Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Riset Berguna Menurut Siapa?

Gambar
Ini lanjutan komentar saya tentang KPK yang menilai riset kita tidak efektif, efisien, dan redundan. Keberatan saya terutama adalah pada "proporsi tupoksi kelembagaannya", bukan substansi kritiknya. Sebab, kalau soal riset yang efektif, efisien, dan tidak redundan, kita bisa diskusi lama untuk membahasnya. Sebagai reviewer di lembaga riset dan editor jurnal, saya bisa membicarakan masalah ini selama 14 kali pertemuan, satu semester. Problemnya begini sodarah. Katakanlah sekarang ini kita dihadapkan pada pandemi Covid-19. Lalu, semua ahli dari semua kementerian, sesuai dengan keahliannya, melakukan riset terkait. Nah, dapatkah kita mengatakan riset itu redundan hanya karena semua melakukan riset tentang Covid-19? Kalau Anda pernah riset, maka Anda tahu persis jawabnya: "belum tentu!". Masing-masing disiplin ilmu pasti akan melihat isu ini menurut disiplinnya masing-masing. Masing-masing ahli mengajukan riset berdasarkan keahliannya masing-masing. Saya tidak mengatak...

Semiskin Aksin

Gambar
Kita suka drama. Anda mungkin suka versi telenovela atau drama Korea, tetapi saya lebih suka film India. Dalam film India, ketegangan, rasa penasaran disajikan dalam satu majelis, tidak perlu nunggu lama-lama. Cerita seumur hidup si protagonist, dari derita waktu kecil sampai dewasa melawan Tuan Takur, bisa kita nikmati dalam tempo segera. Karena itulah, bagian paling saya suka dari buku Santri Kaliwates adalah bab 23. Ini tentang drama kehidupan Aksin Wijaya. Saat menerima, membaca, dan menyunting naskah aslinya, saya dipaksa berkali-kali geleng kepala, nyaris tak percaya bahwa hidupnya sedemikian drama. Aksin itu, seperti drama India, kisah orang miskin dari desa yang mungkin tak ada di peta. Namanya saja, 'aksin', sudah bisa jadi cerita. Mungkin satu episode sendiri kalau dalam seri drama Korea. Tetapi waktu pertama baca ceritanya, aku malah teringat narasi tokoh tokoh eksentrik dalam film-film laga. Scene remang-remang senja. Sesosok bayangan bergerak pelan meyakinkan. Lalu...

"Gadis MAPK" di Buku Santri Kaliwates

Gambar
Sekedar Ilustrasi, karena MAPK tanpa Milea 😆  Buku tentang masa SMA tahun 1990, yang tergambar romantis dalam novel dan film  Dilan , tentu saja 'berisiko' mengungkit kenangan-kenangan semisal. Senior saya yang kedapuk mencetak dan menerbitkan buku Santri Kaliwates: Dari MAPK untuk Indonesia mendadak jadi agen rahasia masa lalu para penulis. Ia menjadi tahu siapa suka siapa waktu kami di Jember itu. Koq bisa? Beberapa pembeli yang mengontaknya bercerita kalau motivasi mereka membeli buku adalah faktor "seseorang dari masa lalunya." Atau yang agak malu-malu, seperti umumnya gadis MAN tahun 1990an, "karena ada mantan temanku sekos yang nulis di buku itu." (halah, "temanku sekos,"? Paling yo dia sendiri kan? hahahaha).  Sebagai sekolah dengan desain "hanya untuk laki-laki", anak-anak MAPK sepertinya tidak seberuntung yang sekolah SMA seperti Dilan dan Milea. Satu kelas, empat puluh orang, isinya cowok semua. Di asrama, kakak kelas dan adik...

Santri Kaliwates: Dari MAPK untuk Indonesia

Gambar
Judul Buku : Santri Kaliwates: Dari MAPK untuk Indonesia* Editor : Arif Maftuhin Penulis :  Imam Taufiq • Muhammad Anis Adnan • Erson Effendi • Moh. Hakim Junaedi • Al Makin • Zainul Abas • Muhammad Hariyadi • Ahmad Zainal Abidin • Muhammad Muhaimin • Achmad Mulyadi • Saptoni • Muhyar Fanani • Arif Maftuhin • Asrori S. Karni • Ainur Rofiq Al Amin • Qomarul Huda • M. Asrorun Niam Sholeh • Ilham Khoiri • Riza Hadikusuma • Ahmad Najib Burhani • Piet Hizbullah Khaidir • Nur Khalik Ridwan • Aksin Wijaya • Dani Muhtada • Syifa Amin Widigdo • Fahrurrozi Zawawi • Alimin Mukhtar • Haris Fauzan • Ahwan Fanani • Muhammad Afifudin Dimyathi • Safaat Setiawan • Asep Awaludin • M Afifudin ISBN: 978-623-90005-7-8 Tahun terbit: Mei, 2020 Tebal buku: 440 hlm Dapatkan Buku ini di Google Play Benang merah buku ini adalah MAPK Jember. Tujuan sederhananya adalah untuk mengumpulkan ingatan bersama tentang suatu masa yang kami anggap penting dalam hidup kami sebagai manusia. Masa ...