Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2007

Pesanggrahan HB II

Gambar
The rear perspective of the site It's very unfortunate when you live close to a historic site and you have never visited it. That really happens a lot to me. Yesterday I had to pay one site I have missed. I visited the site of Pesanggrahan Hamengkubowono II. To be honest, I can't tell more as I don't know anything about the site. I am just very very familiar with it for it is located only 300 meters away, or less, from my house. I brought my kids and saw what now is just ruins. The welcoming board: cultural sanctuary... The gate inside the gate Welcoming salute! Who is Hamengkubuwono II? Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 - 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles, sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuk...

Berartinya Lima Belas Ribu

Dengan suara tergetar penuh haru, seorang penelepon di seberang sana berkata, "Hallo.." Saya segera menjawab sapaan itu. "Ya, halo." Penelpon itu lalu berkata, "Bapak ini siapa?" "Ah, bukan siapa-siapa. Tidak penting siapa saya. Memangnya kenapa?" Dia menjawab, "Jarang lho ada orang sebaik Bapak ini. Terimakasih banyak ya Pak." "Sama-sama. Saya toh sekedar mengembalikan hak kepada yang berhak," jawab saya bersamaan dengan rasa heran tak terkira: mengapa dia berterimakasih "sebanyak" itu untuk uang senilai 15 ribu!! Pembicaraan telpon itu bermula ketika berapa hari yang lalu HP saya menerima sebuah SMS, "Nomor Anda telah di-topup oleh Zerrocell sebesar 15.000." Tentu saja saya kaget. Saya tidak membeli pulsa koq dapat pulsa. Teman-teman di kantor menyebut hal ini sebagai "pulsa blandangan" (sama seperti kalau Anda punya merpati pergi dan pulang membawa teman, dalam bahasa Jawa ini disebut "bl...

Waktu dalam Dua Dimensi

Sudah beberapa hari ini saya wira-wiri Jogja-Imogiri untuk menyelenggarakan workshop PRA (participatory rural appraisal), atau kaji desa partisipatoris. Saya akan cerita tentang kegiatan ini nanti kalau sudah selesai. Sekarang saya ingin berbagi saja satu cerita sebelum pelaksanaan kegiatan ini. Dalam situasi puasa dan lebaran, saya menyiapkan kegiatan ini. Tentu saja susah ya. Waktu seperti berjalan dengan cepat dan orang-orang (panitia, fasilitator, dan peserta) sibuk dengan dirinya sendiri-sendiri. 2 hari sebelum mudik, saya baru bisa memastikan tanggal pelaksanaan dan kesediaan fasilitator. Segera setelah lebaran, saya mengumpulkan teman-teman panitia. Kami semua sepakat: WAKTU SUDAH SANGAT PENDEK! Acara akan kami selenggarakan seminggu lagi dan persiapan kami di lokasi masih nol (belum ketemu Pak Lurah, belum mencari penginapan, belum bicara soal akomodasi, dan seterusnya). Tidak ada pilihan lain, kami harus egera ke Selopamioro, sebuah desa di kaki Goa Cermai, ujung timur di wil...