Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Webinar Plagiarisme

Gambar
Sekali lagi ngonong tentang plagiarisme. Kali ini saya diminta Penerbit Samudera Biru untuk mengisi 'pengajian rutin', bedah buku mingguan mereka. Buku saya, Tanya Jawab Plagiarisme , direvisi dan ditambah isinya, lalu diterbitkan ulang oleh Samudera Biru. Jadi, ini ngobrol tentang plagiarisme dan buku itu sekaligus. 

Berburu Bima Sakti

Gambar
Maret-Agustus adalah musim berburu objek di langit, khususnya galaxy kita sendiri, yang paling mudah dan murah diamati oleh orang awam seperti kita. Menurut juknis para guru fotografi, foto galaxy Bima Sakti dapat diambil pada tanggal tua/muda. Tujuannya agar tidak terdistorsi cahaya bulan. Saya tidak sabar menunggu waktu itu. Toh juga masih butuh waktu untuk belajar. Malam ini, baru bisa menggunakan HP. Nyoba pakai kamera malah gagal total. Dari jam 8 sampai jam 10:30. Lebih dari 75 kali jepret. Pengambilan gambar di atap rumah saja. Hasilnya? Jauh. Jauh dari sempurna. Tetapi untuk ukuran orang belajar, ini proses yang menggembirakan 😄 Konon, ada teknis lanjutan, stitching, sekian gambar agar lebih utuh wujud lempengan galaksinya. Tetapi saya belum ingin mengalokasikan untuk skill itu. Lain kali saja. Sementara cukup ini dulu. HP. Redmi Note 9 Pro.

Migrasi ke Google Drive for Desktop

Gambar
Saya sudah lama menggunakan dua aplikasi berbeda untuk dua akun Google Drive saya: File Stream dan Backup and Sync . Dulu, saya lakukan itu karena terpaksa.  Saya menyukai versi File Stream karena kita bisa mengupload semua file penting kita ke Google Drive tanpa takut memenuhi komputer atau menyita waktu untuk sinkronisasi. Ya, saya menyimpan hampir 300 GB di akun kampus saya dan aplikasi yang bisa memilah mana dari data itu yang perlu availabale offline  di komputer dan mana yang tetap tersimpan di cloud ya hanya file stream. Sayangnya saya tidak bisa sepenuhnya menggunakan File Stream . Dua alasan pentingnya. Pertama , akun Google saya (xxx@gmail.com), yang disebut sebagai consumer user  oleh Google, tidak punya akses ke File Stream. Kedua, aplikasi File Stream waktu itu tidak memiliki fitur yang secara otomatis mendeteksi dan menguplod file foto di Drive ke photos.google.com. Padahal, ketika Photos masih gratis dan unlimited, semua foto saya ada di akun consumer it...

Fotografi Syar'i

Gambar
Seperti saya pernah sebutkan, saya ikut banyak grup fotografi di Facebook. Salah satu grup yang saya ikuti punya aturan sangat 'Islami'. Grup yang beranggotakan puluhan ribu orang itu punya aturan keras tanpa kompromi: tidak boleh mengirimkan gambar makhluk bernyawa.  Saya baru menyadari larangan ini setelah beberapa saat bergabung. Seorang anggota baru, seperti saya, protes mengapa fotonya tidak pernah diloloskan admin. Ternyata masalahnya ada di foto-foto yang mengambil objek manusia. Oalah...  Saya tentu tahu persis alasan Fikihnya. Dulu, dulu banget, saya mendengar larangan-larangan ini waktu ngaji Kitab Sulam at-Taufiq di pondok. Tetapi, ya sama seperti hal-hal yang 'diharamkan' secara tekstual di kitab itu, kami tidak pernah menggap larangan itu relevan dengan kegiatan memotret.  Ada beberapa Hadits yang 'mengecam sampai melaknat' al-mushawwirun,  sebagaimana ada Hadits lain yang memungkinkan tafsiran berbeda. Maka, ringkasnya, saya anggap saja sebagai per...

No Edit?

Gambar
Untuk menambah pengetahuan tentang fotografi, saya ikut beberapa grup fotografi di Facebook. Macam-macam jenisnya. Ada grup pemula sampai yang pro. Ada grup dalam negeri, sampai yang liat negeri. Ada grup fotografi camera ada yang khusus smartphone. Nah, di grup smartphone itu saya ketemu dengan, sebut saja, geng 'wahabi', purist smartphone, yang punya tagar #noedit . Intinya, yang boleh diposting hanya foto HP murni. Pokoknya, jepret upload. No edit. Saya termasuk yang nggak setuju dengan wahabi fotografi begini. Mana ada yang murni? Ada y yang bilang, fotografi itu melukis dengan cahaya. Saya lebih suka menyebut "seni manipulasi objek". Kalau Anda ke studio foto profesional, tidak ada yang wahabi begitu. Pertama, Anda harus dimakeup. Manipulasi pertama. Kedua, cahaya ruangan diatur sedemikian rupa. Lighting, manipulasi kedua. Lalu, si fotografer memilih lensa yang tepat. Focal lenght tertentu, F tertentu. Manipulasi ketiga. Dan seterusnya. Cukup? Tidak. Kalau A...

The Man Behind the Camera?

Gambar
Purnama yang sama. Diambil dengan dua kamera berbeda. Merek yang sama, kelas yang berbeda, umur selisih 9 tahun. Tanpa edit selain cropping agar ukuran gambar setara karena dua lensa yang dipakai menggunakan focal length yang berbeda. Ilmu fotografi saya sangat minim sekali. Makanya saya sering nggak enak kalau ditanya kamera apa? Sebab, dengan ilmu yang cekak itu saya kadang bisa mengambil gambar yang lebih bagus dengan kamera prosumer tua, murah, tinggal jepret dibandingkan yang DSLR atau mirrorless yang rumit 😀 Kesimpulan saya sementara ini, sebuah gambar adalah selalu perpaduan antara alat, manusia, tempat, waktu, dan keberuntungan. Jadi, kamera HP pun bisa menang karena faktor faktor ini. Coba lihat berita di TV itu yang kadang secara arogan pinjam gambar orang dengan menyebutnya sebagai "video amatir" yang berhasil merekam peristiwa yang tak terekam oleh satu orang pun awak media. Menyebut video itu amatir adalah penghinaan karena tidak satu profesional pun bisa mereka...

Layanan Mudah Perpanjangan Paspor, Setengah Online

Gambar
Pasporku ternyata sudah hampir expired. Terakhir mengurus paspor lima tahun lalu bikin trauma. Antri dari pagi, tanpa nomor urut. Kalau apes, tinggal dua orang pun kalau kuota hari itu habis, ya harus mengulang lagi. Aku tidak apes, tetapi tetap saja antrian tanpa kepastian begitu tidak nyaman. Karena ini masa pandemi, aku duga ada prosedur layanan baru. Maka, aku cari informasi online. Tidak salah: sekarang, ngurus paspor bisa online. Tetapi aku ragu. Online bener atau online-online-an. pengalaman ngurus perpanjangan SIM kemarin membuktikan, lembaga pemerintah ki kalau bikin layanan online cuma ethok-ethok. Sudah bayar online, sudah bawa persyaratan sesuai yang tercantum online... njuk sampai kantor layanan SIM masih disuruh lapor BRI lagi, minta tanda bukti, beli map lagi, bahkan surat keterangan sehat dari dokter yang kita baw apun nggak laku. Setelah mengunduh aplikasinya, aku segera login. Cek, betul. Online itu hanya daftarnya saja. Selebihnya ya tetap harus offline. Nah, cuma be...

Enam Alasan Jurnal Terindek Scopus tidak Selalu Penting

Gambar
Sebagai pengelola jurnal dan sering diminta memberi pelatihan publikasi jurnal, saya pernah ditanya: apakah jurnal yang terakreditasi lebih tinggi menjadi jaminan kualitas sebuah artikel? Apakah Jurnal yang terindeks Scopus harus lebih dirujuk daripada jurnal yang terindeks Sinta kelas 5? Sebagai peneliti, jawaban saya tegas, tanpa ragu-ragu, bahwa kualitas sebuah artikel tidak ditentukan oleh status jurnalnya!  Pertama, Scopus tidak memiliki spesialis yang mampu turun sampai ke kualitas artikel per artikel. Ya, mereka mungkin mempekerjakan ahli di bidang tertentu untuk menilai sebuah jurnal, tetapi tidak sampai ke level kualitas riset per artikel. Mereka adalah lembaga bisnis. Akalnya adalah ekonomi. Tidak ada nilai ekeonomisnya untuk mempekerjakan orang sedetil itu. Kedua, dari sudut pandang peneliti Indonesia, Scopus hanya mengcakup jurnal-jurnal berbahasa asing, Inggris khususnya dan beberapa bahasa asing lain yang tidak banyak jumlahnya. Saya belum mendengar ada jurnal full ba...

Adam yang Kikuk

Gambar
Kira-kira sebulan yang lalu, saya pergi ke Solo untuk mengantar anak mengikuti pelepasan siswa di sekolahnya. Acaraberlangsung tiga jam. Padahal saya punya jadwal mengajar dan munaqosah. Untungnya, perjalanan ke luar kota bukan halangan untuk tetap bekerja di masa pandemi ini. Saya sudah menyiapkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dan menunggu acara selesai di masjid sebelah sambil bekerja sesuai jadwal.  Di dalam masjid yang sepi pagi itu, saya memilih duduk di saf pertama, di ujung kiri mihrab, tetapi bersandar ke tembok membelakangi kiblat, menghadap ke pintu masuk masjid. Saya sudah memikirkan, "Kalau nanti ada orang mampir salat, biar dia ambil tempat depan atau kanan mihrab." Saya pun bergabung di sidang munaqosah skripsi sesuai jadwal. Bla bla bla, bla bla ba.  Nah. Pas sedang fokus mengoreksi skripsi dan mengajukan pertanyaan, saya dibuat kaget bukan kepalang, jantung seperti mau copot. Tiba-tiba, ada sosok putih berkelebat 'ndelosor' di depan saya persis.  ...

Bukan Motivator

Gambar
Di kelas luring, saya kadang mengatakan bahwa saya bukan motivator. Saya pilih menjadi "palu yang akan menghancurkanmu, kawah candradimuka yang akan meleburmu!"  Saya bukan Mario Teguh! Di dalam kelas luring, saya bisa memainkan peran yang lebih dinamis. Meski saya mengatakan hal-hal tersebut dan menerapkannya dalam kasus integritas seperti plagiarisme dan ketepatan waktu belajar, saya bisa mengolah kelas dengan lelucon-lelucon. Saya tidak 'se-palu' yang saya katakan.  Katanya, mengelola mahasiswa itu seperti menerbangkan layang-layang. Tarik dan ulur. Kapan ada waktu harus disendal, kapan ada waktu harus dilepas. Sesuai angin. Hasilnya? Saya selalu mendapatkan nilai di atas 3.6 out of 4. Tidak pernah kurang dari itu.  Tetapi, kelas online sungguh 'berat'! Selama dua semester ini, saya mengalami kesulitan untuk memainkan peran terbaik di kelas karena tantangan yang sama sekali berbeda. Paling beratnya itu ketika mengajar di kelas "mahasiswa pandemi"....

Daripada Tidak

Gambar
Barusan, jalan di depan rumah saya disemprot disinfektan oleh mobil salah satu lembaga negara. Saya sejak dari awal nggak yakin manfaat penyemprotan itu.  Waktu ada program penyemprotan di awal Covid tahun lalu, saya ngobrol dengan teman se-RT yang menyemprot di depan rumah saya. "Mas, ngene ko opo yo ono gunane?" Jawaban tetangga sayamewakili banyak program "setengah" masuk akal yang kita buat dalam menghadapi pandemi ini. Ia bilang, "Daripada tidak." Coba, gunakan jawaban ini untuk sejumlah program pemerintah. Apakah menutup jalan-jalan utama di kota membuat penyebaran virus terhenti? Ya tidak. Pertama, karena menutupnya malam hari (seolah-olah virus hanya bekerja malam seperti kelelawar). Kedua, toh orang tetap mencari jalan alternatif di kampung-kampung.  Lalu buat apa  jalan ditutup di malam hari? "Daripada tidak." Saat lebaran, kita melihat sendiri tempat-tempat wisata penuh. Pemerintah tidak tegas menutup dan membiarkan orang piknik. Lalu,...

Kita dan Publikasi

Gambar
Tadi, kami ngobrol dengan Mas Bang Om Zulfan Tadjoeddin soal publikasi di sebuah acara pelatihan. Satu catatan beliau yang sudah saya amini sejak dulu adalah: pelatihan publikasi tidak akan menghasilkan publikasi. Apalagi, "tiba tiba publikasi" hanya dengan diceramahi dua jam atau bahkan dua hari. Mengapa? Ya karena keberhasilan publikasi di jurnal memang tidak pernah terkait secara signifikan dengan pelatihannya. Lalu? Keberhasilan publikasi kunci pertamanya adalah riset yang baik. Kunci keduanya adalah riset yang baik. Dan kunci ketiganya adalah riset yang baik. Lalu dilengkapi dengan riset yang baik. Kalau begitu, pelatihan publikasi untuk apa? Ya paling cuma untuk mengingatkan, menggarisbawahi, menekankan, bahwa publikasi itu pada dasarnya hanya satu langkah akhir dari proses panjang riset. Mengapa diingatkan? Karena banyak yang lupa dan tersesat, lalu mengira bahwa publikasi itu soal menulis ide yang ada di kepala. Mengira bahwa publikasi ilmiah itu seni mengarang i...

Koreksi dalam Fikih

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca istilah "koreksi" digunakan ketika Muhammadiyah menerbitkan fatwa mengundurkan (menambah dari waktu semula) waktu salat Subuh. Saya juga baru membaca rangkuman buku dosen fakultas sebelah yang, lagi-lagi, katanya "mengoreksi" pendapat tentang hukum wajib salat Jumat.  Saya tidak akan mengomentari substansi fatwa Muhammadiyah atau fatwa dosen itu, tetapi penggunaan istilah 'koreksi'. Saya mencoba mengecek apakah istilah yang digunakan itu istilah media atau istilah 'resmi' dari Muhammadiyah. Saya cek di web Muhammadiyah, memang pilihan diksinya adalah 'mengoreksi.'  Istilah 'koreksi', menurut saya, kurang tepat digunakan dalam hal ijtihadi semacam ini. Sebab, seolah-olah fatwa atau ijtihad sebelumnya atau yang berbeda dinyatakan salah, sehingga perlu dikoreksi. Padahal menurut kaidah, al-ijtihad la yunqadu bi-mitslih (sebuah ijtihad, tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad semisalnya).  Umar bin Khatt...

Do'a dan Covid

Gambar
Doa itu ikhtiyar. Paling banter, ia separoh dari dua jenis ikhtiyar kita sebagai manusia: ikhtiyar lahir, ikhtiyar batin.  Doa tidak pernah menjadi satu-satunya solusi. Terlebih bagi kita-kita ini. Ya, kita-kita ini lho!  Bukan kiai, bukan wali, apalagi nabi. Jadi, apa masuk akal kalau tiba-tiba kita menempatkan doa sebagai senjata pamungkas melawan Covid? Demikian pula bahwa doa itu bukan "SK". Kita boleh saja, dan harus, berdoa agar kita diselamatkan dari Covid-19 dan seluruh kemadaratan yang ia timbulkan. Tetapi 'tafsir' implementasi dari apa yang madarat dan bukan itu adalah hak Allah. Bukan hak kita. Kalau dalam perjalanan, kita selalu berdoa agar tidak ada aral melintang di jalan. Tetapi sesekali, ban kita bocor. Madarat? Ya, madarat bagi kita. tetapi tidak bagi tukang tambal ban. Ban bocor di kita adalah rizki bagi dirinya. Jadi, kita boleh berdoa, dan ayo terus berdoa, agar kita selamat dari Covid dan pandemi ini segera berakhir. Tetapi harus kita ingat, masih...