Saya memaklumi 100% mereka yang harus kerja di luar rumah karena keadaan. Bagi mereka, pilihannya hanya ada dua: kerja keluar berisiko tertular atau di rumah tidak makan dan mati. Dalam Fikih, hukum kerja di luar bagi mereka sudah berkategori daruri , seperti memakan bangkai. Kalau tidak makan, mati. Tetapi bagi mereka yang punya pilihan dan masih memilih kerja di luar, kumpul-kumpul yang bisa digantikan, berada di ruangan bersama orang yang tidak diketahui membawa virus atau tidak, apa yang mereka pikirkan? Saya duga sumbernya adalah sikap 'asal bukan'. Sikap 'asal bukan' ini kita tiru atau (sebaliknya) diwakili oleh, pemerintah kita sendiri. Dulu, di awal Covid-19, pemerintah kita menyepelekan bahaya Covid-19. Seolah-olah, Covid-19 hanya akan berhenti di Cina. Kaidahnya, "asal bukan negara tetangga kita". Santai saja. Begitulah, ketika hampir semua negara ASEAN sudah tertulari, kita malah kampanye membuka pintu wisata. Kan asal bukan kita? Lalu, tibalah vir...