Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2023

Pesan Klathak

Gambar
Beberapa kali saya menerima pesan "klathak" via WhatsApp. Menurut orang di kampung saya di Bantul, "kuburan klathak" itu artinya kuburan yang tidak bercungkup. Sebelah rumah saya misalnya, ada kuburan klathak.  Nah, kalau "sate klathak," adalah sate tanpa bumbu. Kampung sebelah desa saya, Jejeran, pusatnya sate klathak. Jadi, mungkin, sate klathak itu ya sama dengan kuburan klathak, tanpa cungkup, tanpa bumbu. "Pesan klathak," adalah pesan yang tanpa bumbu, tanpa cungkup. Misal, saya pernah menerima undangan PDF untuk sebuah kegiatan, ya hanya PDF yang dikirim. Tanpa salam, tanpa kulo nuwun, tanpa basa-basi. Padahal, saya narasumber acara itu.  Klathak tenan ik 😅  Pernah juga ada orang kirim proposal yayasan secara klathak. File pdf dikirim, tanpa salam, tanpa penutup. Ya, saya biarkan saja. Karena klathak, ya saya nggak paham, apakah dia minta sumbangan atau dia salah kirim. Wong saya tunggu-tunggu dia juga nggak ngomong apa-apa. Klathak!  Pesa...

Kopi dan Puisi di Egalita

Gambar
Sebulan lalu, saya ditelpon Pak Setia. "Datang ke Dria ya, kita sudah buka warung kopinya!" Beberapa minggu sebelumnya, saat ngobrol di salah satu angkringan di Jl. Patangpuluhan, Pak Setia memang cerita kalau pertemuan berikutnya tidak perlu di luar, kita buka angkringan sendiri.  Karena kesibukan ini dan itu, saya belum sempat ke sana. Sabtu pagi saya WA beliau, "Pak saya mau mampir ke warung kopinya. Njenengan kapan piket ?" Karena kantor Dria itu agak jauh dari rumahnya, Pak Setia nggak selalu di sana. Ia pesan, kalau mampir tolong kabari biar beisa ketemu. Tak lama kemudian, saya ditelpon, "Nanti sore ya, kebetulan ada event seru. Tunanetra Baca Puisi." Meski sempat terlambat dari jadwal, say datang "tepat waktu" acara dimulai. Kantor Dria Manunggal sekarang sudah disulap sebagai cafe cum  perpustakaan. Saya baru tahu kalau ternyata Mas Irwan yang dulu aktif di Mitra Ntera yang menggawangi cafe ini. Mas Irwan ini tunanetra, alumni UIN Jakart...

Pidato Pengukuhan Guru Besar

Gambar
Baca juga di Googleplay Buku ini tertanggal 4 Juli karena dicetak untuk Sidang Senat Terbuka yang dijadwalkan pada tanggal tersebut dan kemudian ditunda menjadi tanggal 4 Agustus 2023. Buku ini membahas tiga hal pokok. Pertama, refleksi terhadap perjalanan panjang studi Islam dan disabilitas di Indonesia, dalam konteks promosi hak penyandang disabilitas.  Kedua, merumuskan sebuah gagasan tentang Fikih Difabel. Bagian kedua merupakan catatan gagasan bahwa apa yang selama ini disebut Fikih Disabilitas atau Fikih Difabel sesungguhnya baru dapat disebut “fatwa” adhoc tentang isu-isu disabilitas dan belum memenuhi harapan untuk disebut Fikih Difabel.  Maka, di bagian ketiga, saya akan mengusulkan pentingnya penulisan Fikih Difabel itu dan bagaimana formatnya. Dua tema tersebut, di akhir tulisan, akan menjadi argumen saya bagi adanya relasi Fikih difabel dan Fikih Sosial.

Pidato Yudisium 35 FUAD UIN Satu

Gambar
  Point-poin penting dari pidato yudisium ini adalah: Catatan terhadap perbedaan nama fakultas di berbagai universitas, menyoroti kebingungan tentang kegunaan sebenarnya dari nama-nama tersebut. Berbagi pengalaman pribadi tentang perjuangan dalam pendidikan, menekankan pentingnya bersyukur atas kesempatan pendidikan yang dimiliki, serta mengkritisi pandangan masyarakat tentang pendidikan berdasarkan gender. Pendidikan bukanlah akhir dari pembelajaran, saya menekankan pentingnya terus belajar dan berkembang, seperti yang ditunjukkan oleh pengalaman belajar bahasa Spanyol, Ibrani, dan Jepang. IPK bukanlah penentu kesuksesan, diilustrasikan dengan pengalaman saya pribadi dan teman-temannya, yang menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademis.

Setelah Selesai, Memulai Lagi! Begitulah Takdirmu

Gambar
Selesai dua tahun lagi? Nggak lah. Ini ditargetkan cepat koq, satu tahun begitu 😆 Ya, setahun itu termasuk cepat, apalagi butuh penelitian lapangan. Akan perlu waktu untuk silaturahim ke para punggawa pengadilan, seperti Pak Hakim Muhamad Isna Wahyudi (siap tak repotin ya om 😅) Dan beginilah biasanya saya memulai. Naskah finalnya nanti insyaallah dalam bahasa Inggris, tetapi ngdrafnya ya campur-campur begini. Maklum software kepala saya memang lokal. Diajak mikir Inggris ya grothal grathul. Penelitian seperti ini tidak pakai proposal. Proposal hanya di kepala saya. Lalu yang di kepala itu dituangkan sambil jalan. Kadang ditulis juga sih kalau sudah agak ketemu arahnya. Dibuat kerangka argumen begitu. Tetapi, ya selalu flksibel, termasuk ganti pertanyaan riset di tengah jalan. Tidak perlu bikin proposal karena saya juga nggak minta duit ke negara. Meneliti karena hobi, menulis karena ingin memberi. Halah. Pret. Hahaha. Ya kalau waktunya pas dan memungkinkan, tentu saja saya akan guna...

Sembilan Ribu Kata, Sembilan Ratus Hari

Gambar
Setelah dua tahun berproses, sebuah naskah sepanjang 8970 kata baru saja saya selesaikan. Idenya muncul saat melamar posdoct di Israel. Lalu, sejak saat itu, kata demi kata dituangkan. Data demi data, buku demi buku, artikel demi artikel dijelajahi. Maka, demikian juga kata demi kata dibuang. Draf demi draf dibongkar dan dipasang. Semua demi mengikuti ke mana data demi data membawa. Demikianlah cara kerja ilmu saya. Butuh waktu, butuh teliti, dan terpenting butuh interpretasi. Dalam ilmu saya, batas antara data yang objektif dan ilmu yang subjektif itu kabur. Sedapat mungkin data objektif dikumpulkan, tetapi "sesadar mungkin" kita tahu yang "objektif" hanya berbunyi dengan dikonstruksi subjektifitas kita. Ilmu yang subjektif dan interpretif itu bersifat personal, seobjektif apapun data yang kita miliki. Karena itu, tulisan yang kita buat pun umumnya juga personal. Dalam proses bergulat mengumpulkan dan menafsirkan data itu, kenikmatannya ya kenikmatan personal. Nyar...