Ruang Merokok itu Membungkam Saya
Minggu lalu saya ada kuliah di lantai 4. Selesai mengajar, saya turun lewat tangga timur gedung FDK. Tepat di turunan lantai 3, saya melihat sekelompok mahasiswa sedang santai merokok. Langit gelap, hujan deras sore itu seperti menciptakan latar sempurna bagi para perokok: udud, klepas-klepus, dengan segelas kopi panas sebagai pelengkap. Biasanya saya tak ragu menegur. Saya akan katakan langsung bahwa ini lingkungan pendidikan, asapnya menganggu orang lain, atau haram merokok di sini. Tak segan saya usir mereka agar pindah ke tempat parkir. Sore itu, hanya saja, saya kehilangan moral untuk menegur. Bukan karena takut. Bukan pula ragu. Tapi karena tepat di belakang tempat mereka duduk, ada sebuah ruang kecil—ruang yang belum lama ini kami desain sebagai ruang merokok bagi dosen dan tenaga kependidikan. Ini semacam "ruang kompromi." Sebelum saya menjabat, ada beberapa area yang dipakai tongkrongan dosen dan tendik untuk merokok. Terbuka, tanpa sekat, tanpa batas. Asapnya ke man...