Khotbah yang tidak didengarkan
Setelah naik ke mimbar, ia mengambil teks khotbah itu dan membacanya. Entahlah, apakah itu teks yang ia dapat dari Internet atau kutipan dari buku khutbah yang biasa dibaca di masjid-masjid desa orang NU. Struktur khutbah yang ia baca adalah struktur standar buku-buku khotbah yang dikoleksi Bapak saya di rumah. Khotbah didahului dengan muqaddimah kalimat-kalimat pujian berakhiran semisal. Isi khotbah terdiri atas dua bagian: bagian awal berbahasa Arab dan bagian kedua terjemahan dari teks Arab. Tetapi, berbeda dengan Bapak saya yang membaca buku-buku khotbah sekali dua kali sebelum berangkat ke masjid, khatib yang satu ini tampaknya cukup percaya diri dengan langsung membaca teks khutbah di atas mimbar. Hasilnya? Satu, dua, tiga, empat kesalahan. Terhenti. Tersendat. Ia seperti tak paham teks Arab yang dibacanya dan gelagapan membaca teks Arab pegon yang tak pernah berstandar dalam penulisannya itu. Mungkin ia merasa, toh ini hanya khutbah di sebuah masjid desa, masjid keluar...