Belajar Jawa Kuno di Israel

(Video dokumentasi saya buat dan publikasi atas izin beliau-beliau.)

Saya sering memikirkan bagaimana rasanya orang-orang Arab Palestina yang tidak bisa berbahasa Arab fushah itu? Saya jadi tahu rasanya setelah kemarin ikut "kelompok belajar" Bahasa Jawa kuno di kediaman Pak Willem, ahli sastra Jawa dari Leiden yang "langganan" mengajar di Yerusalem. Sebagai orang Jawa, saya adalah orang yang paling awam Bahasa Jawa.

Kelompok reading text Jawa kuno yang saya hadiri kemarin itu adalah kelanjutan dari tahun sebelumnya. Jadi, pesertanya memang para "spesialis" sastra Jawa. Kalau saya menjadi orang paling awam, Anda harus memakluminya. Ada lima hal yang saya ambil pelajaran dari pertemuan kemarin. Lima "rukun" yang wajib direnungkan sebagai akademia maupun orang Jawa.

Pertama, para ilmuwan ini benar-benar meleburkan diri dengan ilmu yang ditekuninya. Totalitas, begitu kata orang. Karena saya orang Islam dan akademia Islamic Studies, mungkin saya tidak akan pernah mencapai level totalitas keilmuan seperti mereka. Sebab, Islam sendiri sudah "embedded" dalam diri saya. Sudah nggak bisa total lagi.  Mereka ini bukan orang Jawa, belajar sastra Jawa, sampai sedemikian rupa "direwangi" meluangkan waktu dan tenaga untuk memahami sesuatu yang di luar dirinya.

Kedua, kelompok belajar ini, menariknya, melibatkan orang dari "kasta" keilmuan yang berbeda. Pak Willem, sang guru, sudah pensiun tiga tahun yang lalu. Dua orang yang lain adalah professor aktif dengan keahliannya masing-masing. Lalu dua orang lainnya lagi adalah mahasiswa S3 (hadir online dari India via Zoom). Saya jangan dihitung karena cuma tamu di acara mereka. Secara pribadi, saya belum pernah punya forum "ngaji" serius seperti ini dengan melibatkan tiga kasta keilmuan begitu. 

Ketiga, seminar penting, tetapi yang kecil dan "menthes" begini lebih penting. Saya tidak tahu, perasaan saya, kita ini lebih suka seminar dengan 5000 peserta daripada giat memiliki forum-forum kecil spesialis yang meningkatkan kapasitas kita.

Keempat, sebagai orang Jawa, saya jadi "getun" tidak belajar sastra Jawa. Saya "mbatin" mengapa kekayaan intelektual seperti ini seperti ini tidak laku di Jawa. Padahal, baru sekali ikut belajar satu jam saja, saya sudah tak "berdaya" dengan kuasa sastranya. 

Kelima, terkait Jawa dan Islam, kalau orang sekarang ramai mengusung Islam Nusantara, ada baiknya kita mulai kajian-kajiannya dari Jawa. Universitas Islam Negeri di Jawa, khususnya, menurut saya wajib membuka prodi sastra Jawa. Sebab, tanpa memahami Jawa, kita akan gagal memahami Islam Nusantara. 

        

 

   

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama