Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Jangan Jadi Imam!

Gambar
Sesekali jadilah makmum. Dengan menjadi makmum, Anda akan mengerti keadaaan jamaah yang Anda imami. Anda akan mengerti apakah cara Anda mengimami sesuai dengan kebutuhan makmum. Apakah 'selera' shalat Anda berkenan di 'lidah' para jamaah. Pak Rahmadi, yang akan saya ceritakan hari ini, adalah jamaah paling rajin di Langar kami. Setiap subuh, ia selalu datang pertama, membuka pintu, menyalakan lampu, mengisi air kamar mandi bila berlu. Lalu, klik, ambil nafas, dan "Allahu Akbar Allahu Akbar!" Suara tenor-nya  segera memecah kesunyian ujung malam. Kalau Anda seorang 'santri', yang terbiasa ngaji  sejak dini, Anda tentu segera mendengar lafal-lafal janggal dalam adzan dan doa yang ia lantunkan sesudahnya. Tetapi siapa pun harus maklum, tidak semua orang harus pintar ngaji seperti kaum santri. Yang penting, semua orang perlu  rajin mengaji. Seperti Pak Rahmadi. Soal niat, kita pasrahkan saja kepada yang tahu rahasia hati. Pak Rahmadi ke langgar pag...

Sang Pengingat Hati

Gambar
Pak [ng]Abbas bukan orator besar, tak selevel dengan Aa Gym atau Yusuf Mansur, bahkan mungkin juga tak selevel dengan Anda yang membaca tulisan saya lewat blog dan facebook. Ia hanya seorang pegawai kecil di kelurahan kami. Ia tinggal di sebuah desa tak terkenal di timur Kota Gedhe. Meskipun tidak tinggal di tempat ia bertugas, jauh-jauh Pak Ngabbas selalu datang ke Langgar kami setiap bulan Ramadhan, ‘tarling’ kata Harmoko dulu. Dan ia satu-satunya apara desa yang tarling, karena memang ia mengambil inisiatif sendiri untuk tarling, bukan karena program desa atau demi kepentingan politik. Setiap ia datang, kami selalu memberinya kesempatan untuk ceramah. Siapa pun yang sudah dijadwal ceramah, kalau ada Pak Ngabbas selalu mengalah, mengutamakan kehadirannya. Ia kami beri kesempatan bukan karena ceramahnya hebat seperti Mario Teguh yang banyak Anda “LIKE” di facebook. Malah, saya sudah hapal isi ceramahnya yang selama tiga kali Ramadhan di sini selalu sama: soal hati! Tetapi...

Eugene Robinson - Republicans pander over 'Ground Zero mosque'

Ada dua tulisan menarik hari ini di Washington POst, salah satunya dari Eugene Robinson: Republicans pander over 'Ground Zero mosque' Dan yang kedua dari Richard Cohen: Obama muddles his mosque message. Dua-duanya menarik untuk dibaca sebagai suara pro dialog Islam-Barat dan Amerika sebagai negeri dengan kebebasan bagi siapa saja.

Tentang Plagiarisme

Sejak beberapa waktu terakhir, plagiarisme menjadi keprihatinan saya karena ada banyak kasus yang membuat saya benar-benar resah: di UIN, ada doktor yang disertasinya terpilih sebagi disertasi terbaik tingkat nasional (Depag), yang terbukti hanya mengalihkan beberapa bab karya orang lain, tetapi tidak ada tindakan tegas. Ada yang terbukti memalsu tesis tetapi hanya diminta menulis ulang tanpa sanksi akademik. Di univeritas 'sebelah', ada lagi seorang doktor yang sudah jelas-jelas terbuti 'mengganti sampul' buku orang lain menjadi bukunya (kurang ajar benar!) tetapi sampai sekarang orang itu tetap dibiarkan terus memproduksi buku-buku jiplakan atas nama dan ketenarannya. Selain yang besar-besar, yang kecil-kecil tak terhitung. Di Jogja ini, ada teman yang kamarnya penuh dengan puluhan skripsi hasil karyanya (yang ia tulis demi 'menolong' mereka yang memang tak 'ditakdirkan' mampu menulis). Kalau Anda baca iklan 'biro kunsultasi skripsi' atau ...

Menulis tentang plagiarisme tetapi njiplak juga... (2)

Menanggapi teman-teman yang menanyakan bagaimana saya mengkategorikan karya Ninok -- walaupun sudah menyebut sumber di awal artikel -- itu sebagai plagiarisme, jawaban saya adalah: Pertama, proporsi IHT dalam tulisan itu sangat besar (lebih dari sepertiga) (lihat aturan  fair use  tentang berapa banyak Anda boleh memuat karya orang lain dalam tulisan Anda). Kedua, bukannya mengutip dengan bahasa dan poin-poin yang meringkas dan mempertegas siapa pemilik poin-poin itu, Ninok justru mengaburkannya dengan tidak mengutip lagi sumbernya dan dengan menyelipi pandangan tambahan (ada yang diawal alinea, ada yang di tengah). Ketiga, sebagain besar, artikel Inggris itu diterjemahkan, bukan dikutip, dan dengan bahasa terjemahan yang masih sangat kaku (atau yang saya sebut masih terasa 'sangat inggris). Perbandingan Tulisan Ninok dan NYT Dalam tabel berikut, sebelah kiri adalah tulisan Ninok dan sebelah kanan adalah tulisan Trip Gabriel di New York Times (yang dimuat ulang oleh ...

Menulis tentang plagiarisme tetapi njiplak juga...

Sewaktu pertama kali membaca artikel Ninok Leksono di Kompas, ada sebuah alinea yang membuat saya curiga:  Tetapi, yang lebih jauh adalah internet juga telah meredefinisi bagaimana mahasiswa—yang hidup pada era berbagi file musik, Wikipedia, dan pencantolan web—memahami konsep menghasilkan karya ( authorship) dan singularitas setiap teks atau gambar ( image). Kata 'meredefinisi', 'berbagi file musik', 'pencantolan web', 'singularitas', adalah kata-kata yang 'sangat inggris' dan tidak terdengar 'alami' dalam ekspresi bahasa Indonesia. Saya curiga, kalimat ini tidak orisinil! Hari ini, saya menemukan jawabannya: Ninok memang hanya menerjemahkan laporan International Herald Tribune! Ia memang menyebut IHT di awal tulisan, tetapi pada banyak alinea, dia hanya menerjemahkan saja bukan membuat kutipan-komprehensif. Bandingkan alinea di atas dengan ini: The Internet may also be redefining how students — who came of age with music file-sharin...

BBC News - Indonesian cleric Abu Bakar Ba’asyir in terror arrest

BBC News - Indonesian cleric Abu Bakar Ba’asyir in terror arrest Officials say he helped set up and fund an Islamic militant training camp in Aceh, uncovered by police in February. Mr Ba'asyir told reporters outside police headquarters in Jakarta that his arrest had been arranged by the US. Mr Ba'asyir had previously served 26 months in jail before being cleared of involvement with Jemaah Islamiah (JI), the group behind the 2002 Bali attacks. The 71-year-old was imprisoned for conspiracy over the bombings, in which 202 people died. However, his conviction was overturned and he was released in 2006. He has been accused of giving spiritual leadership to JI, which has links to al-Qaeda - a claim he denies. 'Significant allegations' Mr Ba'asyir was arrested in West Java by anti-terror police but has not yet been formally charged. Under Indonesia's anti-terror laws police can question him for up to a week without filing charges.

Lexington: Build that mosque | The Economist

Gambar
Ini adalah berita terbaru Kontroversi Masjid di Amerika The campaign against the proposed Cordoba centre in New York is unjust and dangerous Aug 5th 2010 WHAT makes a Muslim in Britain or America wake up and decide that he is no longer a Briton or American but an Islamic “soldier” fighting a holy war against the infidel? Part of it must be pull: the lure of jihadism. Part is presumably push: a feeling that he no longer belongs to the place where he lives. Either way, the results can be lethal. A chilling feature of the suicide video left by Mohammad Sidique Khan, the leader of the band that killed more than 50 people in London in July, 2005, was the homely Yorkshire accent in which he told his countrymen that “your” government is at war with “my people”. For a while America seemed less vulnerable than Europe to home-grown jihadism. The Pew Research Centre reported three years ago that most Muslim Americans were “largely assimilated, happy with their lives… and decidedly Amer...

Hard-Line Islam Fills Void in Pakistan’s Flood Response - NYTimes.com

Gambar
Hard-Line Islam Fills Void in Pakistan’s Flood Response Behrouz Mehri/Agence France-Presse — Getty Images An Islamic charity distributed food to people displaced by flooding in Pakistan at a camp set up on the outskirts of Charsadda this week. The charities have responded efficiently to the crisis. By ADAM B. ELLICK and PIR ZUBAIR SHAH Published: August 6, 2010 CHARSADDA, Pakistan — As public anger rises over the government’s slow and chaotic response to Pakistan ’s worst flooding in 80 years, hard-line Islamic charities have stepped into the breach with a grass-roots efficiency that is earning them new support among Pakistan’s beleaguered masses.

After Years of Inefficiency, Indonesia Emerges as an Economic Model - NYTimes.com

By AUBREY BELFORD JAKARTA — After years of being known for inefficiency, corruption and instability, Indonesia is emerging from the global financial crisis with a surprising new reputation — economic golden child. The country’s economy, the largest in Southeast Asia, grew at an annual rate of 6.2 percent in the second quarter of this year, data released Thursday showed. That is an acceleration from 2009, when gross domestic product expanded 4.5 percent. The stock market hit a record high last week and has been among the best-performing equities markets in Asia this year, rising more than 20 percent since Jan. 1. The country’s currency, the rupiah, has appreciated nearly 5 percent this year against the dollar , among the strongest showings in Asia besides that of the yen . Foreign direct investment, which was held in check for years after the 1997 economic crisis in Asia, is also returning. The country had 33.3 trillion rupiah, or $3.7 billion, in foreign direct investment in the second...