Dosa Besar Editor Jurnal


Beberapa waktu yang lalu, ketika diundang bicara di UIN Surakarta, salah seorang mahasiswa bertanya begini, "Pak, naskah yang saya submit ke sebuah jurnal sudah dinyatakan diterima. Tetapi untuk bisa terbit, editor meminta saya untuk menambahkan pengarang asing."

Mungkin dua bulan yang lalu, seorang teman bercerita bahwa ia dihubungi oleh seorang penulis dari Malaysia, tidak ia kenal, yang meminta izin untuk mencantumkan namanya sebagai co-author. Sebabnya? Karena editor (di Malaysia) memintanya agar mencari penulis asing.

Tadi siang, seorang teman bercerita dengan gundah, "Naskah kami diterima di sebuah jurnal, tetapi editor meminta kami untuk menambahkan penulis asing."

***

Para editor yang terhormat. 

Saya juga pernah menjadi editor. Jadi, saya tahu persis susahnya menjadi editor. Jangan kira saya hanya mengelola jurnal yang "sudah terkenal" saja (al-Jami'ah), tetapi saya juga mengelola jurnal dari nol, belum terakreditasi hingga Sinta 2.

Kami tidak suci-suci amat ya. Secara administratif, "kecurangan" administratif pernah kami lakukan demi akreditasi. Misalnya, menggunakan fitur "login as" untuk memastikan bahwa jurnal kami tampak dikelola secara full OJS. "Kecurangan" ini kami anggap "ma'fu" karena hanya bersifat administratif saja: merekam apa yang kami lakukan via email atau offline menjadi OJS. 

"Menambah nama orang yang tidak berkontribusi sama sekali sebagai pengarang" adalah definisi kejahatan akademik! Tidak boleh ditoleransi demi alasan apa pun. 

Bertanyalah lagi kepada nurani Anda: untuk apa sebenarnya Anda hari ini duduk sebagai editor? Untuk apa publikasi yang Anda buat?  Untuk apa status terindeks Scopus kalau ditempuh dengan cara-cara yang tidak etis? Anda pikir yang begini tidak ada hisabnya di akherat? 

Toh, kalau untuk jabatan dan pangkat, menjadi editor tidak pernah dihargai angka kredit. Mending meneliti dan menulis saja sendiri. Tidak perlu repot-repot sampai begitunya. Apalagi, nanti kalau pimpinan ganti Anda juga bisa didepak dari jurnal itu.🤣

Kalau hanya untuk "terkenal" dan "kelihatan keren", percayalah banyak orang yang bisik-bisik di belakang Anda, "Yang terindek kan jurnalnya, bukan Anda"😊 Pada akhirnya, mereka tetap menilai siapa Anda, bukan Anda editor jurnal apa.

Ah. Saya jadi ingat, dulu ketika ada seorang dosen UIN Nganu  meminta saya sebagai co-author karena saya sedang di Yerusalem... Jangan-jangan dia melakukannya juga karena dipaksa oleh editor. Saya jadi merasa berdosa telah mengira dia sendiri yang ingin main curang. Duh.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama