Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2024

Sembilan Versi Naskah Ta'lim Muta'alim: Kitab Paling Populer di Dunia Pendidikan Islam

Gambar
"Kitab Ta'lim Muta'alim" adalah salah satu kitab klasik dalam tradisi Islam yang membahas tentang adab dan etika menuntut ilmu. Kitab ini memberikan panduan dan nasihat bagi para pelajar dan guru mengenai cara yang tepat dalam belajar dan mengajar, pentingnya niat yang tulus, serta nilai-nilai moral yang harus dijunjung tinggi selama proses pendidikan. Kitab ini dianggap sebagai salah satu karya penting dalam literatur Islam yang membantu membentuk karakter dan spiritualitas pelajar Muslim. Pengarang "Kitab Ta'lim Muta'alim" adalah Syaikh Burhanuddin Al-Zarnuji. Nama lengkapnya adalah Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim Al-Zarnuji. Beliau adalah seorang ulama yang terkenal pada masanya, terutama dalam bidang pendidikan dan adab menuntut ilmu. Syaikh Burhanuddin Al-Zarnuji adalah seorang ulama yang hidup pada abad ke-12 Masehi. Al-Zarnuji dilahirkan di daerah yang dikenal sebagai Zarnuj, yang kemungkinan besar terletak di kawasan Asia Tengah,...

Menikmati "Normal"

Gambar
Sambil melakukan penelitian di lapangan, jauh dari Jogja,  untuk sebuah riset tentang difabel, saya juga sedang menyiapkan sebuah riset tentang terjemahan al-Qur'an (lanjutan riset post-doc Isreal). Keduanya saya jalani dengan biasa saja. Tanpa beban, tanpa tekanan, tidak takut deadline, ya "normal" saja begitu. Boleh juga dibilang, saya sangat menikmati prosesnya!  Saya katakan ini karena beberapa dosen yang saya kenal curhat, merasa seperti tertekan untuk melakukan proses-proses semisal ini. Kalau Anda termasuk mirip teman saya itu, izinkan saya cerita.  Riset saya tentang difabel ini sudah saya kerjakan kira-kira 4-5 bulan sebelum ada pengumuman di Litapdimas atau kampus. Saya kerjakan tanpa saya peduli nanti ada anggaran atau tidak. Mengapa 4-5 bulan? Nggak penting angkanya, tetapi yang penting adalah: kita harus memulai riset ketika kita merasa perlu memulai riset. Titik. Bukan karena ada deadline, bukan karena ingin naik pangkat, bukan karena ingin cepat jadi GB, da...

Menanam Jeruk Purut

Gambar
Bagian dari memenuhi kebutuhan bumbu sambal, saya selalu punya jeruk purut. Dulu, pernah menanam di depan rumah. Mati puthes, kehabisan daun. Maklum di pinggir jalan, "sedekah" untuk orang lewat yang butuh 😄. Jeruk purut ini memang sangat bermanfaat dalam berbagai masakan Indonesia. Daunnya yang harum memberikan aroma khas pada berbagai hidangan seperti sop, sambal, dan masakan berbumbu lainnya. Lalu saya membeli benih lagi. Kali ini saya tanam di pot, ditaruh di belakang rumah. Daunnya berlimpah. Lebih dari kebutuhan bikin sambal dan masak. Karena umurnya sudah lumayan tua, si pohon pun berbuah. Menanam di pot memang punya kelebihan tersendiri, salah satunya adalah lebih mudah mengontrol pertumbuhan dan perawatannya. Pot juga bisa dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan sinar matahari dan kelembapan tanah. Saya belum pernah tahu rasanya. Tiga buah pertama saya biarkan sampai tua sekali. Akhirnya, kesenggol pun lepas ia dari tangkainya. Nggak tahu harus buat apa, saya bikin minu...

Menulis Bersama, Iyes! Pinjam Nama, Eno!

Gambar
  Saya sering mengkritik praktik-praktik co-author bukan karena co-authoring itu sendiri. Saya ini kan penganut mazhab kuno bahwa meneliti dan menulis dalam disiplin ilmu humaniora itu adalah proses kreatif, melibatkan personal experience sebelum menjadi personal view. Meski ada klaim objektif, tetapi subjektifitas kita rayakan. Hanya ketika pendekatan kita berbau ilmu sosial, yang subyektif itu semakin mengecil. Di situlah ruang menulis bersama menjadi lebih terbuka. Itu pun tentu terbatas. Kalau riset ilmu sains bisa melibatkan ratusan peneliti, riset sosial-humaniora dengan pendekatan kuantitatif saja yang bisa dilakukan (hampir) semisal. Kalau kualitatif, dua tiga orang lah paling. Mengapa? Ya diskusinya biar gampang, argumennya biar kokoh seide. Semakin banyak orang kan semakin sulit seide? Saat ini, misalnya, saya sedang meneliti dan menulis berdua. Bukti paling penting kalau kami sudah seide itu bisa dilihat dari warna pakaian kami Jauh-jauh dari Los Angeles, Amerika, ngobr...

Dosa Besar Editor Jurnal

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, ketika diundang bicara di UIN Surakarta, salah seorang mahasiswa bertanya begini, "Pak, naskah yang saya submit ke sebuah jurnal sudah dinyatakan diterima. Tetapi untuk bisa terbit, editor meminta saya untuk menambahkan pengarang asing." Mungkin dua bulan yang lalu, seorang teman bercerita bahwa ia dihubungi oleh seorang penulis dari Malaysia, tidak ia kenal, yang meminta izin untuk mencantumkan namanya sebagai co-author. Sebabnya? Karena editor (di Malaysia) memintanya agar mencari penulis asing. Tadi siang, seorang teman bercerita dengan gundah, "Naskah kami diterima di sebuah jurnal, tetapi editor meminta kami untuk menambahkan penulis asing." *** Para editor yang terhormat.  Saya juga pernah menjadi editor. Jadi, saya tahu persis susahnya menjadi editor. Jangan kira saya hanya mengelola jurnal yang "sudah terkenal" saja (al-Jami'ah), tetapi saya juga mengelola jurnal dari nol, belum terakreditasi hingga Sinta 2. Kami tidak...

Cara Wudu Difabel yang tidak punya tangan atau kaki

Gambar
8. Hukum Wudu Disabilitas Daksa dan Pengetahuan Gerakan Imam bagi Disabilitas Rungu dan Netra Beribadah merupakan kewajiban bagi semua muslim. Namun demikian, tak semua ibadah bisa dilakukan dengan mudah oleh para penyandang disabilitas sebab keterbatasan yang mereka miliki. Misalnya: kewajiban membasuh tangan dan kaki ketika berwudu bagi penyandang disabilitas daksa, mengetahui gerakan imam bagi disabilitas rungu yang sekaligus disabilitas netra dan sebagainya. Hal ini kerap membuat mereka bingung dalam beribadah. Bagaimana cara bagi kaum disabilitas daksa (tidak punya tangan dan kaki) ketika akan berwudu atau kaum disabilitas siku yang kesulitan untuk mengusap anggota wudhu? Caranya adalah dengan membasuh anggota wudu yang masih tersisa (jika yang tersisa di atas siku, maka sunah membasuh di atasnya). Tapi jika kondisi tidak memungkinkan untuk melakukannya sendiri, maka mencari orang untuk mewuduinya, baik secara gratis ataupun harus membayar. Sedangkan apabila belum menemukan orang ...

Sedekah Naskah

Gambar
Sewaktu diminta menjadi narasumber IDACON (International Dakwah Conference) kemarin, panitia tidak menyinggung soal makalah dan artikel. Tetapi, saya sendiri berpikir untuk menulis artikel dari topik yang saya sajikan. Setelah bikin kerangkanya, lalu poin-poin untuk presentasi, saya segera memulai riset literatur. Hasilnya? Wah, ini tema yang menarik untuk diteliti! Saya kira, saya bisa melakukannya dan diterbitkan sebagai artikel riset di jurnal terindeks. Tetapi, panitia, para junior di Dakwah, tiba-tiba bertanya, apakah saya izinkan artikelnya diterbitkan di proceeding? Awalnya saya bilang nggak boleh. Eman. Wong bisa ditulis lebih lengkap untuk jurnal koq "cuma" terbit di proceeding. Hanya saja... Saya koq ya nggak tega. IDACON itu belum pernah menerbitkan proceeding, belum ada jejak akademiknya. Keinginan luhur panitia untuk publikasi itu perlu didukung. Jadi... Baiklah. Sesekali ilmu filantropinya dipraktikkan 😄 Sesekali sedekah naskah. Ikhlas nggak menulis untuk terin...