Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

6 Alasan Mengapa Anda Perlu Waktu Imsak

Gambar
Pesan di WA atau media sosial jelas bukan fatwa. Tetapi pengaruhnya mungkin melebihi Fatwa MUI yang tidak populer. Misalnya pesan bahwa waktu imsak tidak dicontohkan Nabi. Saya sudah terima pesan ini dulu-dulu, nggak saya gubris. Eh, muncul lagi. Muncul lagi lewat berbagai jalur yang dalam ilmu Hadits bisa membuat sesuatu yang sesungguhnya daif (lemah) menjadi " hasan lighairih " (layak karena didukung oleh jalur lain). Ini versi terakhir yang saya ingin komentari, karena disebar di kalangan terdidik UIN dan tampaknya dibenarkan oleh sebagian pembacanya. Waktunya bicara kalau gitu! 1. Waktu Imsak bukan Ciptaan Islam Nusantara Imsak hanya di Indonesia dan Malaysia? Ciptaan Islam Nusantara? Anda yang punya jaringan teman internasional bisa tanya teman-teman Anda di berbagai belahan dunia lain. Di Arab, di Turki, dan di negara-negara lain (kecuali bagi yang beraliran Wahabi tekstualis seperti penulis pesan WA itu), penggunaan Imsak adalah hal yang biasa saja. Ini juga a...

Ramadan 05: Arif

Gambar
Dalam pertemuan yang singkat, saya hanya ingat namanya Arif. Gampang karena namanya sama dengan namaku. Ia tuli dan bisu. Sore itu ia datang ke kantor PLD (Pusat Layanan Difabel) ditemani Galih, salah satu relawan kami yang fasih bahasa isyarat. Untuk mahasiswa difabel, kami memang memberi pendampingan sejak mereka mendaftar. Melayani konsultasi jurusan pilihan, mendampingi proses pendaftaran online, pembayaran, dan hal-hal teknis lain terkait persiapan kuliah masuk di UIN. Dengan mendampingi sejak dini, kami berharap mengenal mereka lebih dekat sebelum kuliah. Tes tertulis seperti mahasiswa lain wajib mereka tempuh, tetapi untuk menilai kesiapan mereka kuliah tes saja kami anggap tidak memadai. Karena kebutuhan-kebutuhan khususnya, 'admisi' khusus sangat diperlukan bagi mereka. Ada yang bilang, cara itu diskriminatif. Bagi kami tidak. Untuk masuk perguruan tinggi, semua orang harus melewati pendidikan dasar dan menengah. Kalau sistem pendidikan pra-universitas sudah ad...

Ramadan 04: Jamaah yang Nyebelin

Gambar
Masjid itu tempat orang datang untuk menyucikan diri. Kita datang ke masjid karena kita merasa kotor dengan dosa yang kita perbuat dan berharap welas-Nya agar kita menjadi manusia yang lebih baik. Datang bawa dosa, pulang bawa ampunan dan pahala. Rugi, kalau kita datang dan pulang tetap membawa dosa. Karena mereka yang ke masjid, seperti kita juga, bukan orang suci, maka jangan heran jika masjid juga tempat orang-orang 'nyebelin', the trouble makers. Saya pernah baca kisah teman saya yang pusing mikir jamaahnya karena urusan menyalakan atau mematikan kipas angin. Yang satu merasa kepanasan yang lain merasa kedinginan. Sebagai takmir, mana yang harus diakomodir? Tanpa melupakan diri sebagai orang yang berpotensi bikin sebel jamaah lain, ijinkan saya curhat tentang jamaah yang bikin saya sebel. Orang ini kalau ke langgar selalu bawa HP. Well , orang sibuk? Mungkin. Tetapi apa susahnya meninggalkan HP di rumah 10-15 menit. Toh kita hanya datang untuk salat berjamaah lalu pu...

Ramadan 03: Nasehat

Gambar
Biasanya, penceramah Ramadan seperti saya diundang untuk memberi nasehat. Untuk apa ceramah kalau tidak punya bobot nasehat? Pekerjaan seperti itu, tentu saja berat. Saya butuh waktu lama sekali untuk memutuskan mau menerima undangan-undangan memberi ceramah di masjid dan langgar sekitar rumah. Saya biasa menceramahi mahasiswa di kampus, tetapi merasa tidak pas untuk menceramahi masyarakat.  Pepatah Arab mengatakan lisan al-hal ablaghu min lisan al-maqal (pesan lewat teladan lebih mengena daripada pesan lewat lisan). Orang lebih mempercayai dan mengikuti apa yang kita teladankan daripada omongan berbusa-busa lewat mikropon musalla. Saya merasa, saya bukan tipe orang yang bisa memberi teladan. Tetapi saya marasa beruntung karena masyarakat ternyata tahu persis saya manusia biasa. Saya bukan ustadz, bukan kyai, dan bukan pula malaikat. Karena itu, kadang saya menerima nasehat dari jamaah. Oh, itu menyenangkan sebab: pertama , saya merasa dihargai dengan nasehat yang mereka...

Ramadan 02: Amal Maksimal Islam Minimal

Gambar
Memang, kenyataannya selalu begini: Ramadan bulan ibadah. Khususnya lagi, sepuluh hari pertama. Malam taraweh pertama semalam, langgar sebelah rumah penuh jamaah. Sampai tumpah keluar langgar dan menggelar tikar.  Padahal kami sudah memperluas langgar dengan dua saf. Pak Zainuddin MZ almarhum pernah mengkritik fenomena ini dengan mengatakan "semakin mendekati Idul Fitri, jamaah di masjid semakin mengalami kemajuan: maju saf-nya" Artis-artis yang tidak biasanya berjilbab, menutup tubuh rapat-rapat. Mereka tampak khusuk pula ikut acara-acara pengajian, minimal yang di TV. Sementara para penyanyi berlomba mengeluarkan musik religi. Di sekitar kita, mereka yang tidak biasa mengaji, selama Ramadan berlomba menamatkan al-Qur'an. Langgar dan masjid di sekitar kita ramai mengumandangkan bacaan al-Qur'an (tadarrus) sampai larut malam. Kadang sampai mengganggu tidur ibu-ibu yang harus bangun paling awal menyiapkan sahur (peduli amat, gue kan sedang syiar nih) Salahkah ...

Ramadan 01: Memulai Puasa

Gambar
Ramadan sudah tiba lagi. Kita bareng-bareng memulainya besok pagi. Tidak ada yang beda tahun ini. Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah (tiga yang paling penting karena paling banyak pengikutnya) akan memulai puasa pada tanggal 18 Juni 2015. Apakah mereka sudah rukun dan sepakat untuk menggunakan satu kalender? Oh, tidak. Ini kebersamaan akibat Om Hilal sendiri. Memang, selama Om Hilal tidak intervensi langsung, jangan harap pemerintah, NU, dan Muhammadiyah dapat bersatu dalam kalender tunggal. Beberapa waktu yang lalu, pemerintah melalui Kemenag melakukan safari ke ormas-ormas Islam untuk menyatukan kalender. Tetapi sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda kesatuan itu. Pemerintah tetap dengan kriterianya, Muhammadiyah tetap dengan hisabnya, NU tetap dengan ru'yahnya. Tahun ini, intervensi Om Hilal membuat tiga mazhab itu berdamai. Om Hilal sengaja sembunyi total pada tanggal 29 Sya'ban. Ia berbaring di bawah ufuk hingga Muhammadiyah tak menemukan wujudnya dan, apalagi, NU tak bi...

Jangan Percaya Soekarno Lahir di Surabaya!

Gambar
Saya orang Blitar dan bukan sejarawan profesional, walaupun pernah mengambil kuliah tentang teori sejarah, historiografi, dan metode penelitian sejarah dari para guru terbaik seperti Pak Joko Suryo, Pak Bambang Purwanto, dan Pak Margana. Jadi, saya akan menulis dengan segala keterbatasan saya dan karena itu tidak akan menyentuh substansi kebenaran historis kelahiran Soekarno. Ini toh hanya tulisan di blog. Saya hanya ingin membela ingatan saya saja. Ingatan apa? Saya lahir di Blitar. Setiap saya menyebutkan kota kelahiran saya, dimana pun, orang selalu merespon, "Wah sama dengan Bung Karno dong!". Oh ya? Setahu saya Surabaya! (Berlagak kaget, baru tahu kalau ia lahir di Blitar, lalu berlagak sudah baca buku Cindy Adams dan menghafal isinya sampai bab dan halaman, yang menyebut persis tanggal lahir dan kotanya seperti selebritis Facebook Sidrotun Naim yang punya 5000 followers ). Saya juga ingat di luar kepala sebuah lagu campursari (bukan bukti sejarah) yang memuja Blit...