsir al-Jalalayn (تفسير الجلالين)  Terjemah dan Syarahnya  Tafsir Jalalayn (Jalalain) adalah kitab tafsir yang ringkas, padat, dan sangat populer digunakan di berbagai lembaga ...

Membaca Ramayana dengan Cara Berbeda

Gambar
Kemarin saya ikut "ngaji" Sastra Jawa yang diampu oleh Pak Yai Willem van Der Molen. Jujur, baru kali ini secara akademik saya ngaji sastra Jawa dan beruntung bisa belajar langsung dari ahli sekaliber Pak Willem. Sesi ini diselenggarakan di kampus dan berbeda dengan baca text Jawa Kuno yang diselenggarakan di kediamannya. Ngaji sastra Jawa di kampus ini lebih ke pengantar akademik tentang sejarah sastra Jawa dari abad ke-8.  Salah satu poin penting yang saya dapatkan dari seri pertama kemarin adalah kesadaran diri, semacam hidayah, perspektif baru yang selama ini tidak pernah saya miliki. Kalau kemarin saya menyebut istilah "bias normal", sebut saja perspektif lama saya sebagai "bias Muslim" dalam melihat teks-teks Jawa Kuno. Perubahan perspektif lama ke baru ini adalah dari memperlakukan teks Jawa Kuno itu dari semata karya sastra menjadi "teks religius". Dari posisinya yang sekuler setara novel menjadi bacaan religi penyejuk hati. Dari menempat...

Anak Petani ya Baca Trubus, bukan Lupus

Gambar
Saya hanya tahu Lupus dari film dan sampul buku pelajaran. Tidak pernah baca novelnya, tidak pula menjadi pelanggan majalah  Hai apalagi  Bobo . Majalah begituan terlalu mahal untuk anak petani. Bacaan saya waktu kecil adalah Majalah Trubus, bacaan wajib bapakku. Sebagai petani lulusan pondok pesantren, bapakku meningkatkan kapasitas lewat buku dan majalah pertanian. Mayoritas buku di lemari bapak adalah buku-buku yang terkait bagaimana cara beternak bebek, budidaya ikan, penyakit tanaman dan hewan, lalu koleksi majalah Trubus. Bapak tidak berlangganan secara "berlangganan" tetapi selalu membelinya ketika terbit. Sebulan sekali minimal, saya ikut bapak ke sebuah toko buku di Tulungagung. Saya lupa namanya, tetapi di sebelah masjid dekat alun-alun itu.  Saya sendiri hanya sesekali membeli buku cerita. Bagi saya, diajak pergi saja sudah senang, tidak menuntut lebih. Saya tahu dari kecil, buku-buku itu terasa mahal dan "tidak berguna". Dibaca sekali, tamat, terus tidak...

Being Right Sucks

Gambar
Dalam studi disabilitas, kita sering menyebut bias normal sebagai salah satu masalah di ruang-ruang publik. Bias normal itu sederhananya adalah membuat dan melaksanakan kebijakan dengan mengabaikan keragaman.  Misalnya, ketika membuat sebuah bangunan, dibuat bangunan dengan struktur tinggi yang untuk mengaksesnya dibuat undakan seperti naik ke makam Imogiri. Pertimbangannya mungkin estetik, tampak indah dan gagah. Tetapi struktur semacam itu lupa bahwa tidak semua manusia bisa mengakses undakan. Demikian juga dosen ketika mengajar. Ia membuat media belajar berupa power point dengan berbagai gambar dan grafik yang indah. Kadang dosen begini lupa bahwa di kelasnya ada tunanetra. Sebagus apa pun desain grafis yang ia buat, media itu tidak bisa diakses oleh tunanetra. Nah, sekarang mari kita ke ruang-ruang kelas kita. Jika mahasiswa di kampus Anda seperti di UIN Sapen, diberi kursi dengan sandaran menulis di sisi kanan, maka di situlah Anda ketemu bias normal itu. Saya belum pernah men...

Yerusalem Rasa Jerman

Gambar
   Founders Wall di gerbang Hebrew University of Jerusalem Kemarin saya ketemu tetangga "kamar" di kantor. Kebetulan pintunya sedang terbuka. Saya ketok dan memperkenalkan diri. Meski sudah enam bulan, baru sekarang kami ketemu. Maklum baru semester ini saya mulai kerja luring. Biasanya cuma di apartemen, seminggu sekali saja ke kampus. Saya tertarik untuk say hello karena di pintu professor ini ada sebuah cover buku berjudul Umm al-Kitab, dalam Bahasa Arab. Beberapa flyer yang ditempel di pintu juga berbahasa Arab. Sebuah teks al-Fatihah beriluminasi indah juga ditempel di dinding ruangannya. Saya duga ia dari Islamic Studies dan akan sangat baik jika saya mengenalnya. Orangnya ramah sekali. Tak butuh lama untuk bercakap-cakap dengan hangat. Kami bertukar kenalan nama, asal, riset yang sedang dikerjakan, sudah berapa lama di sini, akan berapa lama lagi. Saya bilang, saya tertarik dengan pernak-pernik Arab di ruangannya, saya tanya apakah ia dari Islamic Studies? Ternyata...

Belajar Jawa Kuno di Israel

Gambar
(Video dokumentasi saya buat dan publikasi atas izin beliau-beliau.) Saya sering memikirkan bagaimana rasanya orang-orang Arab Palestina yang tidak bisa berbahasa Arab fushah itu? Saya jadi tahu rasanya setelah kemarin ikut "kelompok belajar" Bahasa Jawa kuno di kediaman Pak Willem, ahli sastra Jawa dari Leiden yang "langganan" mengajar di Yerusalem. Sebagai orang Jawa, saya adalah orang yang paling awam Bahasa Jawa. Kelompok reading text Jawa kuno yang saya hadiri kemarin itu adalah kelanjutan dari tahun sebelumnya. Jadi, pesertanya memang para "spesialis" sastra Jawa. Kalau saya menjadi orang paling awam, Anda harus memakluminya. Ada lima hal yang saya ambil pelajaran dari pertemuan kemarin. Lima "rukun" yang wajib direnungkan sebagai akademia maupun orang Jawa. Pertama , para ilmuwan ini benar-benar meleburkan diri dengan ilmu yang ditekuninya. Totalitas, begitu kata orang. Karena saya orang Islam dan akademia Islamic Studies, mungkin saya tid...

Alasan Belajar Bahasa Ibrani

Gambar
Pas saya datang semester lalu, ada dua alasan mengapa saya tidak ikut kursus Bahasa Ibrani di universitas. Pertama, kuliah sudah dimulai, mau nyusul khawatir nggak nutut. Kedua, saya juga ragu apakah saya perlu serius belajar Ibrani dengan datang ke kelas. Seperti pernah diceritakan ( https://www.maftuh.in/2021/10/belajar-bahasa-ibrani.html ), saya sudah mulai belajar Ibrani dengan aplikasi sebelum pergi ke Israel. Belajar dengan aplikasi itu fleksibel, semau dan semampu kita. Kalau di kelas? Selain bayar, wajib meluangkan waktu dan serius. Nah, setelah satu semester di sini, saya tahu aplikasi saja belum cukup. Tidak seperti kursus Bahasa Spanyol yang lengkap, materi Ibrani di Duolingo sangat kurang. Jadi saya harus belajar langsung di kelas. Tetapi, apa iya, orang seumur saya masih perlu memulai belajar bahasa asing seserius itu? Bayar, meluangkan waktu, pikiran dan tenaga? Saya tidak perlu lama untuk menemukan jawabannya. Suatu hari saya diundang makan malam. Sambil menunggu yang la...

"Ngenthes" di Yerusalem

Gambar
Tidak semua warung lesehan di Jl. Malioboro (sebelum pindah) nakal. Tetapi ada banyak insiden orang makan di sana yang " dikenthes " atau "digetok", atau apa lah istilahnya di tempat Anda kalau beli sesuatu lalu disuruh bayar dua kali lipat dari harga normal. Nah, main kenthes itu bukan monopoli Malioboro, ada banyak tempat lain di negeri ini yang juga begitu, khususnya di tempat-tempat wisata. Nah, demikian juga di Yerusalem. Suatu ketika, saya pulang dari masjid agak telat, waktu makan siang pun lewat. Dalam perjalanan ke terminal bus terdekat, saya menelusuri jalanan kota lama. Kota lama itu ya Malioboro-nya Yerusalem. Segala macam ada di jual di toko-toko di situ, mulai dari cendera mata, rempah-rempah, kotak catur, sepatu dan jaket, apa saja!  Pasti dong ada warung makan. Saat kami jalan berombongan beberapa bulan lalu, kami makan di salah satu resto di situ. Restonya cukup besar dan menurut saya, dengan makanan berlimpah yang enak dan mengenyangkan perut kami,...

Pindah Agama

Gambar
Sewaktu kuliah di Amerika dulu, saya pernah diminta pindah agama oleh teman sekelas dari Seoul. Pegawai kementerian pertahanan Korea itu seorang Kristen yang taat. Di Akhir kuliah, ia bahkan menghadiahi saya dengan sebuah buku kecil tentang kebenaran Kristen dan berharap saya bisa berubah setelah membacanya. Seminggu yang lalu, setelah perkenalan dan obrolan sepanjang jalan di acara hiking yang dikoordinir kampus, seorang teman dari China pingin ngobrol banyak lagi. "I really want to know about Indonesia," katanya sambil minta nomor telepon dan berjanji untuk ketemu lagi. Saya memilih ngobrol di rumah kontrakannya di belakang kampus. Ia mahasiswa dari China, lulusan sebuah fakultas Chinese medicine, dan di sini ia khusu belajar Ibrani. Ia ambil kursus mahal (6000 dolar) per tahun untuk belajar bahasa Perjanjian Lama itu, kitab suci agama yang kini ia peluk.  "Kamu mau jadi pendeta?"  Ia tidak yakin, "Ya, mungkin. Ada sih pikiran begitu, tetapi belum pasti....

Teladan Si Mbah

Gambar
Pernahkah Anda mendengar ucapan semisal ini, "Orang NU koq nggak tahlilan!"? Dalam ucapan semisal itu, diasumsikan bahwa yang ditegur sudah tahu maksudnya, sudah ngerti orang NU itu seperti apa. Ungkapan semacam itu akan kehilangan makna kalau yang diajak bicara tidak paham NU itu bagaimana. Sewaktu saya masih kecil, Mbah Putri saya sering bilang begini, "Putune Mbah Makruf koq salate telat!" Kalau saya main sampai lupa waktu, teguran semacam itu yang saya terima. Segala perilaku yang tidak baik akan cepat menerima nasehat yang menurut si mbah saya paham maksudnya. Sebaliknya, kalau saya berbuat baik, menjadi anak saleh, si mbah akan bilang begini, "Oh ya pantes, putune Mbah Makruf." Saya memulai Puasa Ramadan penuh satu bulan saat mau masuk SD. Saya ingat pujian itu dan lagi-lagi saya tidak paham: Mbah Makruf ini siapa? Oh maksud saya, saya tahu bahwa Mbah Makruf itu adalah simbahnya Mbah Putri saya. Mbah Putri saya ini aslinya Mojoroto, Kediri. Saya seri...

Indonesians Are Smart!

Gambar
"Indonesians are just smart!" kata teman saya dari Berlin. Ia aslinya orang Kurdi. Saya tertawa. Ini untuk kedua kalinya saya mendengar pujian begitu di Israel. Beberapa waktu yang lalu, orang di kantor International Office mengatakan hal yang sama. Sambil melayani saya, orang Israel itu mengungkapkan kekagumannya kepada negara dan orang Indonesia. "Beautiful country, smart people!" Kepada teman dari Berlin saya bilang, "Sure, everyone else is also smart." Saya bilang, orang pintar ada di mana saja, seperti juga sebaliknya. Orang oon ada di mana-mana. Ia segera menjelaskan maksud omongannya. "No, that's not my point!" Ia menjelaskan ucapannya dalam konteks bangsa Kurdi sendiri. Bangsa besar yang tidak punya negara, terpecah di bawah duli beberapa negara. Orang Indonesia "smart" karena ia melihat betapa "stupid"nya mereka di Timur Tengah. Bangsa besar, berbicara dengan bahasa yang sama, mayoritas juga beragama yang sama, pe...