Tentang Bayi Menguji Skripsi
Beberapa hari yang lalu, saya melihat sebuah unggahan tentang ujian skripsi di fakultas sebelah. Salah satu dosen hadir sebagai penguji sambil membawa bayi enam bulan. Kehadiran bayi mungil yang lucu itu memancing salah satu penguji untuk membuat lelucon: “penguji termuda sejagat raya.” Lelucon itu dianggap tepat, dan ia mungkin mengambilnya sebagai kisah inspiratif tentang dosen muda yang sukses membagi peran antara mendidik dan mengasuh. Tetapi saya koq tidak. Saya tidak tahu mengapa bayi itu bisa hadir di ruang ujian. Saya tidak tahu apakah ibunya sedang bekerja, sakit, apakah tidak ada pengasuh, atau apakah memang keputusan itu diambil sebagai bentuk kompromi antara kerja dan keluarga. Saya tidak ingin menduga-duga. Motif pribadi di luar jangkauan saya. Saya hanya akan menilai sebatas fakta tindakan yang tampak di ruang publik, karena di ruang itulah yang bisa kita akses bersama, bisa diuji secara etis, dan harus dijaga secara wajar. Kaidah Fikih nya, nahnu nahkumu bi al...