Jilbab dan agama yang tidak bermakna.


"Saya ini bukan orang Muslim. Saya benar-benar shock bisa terjadi begitu. Ini kan bulan suci Ramadan, puasa itu katanya menahan marah, dan dia itu berjilbab. Koq bisanya ia bentak-bentak saya? Seumur-umur jadi dokter, belum pernah saya dimarahi keluarga pasien seperti itu. Oh, semoga dewa-dewa di Bali mengampuni." kata si dokter setelah semua keributan yang melibatkan dirinya, satu dokter lain lagi, dengan serombongan keluarga pasien yang saya lihat sejak dari loket pendaftaran tadi hawanya ingin perang saja.

Saya tidak tahu persis asal-usul semua drama kegaduhan di ruang periksa Installasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Sardjito itu. Tetapi, dalam suasana lebaran dan mayoritas layanan umum bekerja dengan tenaga separoh daya (men-shift tenaga karyawan agar tetap bisa lebaran dan melayani), dan dalam suasana masyarakat yang mungkin juga kelelahan karena mudik, silaturrahim, atau kegiatan terkait Idul Fitri lainnnya, "capek" adalah sumber segala emosi.

Ketika 'emosi' yang kita bicarakan, maka di sinilah kita kembali ke persoalan  utama mengapa kita berpuasa: menahan diri! Ironis bukan? Idul Fitri adalah perayaan karena keberhasilan kita berpuasa, tetapi pada saat yang sama kita hancurkan kemenangan itu dengan membuktikan bahwa kita sebenarnya kalah melawan emosi dan tidak bisa mengendalikan diri.

Ironi itu tampak jelas di dalam adegan di IRD tadi. Seorang perempuan Muslim, berjilbab, mengumbar emosinya di depan umum terhadap seorang dokter perempuan yang kebetulan beragama Hindu. Kita seperti diingatkan lagi bahwa agama itu bukan soal simbol dan apa yang di luar harus menjadi buah dari yang di dalam. Persis seperti kata sebagian orang, "Saya malu berjilbab kalau hati saya belum berjilbab." Tidak sepenuhnya benar, tetapi banyak benarnya!

Hendaknya jilbab itu bisa mengendalikan diri pemakainya untuk selalu lebih baik. Dengan mengenakan jilbab, mestinya ia membawa semacam reminder tentang apa yang harus ia lakukan. Orang lain, apalagi orang non-Muslim, membaca prilaku orang Islam dari apa yang tampak di luar.

Sebaliknya, Allah juga tidak akan peduli apakah kita mengenakan baju taqwa atau tidak karena yang lebih penting nilainya adalah apa yang ada di hati kita. Inna Allah la yanzur ila ajsamikum wa la aswarikum, wa lakin yanzuru ila qulubikum!

Puasa dan segala keriuhan lahiriyah Ramadan itu sama sekali tidak penting, karena yang lebih penting adalah makna, batin, dan buah dari puasa yang tercermin dalam prilaku dan akhlak kita.

Saya lihat dokter Hindu itu duduk termenung lama sekali. Sekitar tiga puluh menit setelah keributan itu berlalu, tatapan matanya masih menyimpan tanda tanya besar tentang apa yang baru ia alami.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama