Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2021

Belajar Bahasa Ibrani

Gambar
Setelah membaca cerita saya tentang belajar Bahasa Spanyol, teman saya heran, “Belajarnya Bahasa Spanyol, perginya ke Israel? Bukankah seharusnya belajar Bahasa Ibrani?” Ya, jika saja saya tahu takdir ini, saya pasti belajar Bahasa Ibrani.  Tetapi demikianlah takdir. Saat memilih Bahasa Spanyol itu, saya tahu saya telat. Kesempatan berkunjung ke Spanyol sudah lewat.  Tetapi saya tetap belajar Bahasa Spanyol sebagai ilmu semata, bukan karena cita-cita ingin main ke sana. Gila 😄 Nah, begitu saya mendapatkan informasi kelulusan postdoc di Yerusalem,  maka hari itu juga saya mulai belajar Bahasa Ibrani. Saya hanya punya waktu tiga bulan untuk belajar Bahasa Ibrani sebelum pergi ke Israel.  Sama seperti belajar Bahasa Spanyol, saya juga memilih Duolingo sebagai guru. Pengalaman saya belajar Bahasa Spanyol memberikan kesan positif sepenuhnya bahwa belajar bahasa asing dengan Duolingo itu mudah, menyenangkan, dan berhasil. Duolingo juga melatih semua skill bahasa yang bias...

Polisi Israel, Bukan Izrael yang Memanggil

Gambar
“Yes, come to me!” Panggilnya sambil melambaikan tangan. Saya pun mendekatinya dan ia bertanya lagi, “ Where are you from ?” Ketika si polisi Israel, penjaga gerbang ke Masjidil Aqsa, bertanya tentang asal saya, dan bukan soal kamera, pikiran saya cepat menangkap bahwa ini urusan akses ke masjid yang hanya untuk orang Islam. Saya pun menjawab sekaligus pertanyaan itu dengan, “ I am from Indonesia, I am a muslim, and I want to pray here .” “ Show me your passport, ” katanya. Passport saya ada di tas kecil dan tas kecilnya ada di dalam ransel. Repot saya kalau harus buka-buka. Saya tunjukkan saja kartu mahasiswa saya.  “ I am a student at the Hebrew University. I am a Muslim, ana mutakallim bi-lughah al-arabiyyah, and I just want to pray .”  Tak urung, teman si polisi itu meminta saya membuka isi tas saya apa. Maklum, tidak ada jamaah Jumat pakai ransel begitu. Isinya? Cuma tiga: tas kamera dan lensanya, sajadah, dan songkok santri! Polisi Israel yang menjaga gerbang ingin ...

Akhirnya Al-Aqsa!

Gambar
Saya hampir lupa kalau hari ini hari Jumat. Sewaktu mau mandi pagi, saya baru ingat. Jumat lalu saya masih di karantina, terisolasi hanya bisa memandang masjid dari jendela. Padahal, biyunge bocah-bocah sudah pesan, “Besok kalau sudah keluar dari karantina, segera dimulai salat Jumatnya! Wis meh rong tahun ra salat.”  Begitu ingat ini hari Jumat, saya segera kembali ke kamar untuk mengecek di Google: prayer time, salat Jumat jam berapa. Lalu, saya cek Moovit, aplikasi transportasi andalan saya di sini, untuk mengetahui apakah ada bus ke Masjidil Aqsa. Jumat lalu jalan-jalan sepertinya sepi sekali dan sepertinya tidak ada bus yang beroperasi. Mungkin aku salah paham, karena ternyata ada jadwal busnya. Atau, mungkin karena masih pagi. Sabat kabarnya dimulai Jumat sore. Entah, yang penting ada bus dan saya segera mandi. *** Bus yang saya tumpangi, berhenti di 'terminal' dekat West Wall, tembok ratapan umat Yahudi. Saya tidak tahu masuk masjid lewat mana. Lalu saya mengikuti rombon...

Indonesia Lebih Serius dari Israel?

Gambar
Setelah menjalani karantina yang tidak ketat-ketat amat, makanan keluar masuk tanpa protokol kesehatan, kami ambil tes PCR kedua. Nah, dari dua kali tes PCR di Israel ini saya menyimpulkan, tes PCR di Israel itu tidak menyakitkan, tetapi mungkin sekaligus “tidak terlalu serius”. Petugas di Panti Rapih itu sedemikian seriusnya sehingga mengambil sampel benar-benar dari pangkal hidung dan tenggorokan.  Petugas Israel? Ya, secukupnya saja, yang penting dapat sampel. Saya koq seperti setuju dengan cara Israel ini, apa sih bedanya 1-2 cm kedalaman sampel dalam rongga hidung dan mulut yang sama? Bukankah per-detiknya kita bernafas, mbeler, dan makan lewat dua rongga itu tanpa ‘polisi’ pengontrol virus?  Kesantaian para petugas Israel juga saya temukan saat saya mengikuti vaksinasi di balai kota Yerusalem. Saat saya datang, sudah ada antrean panjang dan rapat tanpa ada petugas yang berusaha meminta mereka menjaga jarak. Sebagian besar dari mereka juga tidak menggunakan masker. Atau, ...

Maulid Nabi, Karangan Orang Yahudi

Gambar
Kemarin saya pindah ke apartemen. Karena jauh dari hotel, saya panggil taksi untuk mengantar. Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengetahui sopir taksi saya itu orang Arab. Ia menerima beberapa pesan di HP-nya dalam Bahasa Arab. Saya pun tak menunggu waktu untuk mengajaknya kenalan dan mengobrol. Tema pertama adalah namanya: Muhammad. Saya bilang, nama yang bagus dan hari ini adalah maulid Muhammad, sallu alaih. Di luar dugaan saya, ia merespons dengan diskusi panjang. Ia berpendapat, seperti pendapat yang sudah sering saya dengar dan baca dari kaum Salafi anti maulid Nabi, bahwa maulid itu ikhtira', karangan orang Yahudi dan Daulah Fatimiyah. Alasan pendapatnya adalah: bahwa ada banyak pendapat yang menyebutkan hari lahir Nabi dan tidak ada yang sahih. Jadi, tidak ada alasan untuk menjadikan tanggal 12 Rabiul Awwal sebagai Maulid Nabi. Bagi saya? Saya tahu ini bukan ibadah. Saya juga menyadari kemungkinan Nabi tidak lahir tanggal 12 Rabiul Awwal. Tetapi memilih salah satu pend...

Bias Jakarta dan Orang Kantoran

Gambar
  Inti peringatan Maulid Nabi itu pada harinya. Boleh lah orang bilang yang penting "hatinya", tetapi di banyak daerah di Indonesia, peringatan maulid adalah upacara besar. Ada yang bikin arak-arakan, makan-makan, sampai dengan pengajian akbar pada harinya. Geser hari libur pertimbangannya cuma teknis orang kantoran. Kalau itu pun dianggap sangat penting, kepentingannya sebatas  kacamata Jakarta dan mungkin tak pernah merasakan gebyar muludan waktu kecilnya.  Pemerintah harusnya bisa lebih bijak untuk membiarkan hari raya berjalan pada 'hari rayanya'. Libur hari Kartini bisa digeser, libur sumpah pemuda bisa digeser, tetapi libur yang terakhir 'hari' besar, ya biarkan di hari besar. Jangan sampai Idulfitri dan Nyepi digeser hanya demi menghindari hari kecepit. Ada banyak anak di Madura, murid-murid teman saya, yang sedih karena libur digeser dan mereka tidak bisa ikut upacara-upacara tradisi yang jatuh pada hari maulid dan karena itu tidak bisa dapat uang sede...

Akibat Shabbat

Gambar
Kemarin Kamis, saat pengantaran makan siang, saya dikejutkan dengan kiriman tiga box nasi. Saya tanya ke pengirim, “Why three?” Ia jelaskan bahwa itu untuk tiga hari. Tentu saya bingung. Jatah makanan tiga hari dikirim sekali, apakah makanan Israel tidak bisa basi?  Kami punya kulkas kecil di kamar, yang tidak akan muat diisi dua box makanan. Kalau pun dimasukkan ke kulkas, saya juga tidak punya microwave untuk menghangatkan nasi-nasi itu. Jadi, makanan tiga hari dikirim sekali ini gila.  Saya tanya ke pengantar lagi, “Why three at once?” Ia jelaskan bahwa besok Jumat dan Sabtu libur hari Shabbat. Tidak ada orang yang kerja di sini. Jadi, mereka tuntaskan kewajiban Jumat Sabtu pada hari Kamis. Untungnya, kami hanya dikirim makanan sekali sehari oleh kantin. Andai kami dijatah makan tiga kali sehari, pasti kami dapat sembilan box nasi. Lebih gila lagi! Saya memang pernah membaca sebelum datang ke sini bahwa kalau di Israel, hari Jumat-Sabtu itu aktivitas publik relatif mati. Te...

Terpingit Malam Pertama

Gambar
Maksimal dua puluh empat jam sebelum keberangkatan, orang yang mau masuk Israel wajib mengisi formulir yang tersedia di laman situs Kementerian Kesehatan Israel. Informasi semacam ini termasuk informasi ‘slilit’ karena terselip di antara belasan informasi yang terus menerus dikirim dari international office universitas. Tidak jeli, ya kelewat. Padahal sanksinya cukup jelas: tidak mengisi formulir sebelum berangkat, tidak boleh naik pesawat.  Ada beberapa penumpang di Bandara Soekarno Hatta yang kabarnya tidak tahu informasi ini dan harus dibantu petugas check-in , bikin antrean molor. Teman saya yang dari Rusia juga awalnya tidak tahu dan baru tahu ketika di tengah jalan menuju bandara. Tahu pentingnya proses ini, saya sudah mencantumkan di buku check-list keberangkatan: Ahad pagi jangan lupa isi formulir ini! Formulir itu sebenarnya mirip-mirip formulir prokes pandemi kalau kita berkunjung ke layanan kesehatan di Indonesia. Misalnya, ada pertanyaan tentang sudah pernah terkena Cov...

Pamit

Gambar
Sering kita bertanya dan ditanya, "Berapa jumlah anakmu?" Padahal, dalam hiudp ini, kadang tidak penting berpa jumlah anak itu. Berapun jumlahnya, pertanyaan yang akhirnya harus kita jawab adalah, "Barapa lama anak-anak bersamamu?" Tahun ini, kami menyadari betapa cepatnya waktu 'memiliki anak' ketika si bungsu, dua bulan lalu, pergi untuk mondok. Saya dan istri, berhari-hari kehilangan anak itu. Ketika melihat kucing temannya bermain atau ikan-ikan di kolam, kenangan tentang anak itu yang kembali. Tidak lama. Saya bilang ke istri saya, "Ternyata tidak lama kita punya anak. Satu per satu mereka pamit pergi." ***  "Wis mampir, pamitan karo bapakmu urung?" begitu pertanyaan Ibuk ketika saya tiba di rumah. Dari Jogja, makam bapak lokasinya sekitar 1 KM sebelum rumah. Kadang saya mampir dulu ke "rumah" bapak sebelum ketemu ibuk di rumah. Hanya saja, hari itu saya tidak bisa mampir bapak. Sejak dari Trenggalek, hujan mengguyur sore i...

Belajar Bahasa Spanyol

Gambar
Saya sudah dua kali ke Spanyol (2017 dan 2018). Dalam dua kunjungan itu, sama sekali tidak terpikirkan untuk belajar Bahasa Spanyol sebelum berangkat. Padahal, dahulu sekali saya pernah nyaris belajar Spanyol sewaktu kuliah di Amerika. Sekali atau dua kali, saya datang ke kelas, lalu tidak saya lanjutkan.  Saya tidak ingat alasan saya batal belajar, tetapi saya masih ingat alasan saya untuk belajar. Beberapa tahun sebelumnya, seorang teman kuliah S2 mengatakan bahwa sayang sekali UIN tidak memiliki ahli Bahasa Spanyol, padahal sebagian peradaban Islam hidup di Spanyol.  Maka, selesai mengambil kursus bahasa Inggris selama triwulan pertama, saya ganti ambil kelas bahasa Spanyol pada kwartal keempat. Mungkin saya sudah mulai sibuk dengan riset untuk paper S2 atau mungkin karena kelas dan gurunya tidak menarik. Apa pun alasannya, saya batal kursus dan keinginan belajar Bahasa Spanyol pun terkubur. Setahun yang lalu, ketika sekian bulan kita terkurung di rumah karena pandemi, tiba...

Di mana kita bertemu "dimana"?

Gambar
Kemarin, saya mengedit sebuah naskah untuk jurnal. Hal paling menyebalkan dan membuat saya ingin menolak naskah itu adalah penggunaan kata "dimana" yang ada di mana-mana. Saya gunakan fitur pencarian, Control+H di Word, dan ketemu lusinan kata "dimana" dalam artikel itu.  Jika Anda termasuk orang yang masih menggunakan kata "dimana", ini adalah pesan keras saya: jangan kirim artikel ke jurnal! Penggunaan kata "dimana" dalam tulisan berbahasa Indonesia mencerminkan satu hal: Anda malas belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar! ( wis... ngamuk tenan iki aku  😀😀😀 ) Pertama, Anda tidak tahu cara membedakan "di" sebagai kata depan dan "di" sebagai imbuhan. Karena tidak tahu hal semendasar ini, maka sah saya katakan Anda malas belajar Bahasa Indonesia.  Wis tho, gak trimo yo karepmu .  Nah, teman saya punya contoh menarik dan mudah diingat untuk membedakan dua fungsi tersebut. Saat menguji skripsi, ia bilang begini ke mahasis...

Kematian Bahasa Indonesia

Gambar
Bagaimana nasib Bahasa Indonesia sebagai bahasa akademik? Lihatlah publikasi jurnal-jurnal di Indonesia. Meskipun tidak ada aturan yang mewajibkan jurnal untuk menggunakan bahasa asing, tetapi secara implisit dapat dikatakan bahwa jurnal-jurnal dituntut untuk berbahasa asing ... kalau jurnal itu ingin naik peringkat ke level akreditasi teratas.  Demikian juga kalau ingin terindeks oleh pengindeks yang disebut-sebut sebagai ‘bereputasi internasional’. Alasannya terdengar sangat masuk akal: jika ingin dibaca oleh masyarakat internasional, gunakan bahasa internasional.  Karena tuntutan logika tersebut, sedikit demi sedikit kita akan kehabisan jurnal berkualitas dalam bahasa Indonesia. Di UIN Sunan Kalijaga, misalnya, jurnal-jurnal yang sudah terakreditasi Sinta 2 tampak langsung ‘tancap gas’ ganti bahasa, terbit sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Target dan insentifnya jelas: terindeks dalam lembaga pengindeks internasional, lalu memetik buah reputasi, gengsi, apresiasi, dan bahkan...