Menulis Bersama, Iyes! Pinjam Nama, Eno!

 


Saya sering mengkritik praktik-praktik co-author bukan karena co-authoring itu sendiri. Saya ini kan penganut mazhab kuno bahwa meneliti dan menulis dalam disiplin ilmu humaniora itu adalah proses kreatif, melibatkan personal experience sebelum menjadi personal view. Meski ada klaim objektif, tetapi subjektifitas kita rayakan.
Hanya ketika pendekatan kita berbau ilmu sosial, yang subyektif itu semakin mengecil. Di situlah ruang menulis bersama menjadi lebih terbuka. Itu pun tentu terbatas. Kalau riset ilmu sains bisa melibatkan ratusan peneliti, riset sosial-humaniora dengan pendekatan kuantitatif saja yang bisa dilakukan (hampir) semisal. Kalau kualitatif, dua tiga orang lah paling. Mengapa? Ya diskusinya biar gampang, argumennya biar kokoh seide. Semakin banyak orang kan semakin sulit seide?
Saat ini, misalnya, saya sedang meneliti dan menulis berdua. Bukti paling penting kalau kami sudah seide itu bisa dilihat dari warna pakaian kami 😂 Jauh-jauh dari Los Angeles, Amerika, ngobrol di kawasan Dagen, bajunya seragam! Maka, sudah gampang saja bagi kami untuk menyamakan interpretasi dan narasi.
Beliau ini fokus risetnya selama ini adalah hukum keluarga di Indonesia. Saya riset difabel. Kira-kira, Anda bisa tebak kami sedang meneliti apa? 😊


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama