Kisah Theklek dan Kehormatan
Made by Mbah Arso Saya berhenti untuk membeli theklek yang dijual lelaki renta itu bukan karena rasa kasihan. Ia yang berjalan pun sudah tertatih-tatih tak terlihat membutuhkan rasa iba. Sebaliknya, ia tengah menceritakan sebuah kehormatan: sampai kapan pun, rizki yang halal harus dicari dengan penuh martabat. Tidak perlu mengemis karena menganggur. Tak perlu mencuri karena lapar. Tak perlu korupsi demi memenuhi selera hidup yang tinggi. Tak perlu berhenti walau usia sudah senja sekali. " 92 taun !" Mbah Arso Dimedjo menjawab cepat pertanyaan saya, seperti peserta cerdas-cermat yang tahu menebak arah soal dewan juri. Mungkin karena saya bukan penanya pertama. Mungkin karena setiap orang yang bertemu kagum dengan kesepuhannya. Di usia se-senja itu, siapa pun wajib heran bila menjumpa Mbah Arso sedang memanggul dagangannya di Jalan Veteran Yogyakarta. " Sampun sepuh sanget nggih. Ndaleme pundi mbah ?" Tanya saya. Ia menjawab dengan jelas: berasal dari Jati...