Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2022

Istrinya sakit, kehilangan uang, dan ia masih menyumbang masjid!

Gambar
Turun dari mimbar khutbah di Masjid Mardiyah, UGM, saya dan sang imam Jumat diminta mampir ke "ruang kontrol." Ya, begitu mereka menyebut ruang transit yang sekaligus menjadi ruang kendali audio masjid dan CCTV-nya. Kami berkenalan. Sang imam ternyata mahasiswa UIN, santri Krapyak.  Saat di ruang itu, salah satu takmir meminta izin untuk membuat pengumuman lewat pengeras suara. "Assalamu'alaikum Wr. Wb. Hadirin jamaah Jumat, mohon perhatian, telah ditemukan sejumlah uang dalam amplop putih. Bagi yang merasa kehilangan, silakan menghubungi takmir masjid..." Kurang lebih demikian isi pengumumannya. Uang itu ditemukan oleh seorang jamaah yang baik hati tadi malam, sekitar waktu Isya. Jadi, kemungkinan si pemiliki mendengar pengumuman dan lapor ke takmir sebenarnya tidak cukup besar. Tetapi, tak lama kemudian, pintu diketuk. Seorang lelaki kurus, berkulit gelap, dengan gurat-gurat wajah 60 tahunan diantar salah satu pegawai kemanan masjid.  Saya segera pindah kursi ...

Khutbah Hari Santri

Gambar
Hadirin, Jamaah Jumat Masjid Mardiyah yang dimuliakan Allah. Izinkanlah saya selaku khatib untuk berwasiat kepada jamaah dan kepada pribadi saya untuk tidak lelah-lelahnya berjalan di atas garis ketaqwaan. Baik dengan cara menjalankan perintah Allah, maupun dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.  Untuk itu, marilah juga kita memohon pertolongan Allah agar kita dapat memenuhi wasiat yang berat itu. La haula wa la quwwata illa billah . Kepada Allah kita menyembah dan kepada-Nya memohon pertolongan. Pesan taqwa semisal ini, karena diulang-ulang setiap Jumat, kadang memang terasa normatif. Terutama, karena kita sering kali berhenti di tingkat pernyataan umum, pesan umum tentang "melaksanakan perintah dan menjauhi larangan." Padahal, jika kita mau menurunkan yang umum itu ke dalam setiap helaan nafas kita, pesan itu 100% persen relevan, praktis, dan diperlukan. Contohnya, ketika di jalan raya. Kita sering melihat orang yang menerobos lampu merah. Mungkin mereka tergesa-gesa, mungk...

Mengajarkan Kejujuran

Gambar
Kejujuran itu barang aneh. Mungkin. Sebab, selama bertahun-tahun saya mengajar, ketidakjujuran justru menjadi barang yang normal.  Sering kali, peringatan di awal kuliah saja tidak cukup. Kadang, sudah diulang-ulang di setiap memberikan tugas juga masih belum cukup. Ketidakjujuran, tentu bagi sebagian orang, bukan barang haram.  Terkait tugas-tugas kuliah, misalnya, nyontek dianggap perilaku yang sah-sah saja. Hari ini, saya mengoreksi pekerjaan para mahasiswa saya. Awalnya, karena sudah memberikan peringatan di awal kuliah, saya husnu zan  saja. Saya tidak melakukan pengecekan terkait plagiarisme. Toh, tugas kuliahnya juga gampang sekali: praktik melayout sebuah naskah agar sesuai dengan ketentuan penulisan skripsi. Tugas gampang sekali! Tetapi, husnu zan saya segera terhenti begitu saya dihadapkan tiga naskah yang memiliki kekeliruan yang identik. Kalau sama-sama benar, dosen pasti tidak bisa mendeteksi. Tetapi kalau sama-sama keliru, dan di bagian yang tidak mungkin te...

Preventing Plagiarism

Gambar
  Adalah kehormatan bagi saya untuk dapat berbagi pengalaman tentang plagiarisme dengan teman-teman di BRIN. Ya, saya kira "berbagi pengalaman" adalah istilah yang tepat karena saya memang berpengalaman menjadi korban diplagiat dan editor yang berhadapan dengan kasus-kasus plagiarisme. Secara isi dan materi, pandangan saya tentang plagiarisme sudah saya tulis di buku Tanya Jawab Plagiarisme , dan saya tidak ingin mengulangi kontennya di forum ini. Slide berikut hanya sebagai panduan penyajian gagasan saja.

Mas Dian Nafi'

Gambar
  Setelah mengikuti PKD PMII Solo tahun 1993, acara pertama yang sya ikuti di PMII adalah AMT (Achievement Motivation Training). Acara ini digelar dengan fasilator tunggal, oleh orang NU yang menurutku saat itu tidak seperti umumnya orang NU: tampil elegan, rambut dipotong rapi, bicara dengan penuh percaya diri, dan membawa acara dengan smart. Kulit putih dan mata agak sipit membuat fasilitator AMT kami itu lebih tampak seperti motivator "mahal" yang biasa dipakai perusahaan-perusahaan besar. Mulai hari itu dan selanjutnya, kami biasa memanggilnya Mas Dian. Materi yang diberikan hari itu banyak mengubah hidup saya. Mas Dian berhasil membuat menyadari kelemahan-kelamahan saya, dan mengubah kelemahan itu menjadi kekuatan. Mas Dian juga berhasil menanamkan berbagai sikap mental penting untuk sukses. Membekali kami dengan berbagai alat untuk melihat masalah secara positif dan visioner. Meski semua materi ini penting dan snagat penting, tetapi yang paling memotivasi saya sebenarny...