Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Ruang Merokok itu Membungkam Saya

Gambar
Minggu lalu saya ada kuliah di lantai 4. Selesai mengajar, saya turun lewat tangga timur gedung FDK. Tepat di turunan lantai 3, saya melihat sekelompok mahasiswa sedang santai merokok. Langit gelap, hujan deras sore itu seperti menciptakan latar sempurna bagi para perokok: udud, klepas-klepus, dengan segelas kopi panas sebagai pelengkap. Biasanya saya tak ragu menegur. Saya akan katakan langsung bahwa ini lingkungan pendidikan, asapnya menganggu orang lain, atau haram merokok di sini. Tak segan saya usir mereka agar pindah ke tempat parkir. Sore itu, hanya saja, saya kehilangan moral untuk menegur. Bukan karena takut. Bukan pula ragu. Tapi karena tepat di belakang tempat mereka duduk, ada sebuah ruang kecil—ruang yang belum lama ini kami desain sebagai ruang merokok bagi dosen dan tenaga kependidikan. Ini semacam "ruang kompromi." Sebelum saya menjabat, ada beberapa area yang dipakai tongkrongan dosen dan tendik untuk merokok. Terbuka, tanpa sekat, tanpa batas. Asapnya ke man...

Saya Kiai, Tapi Bukan Kiaimu

Gambar
  Kemarin saya menonton video seorang dokter di Amerika yang menjelaskan tentang proses penuaan. Namun, sebelum masuk ke materi, ia mengatakan: “Saya seorang dokter, tapi saya bukan doktermu. Untuk urusan kesehatanmu, konsultasi ke doktermu.” Pernyataan ini terdengar sederhana, namun menarik: si dokter membatasi perannya, mengakui adanya konteks individual, serta menghormati hak setiap orang atas keputusan yang menyangkut dirinya. Ini ya etis banget! Saya pikir-pikir, mengapa sikap seperti ini jarang kita temui dalam dunia keulamaan atau dakwah? Seringkali, seorang kiai atau penceramah agama merasa berhak memberi fatwa umum, berlaku mutlak, tanpa mengenali konteks orang per orang jamaahnya. Padahal, dalam tradisi Islam, kita mengenal prinsip bahwa hukum agama tidak tunggal dan mutlak dalam aplikasinya. Dalam ushul fiqh, dikenal kaidah al-ḥukm yadūru ma‘a ‘illatihi wujūdan wa ‘adaman — bahwa hukum itu bergantung pada illat-nya, pada konteks yang menyertainya. Kita pun mengenal ri...

Radar Citasi Scopus

Gambar
Mosques for All: Nahdlatul Ulama and the Promotion of the Rights of People with Disabilities Maftuhin, A. Journal of Indonesian Islam ,  2021, 15(2), pp. 247–270 Citations in Scopus   The Fikih Difabel of Muhammadiyah: context, content, and aspiration to an inclusive Islam Maftuhin, A. , Muflihati, A. Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies ,  2022, 12(2), pp. 341–367 Citations in Scopus Islamic Law, Disability, and Women in Indonesia: The Cases of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah Maftuhin, A. Journal of Disability and Religion ,  2024, 28(1), pp. 13–27 Citations in Scopus The historiography of islamic law: The case of tarikh al-tashri' literature Maftuhin, A. Al-Jami'ah ,  2016, 54(2), pp. 369–391 Citations in Scopus Translating the untranslatable: The Jalālayn learning as a translation practice Maftuhin, A. Indonesia and the Malay World ,  2023, 51(151), pp. 279–303 Citations in Scopus Disability and Islamic Law in Indonesia: Beyond the RukhSah M...