Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

Khotbah yang tidak didengarkan

Gambar
Setelah naik ke mimbar, ia mengambil teks khotbah itu dan membacanya. Entahlah, apakah itu teks yang ia dapat dari Internet atau kutipan dari buku khutbah yang biasa dibaca di masjid-masjid desa orang NU. Struktur khutbah yang ia baca adalah struktur standar buku-buku khotbah yang dikoleksi Bapak saya di rumah. Khotbah didahului dengan muqaddimah kalimat-kalimat pujian berakhiran semisal. Isi khotbah terdiri atas dua bagian: bagian awal berbahasa Arab dan bagian kedua terjemahan dari teks Arab. Tetapi, berbeda dengan Bapak saya yang membaca buku-buku khotbah sekali dua kali sebelum berangkat ke masjid, khatib yang satu ini tampaknya cukup percaya diri dengan langsung membaca teks khutbah di atas mimbar. Hasilnya? Satu, dua, tiga, empat kesalahan. Terhenti. Tersendat. Ia seperti tak paham teks Arab yang dibacanya dan gelagapan membaca teks Arab pegon yang tak pernah berstandar dalam penulisannya itu. Mungkin ia merasa, toh ini hanya khutbah di sebuah masjid desa, masjid keluar...

Jilbab dan agama yang tidak bermakna.

Gambar
"Saya ini bukan orang Muslim. Saya benar-benar shock bisa terjadi begitu. Ini kan bulan suci Ramadan, puasa itu katanya menahan marah, dan dia itu berjilbab. Koq bisanya ia bentak-bentak saya? Seumur-umur jadi dokter, belum pernah saya dimarahi keluarga pasien seperti itu. Oh, semoga dewa-dewa di Bali mengampuni." kata si dokter setelah semua keributan yang melibatkan dirinya, satu dokter lain lagi, dengan serombongan keluarga pasien yang saya lihat sejak dari loket pendaftaran tadi hawanya ingin perang saja. Saya tidak tahu persis asal-usul semua drama kegaduhan di ruang periksa Installasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Sardjito itu. Tetapi, dalam suasana lebaran dan mayoritas layanan umum bekerja dengan tenaga separoh daya (men- shift tenaga karyawan agar tetap bisa lebaran dan melayani), dan dalam suasana masyarakat yang mungkin juga kelelahan karena mudik, silaturrahim, atau kegiatan terkait Idul Fitri lainnnya, "capek" adalah sumber segala emosi. Ketika '...

Gawat Darurat

Gambar
kepanikan dimulai di sini, loket pendaftaran pasien Siapa yang suka, tanggal 1 Syawal, tengah malam, terdampar di Instalasi Gawat Darurat? Tapi, inilah yang saya alami sekarang. Saya sedang duduk di ruang periksa Instalasi Gawat Darurat Dr. Sardjito, menunggu anak saya diperiksa dan mendengarkan kesibukan yang mengingatkan saya pada serial televisi E.R. ( Emergency Rescue ). Saya akui, pintar sekali si pembuat cerita itu. 10 menit saja datang dan duduk di dalam ruang periksa IRD, saya bisa melihat ada banyak ide cerita yang bisa ditulis. Pasti lebih mudah menulis cerita E.R dibanding sinetron yang berputar soal konflik keluarga dan rebutan warisan. Misalnya, soal parkir yang harus di pinggir jalan umum, soal pasien yang marah-marah, atau pasien yang begitu datang update status di facebook, atau soal bapak si pasien yang nunggu hasil lab sambil nge-blog. He he he. Atau, cerita tentang layanan rumah sakit dan repotnya si direktur memperbaiki layanan yang masih belum m...

Catatan Ramadhan (29): Terimakasih

Gambar
Scene 1  Perempuan itu naik pesawat sudah belakangan. Ia tergopoh-gopoh mencari tempat duduk. Begitu mendapatkan, kepanikan berikutnya adalah ia tidak mendapatkan kabin kosong di atas deretan kursinya. Tetapi, beruntunglah, lelaki yang ada di dekatnya segera tanggap. Si lelaki berdiri, dan perempuan itu bilang, "Tolong mas, tolong ini." sambil susah payah ia berusaha mendorong kopernya masuk ke kabin. Tahu kabin itu sudah tidak cukup, si lelaki dengan baik hati mengangkat koper itu di memasukkannya di kabin kosong di depan, sekitar dua baris dari tempat duduk si perempuan. Si lelaki kembali dan duduk di samping perempuan yang tak dikenalnya itu. Saya dengan serius mengamati untuk membuktikan dugaan saya karena melihat tingkah pulah si perempuan sebelumnya. Ya, sesuai dugaan saya, perempuan itu tidak mengucap sepatah kata terimakasih atas bantuan si lelaki. Halaman rumah mertua saya (atas); gerbang berbatu (kiri-bawah) Scene 2 Mertua saya tinggal di kampung kecil deng...

Catatan Ramadhan (28): Mercon bin Petasan

Gambar
Semalam saya terbangun dari tidur nyenyak saya, kaget luar biasa. Sebuah ledakan besar mengusik ketenangan pukul 02.30 malam. Selama Ramadhan, di Bantul, hanya satu hal yang sering membuat kami terjaga sebelum waktunya: salah satu jamaah langgar yang niatnya beribadah tetapi caranya salah! Ia membaca al-Qur'an dengan membunyikan pengeras suara (toa) sehingga semua penghuni kampung mendengar alunan Qur'annya yang tidak merdu itu! Saya baru sadar, ini bukan Tamanan, Bantul. Saya sedang tidur di Pejagoan, Kebumen, di sebuah kampung di bawah kaki bukit di dekat Sungai Luk Ulo. Ledakan itu bukan ledakan bom teroris, tetapi... halah ...ledakan mercon besar yang disulut anak-anak depan rumah mertua saya. Kalau orang mengaji di tengah malam saja kita ributkan, masak mercon perlu kita anggap hal biasa? Yah. Apa boleh buat. Di sini mercon hal yang biasa, dan jangan harap ada satu orang pun yang akan keluar rumah dan menjewer anak-anak itu. Malah, boleh jadi, orang akan heran deng...

Catatan Ramadhan (27): Mudik dengan Teknologi

Gambar
Pernah dengar Waze? Applikasi Android ini kira-kira 2 bulan yang lalu dibeli Google . Dan dari kabar pembelian itulah saya mengetahui dan penasaran dengan fungsinya. Dua tahun terakhir, saya selalu menggunakan Google Map untuk menemani perjalanan ke luar kota dan mencari jalur-jalur alternatif untuk pulang kampung. Google Map versi mobile menyediakan fungsi realtime  navigasi sebagaimana layaknya GPS. Jadi, buat apa Google membeli Waze? Waze adalah aplikasi peta dan navigasi yang kurang lebih sama dengan Google Map. Bedanya, Waze adalah alat navigasi berbasis jejaring sosial. Pengguna Waze (disebut  wazer )   bisa saling bantu menginformasikan kondisi jalan raya secara realtime: kemacetan, kecelakaan, pengalihan jalan, bahkan bila perlu kalau ada operasi pak polisi dan Anda lupa bawa SIM! Dari segi fitunya, Waze jelas kompetitor Google Map dengan sejumlah fitur unggulan yang tak dimiliki Google Map. Awalnya, saya mengira Waze hanya akan berfungsi maksimal untuk wila...

Catatan Ramadhan (26): Mudik Lagi

Dari zaman sekolah dulu, saya, seperti kebanyakan dari kita, termasuk golongan orang-orang yang ribut mudik. Sejak SMA, saya menempuh pendidikan di  luar kota: di Jember, di Solo, di Jogja, lalu di Jakarta. Oh, tentu di Seattle, Amerika yang tidak akan saya hitung dalam daftar tradisi mudik. Saya hanya punya agenda sederhana saja soal mudik itu: pulang kampung. Titik. Saya tidak pernah serius memaknai mudik dengan hal-hal yang terlalu religius, atau menafsirkannya secara filosofis dan sosiologis. Mudik, ya mudik: pulang untuk berlebaran, dan menunaikan seluruh kewajiban tradisi lebaran yang diajarkan desa saya sejak kecil: silaturrahim ke sanak famili dan tetangga kanan kiri. Sewaktu kuliah, ada teman dari Padang yang saya tanya, sebagaimana semua juga bertanya di akhir-akhir Ramadhan, "kapan mudik?" Tetapi bukannya jawaban sederhana soal hari dan tanggal saya memperoleh jawaban panjang, khas jawaban essai soal ujian akhir semester: Saya tidak mudik. Mudik itu "cuma...

Mati

Gambar
Semalam adalah giliran saya untuk memberi kultum di langgar sebelah. Itu adalah jadwal terakhir saya karena saya akan segera mudik. Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan sebuah ayat untuk dibahas. Tetapi, entahlah, tiba-tiba saja sehabis salam shalat Isya' saya teringat dengan beberapa orang jamaah yang telah mendahului kami. Pertama, wajah sumringah Pak Sufyan, jamaah yang belum ada setahun meninggalkan kami, jamaah yang rencananya akan saya masukkan ke dalam jadwal pemberi ceramah ramadhan tahun ini di langgar kami. Pak Sufyan ternyata sudah pergi, Allah tidak memberinya umur lebih panjang untuk sampai ke Ramadhan. Demikian juga dengan Pak Rohmadi, muadzin kami. Wajahnya segera muncul begitu saya naik mimbar dan melihat istrinya duduk di antara jamaah putri di baris belakang. Pak Rohmadi juga tidak mendapatkan tiket untuk bisa menunaikan Ramadhan tahun ini. Dua orang dalam setahun di sebuah langgar kecil bukan jumlah yang sedikit. Jadi, siapa lagi yang akan pergi tah...

Catatan Ramadhan (24): Ngemis...

Apakah Anda termasuk orang yang royal atau pelit dalam memberi uang receh kepada pengemis di lampu merah? Saya, bukan bermaksud membanggakan diri, termasuk 'orang pelit' kepada pengemis di lampu merah. Hati saya itu bawaannya  curiga saja kepada mereka karena informasi yang mengatakan bahwa para pengemis itu bisa menjadi kaya dari profesinya sudah bukan rahasia lagi. Kemarin, saat saya sedang bersama seorang teman yang suka jual beli mobil di TVRI melihat seorang pengemis di salah satu lampu merah di Jogja. Penampilannya sangat 'mengasiankan': baju kumuh, kulit gelap dekil, dan ia berjalan tertatih-tatih dari satu mobil ke mobil lain. Melihat si pengemis, teman saya langsung bilang, "Ha ha ha. Pinter tenan  Pak Fulan itu. Orang itu tetangga kita lo mas. Rumahnya Pleret. Sugih. Biasanya dia beroperasi di TVRI..." kata teman saya sambil senyum-senyum. Sayang, lampu sudah hijau sebelum Pak Fulan mendekati mobil kami. "Sehari dia bisa dapat 150 ribu lebih...

Catatan Ramadhan (23): Miskin

Dalam bahasa para juru agama kita, kemiskinan sering dipandang dalam konteks masa lalu. Kemiskinan penduduk Mekah menjadi ukuran kemiskinan lintas abad dan tempat. Sehingga kosakata 'faqir' dan 'miskin' yang muncul di dalam al-Quran kurang bisa menemukan greget sosialnya. Atau, ajaran-ajaran yang terkait kemiskinan gagal ditangkap pesannya dan terjebak dalam kosakata abad 7-10 masehi. Kita bisa menggunakan logika sederhana saja: karakter miskin zaman Belanda dan zaman kita saja berbeda; atau antara kemiskinan di Jakarta dan di pelosok Papua juga berbeda; maka bagaimana mungkin kemiskinan di benua Arab lima belas abad yang lalu sama dengan zaman kita? Baik penyebab maupun indikator kemiskinan telah berubah-ubah sepanjang masa. Dalam studi kemiskinan mutakhir, setidaknya ada dua teori utama mengenai penyebab kemiskinan: personal dan struktural. Pandangan pertama menyalahkan individu yang dianggap gagal untuk membuat dirinya kaya. Pandangan kedua menyalahkan struktu...