Adam yang Kikuk


Kira-kira sebulan yang lalu, saya pergi ke Solo untuk mengantar anak mengikuti pelepasan siswa di sekolahnya. Acaraberlangsung tiga jam. Padahal saya punya jadwal mengajar dan munaqosah. Untungnya, perjalanan ke luar kota bukan halangan untuk tetap bekerja di masa pandemi ini.

Saya sudah menyiapkan diri untuk mengantarnya ke sekolah dan menunggu acara selesai di masjid sebelah sambil bekerja sesuai jadwal. 

Di dalam masjid yang sepi pagi itu, saya memilih duduk di saf pertama, di ujung kiri mihrab, tetapi bersandar ke tembok membelakangi kiblat, menghadap ke pintu masuk masjid. Saya sudah memikirkan, "Kalau nanti ada orang mampir salat, biar dia ambil tempat depan atau kanan mihrab."

Saya pun bergabung di sidang munaqosah skripsi sesuai jadwal. Bla bla bla, bla bla ba. 

Nah. Pas sedang fokus mengoreksi skripsi dan mengajukan pertanyaan, saya dibuat kaget bukan kepalang, jantung seperti mau copot. Tiba-tiba, ada sosok putih berkelebat 'ndelosor' di depan saya persis. 

Konsentrasi saya kan sedang ke layar HP. Kalau lensa kamera gitu, kiri kanan dan backround kan jadi blur. Ketika saya alihkan mata ke sosok putih yang ndlosor itu, ternyata ada orang salat duha yang sedang sujud menyembah saya! 

Peh. Mbok salam kek. Mbok ha ha hi hi dulu kek. Mbok tidak salat di depan saya kek. Dengan posisi salat yang begitu, saya yang jadi kikuk. Saya kan bukan Adam. Dia bukan malaikat. Ngapain nyembah saya?

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama