Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2007

Peluang Beasiswa: Catatan Ringan Untuk Alumni Dakwah

Sebentar lagi saya diminta untuk mengisi sesi ceramah pelepasan wisuwan Fakultas Dakwah. Tema yang diminta oleh panitia adalah "peluang mencari beasiswa S2 bagi alumni Dakwah". Apa saja yang akan saya bicarakan? Ada banyak hal, terutama mengenai "modal" untuk bisa mendapatkan beasiswa. Kalau soal peluangnya sendiri sangat banyak, cuman apakah kita sebagai pelamar punya cukup modal untuk mengajukan aplikasi dan bersaing? Selain tip-tip garis besar, saya juga akan menyampaikan beberapa contoh lembaga yang rutin memberikan beasiswa dan peluang untuk menembusnya. Sesuai dengan tema tersebut, saya membuat presentasi power point sebagai acuan pembicaraan saya. Tentu yang di sini hanyalah garis besarnya saja. Tip-tip lengkap dan detail akan saya sampaikan nanti di ruang kelas. Silakan kalau mau lihat dan atau mendownload file presentasi tersebut di sini . Salam!

Apakah Saya Orang NU?

Saya mengajukan pertanyaan itu karena I have taken for granted that I was born NU. Bapak saya orang NU, ibu saya orang NU, mbah saya juga orang NU. Tak kurang dari itu, pernah suatu ketika Mbah saya menjabat rois syuriah MWC, bapak saya ketua tanfidz, dan ibu saya ketua Muslimat ranting. Hem... ndak cukup itu, pak lik saya jadi komandan Banser-nya dan adik saya sebagai salah satu ketua IPNU cabang. Tapi apakah saya orang NU? Saya tidak pernah ikut organisasi-organisasi NU sampai akhirnya saya menjadi sekretaris Mabarrot NU DIY. Sebelum itu, saya tak pernah. Saya pernah jadi ketua PMII, tetapi PMII sudah bukan anak NU. PMII sudah menjadi dirinya sendiri. Kebanyakan orang NU "menjiwai" NU lewat pengalaman menjadi santri. Dengan begitu, mereka pernah menjadi murid "ulama" yang menahdahkan NU. Dengan begitu mereka tahu cara menghormati kiai, memuliakan gus, dan mengamalkan ajaran-jaran tradisionalnya. Saya menjadi NU hanya karena kebetulan, sama seperti kebetulan saya l...

Membuat Blog untuk Kelas

Saya kemarin baru saja meluncurkan blog baru. Kali ini untuk kelas Fiqh yang saya ajar semester depan. Saya bersyukur bahwa sepulang dari Amerika saya sudah mendapat fasilitas internet di ruang dosen. Jadi, saya tak perlu lagi ke warnet (kecuali Sabtu dan Ahad untuk cek email) untuk mengerjakan riset dan hobi blogging. Walhasil, sayalah yang menjadi penunggu ruang dosen PMI yang jarang didatangi dosen-dosen itu. Selagi UIN Suka sendiri tertatih-tatih mengelola website, saya harap upaya saya ini bisa membuka mata mereka yang berkuasa di sana bahwa "kesadaran" dan "kemauan" bisa lebih kuat daripada uang dan anggaran proyek. Alhamdulillah, tanpa dukungan itu pun blog Fiqh Indonesia untuk kelas Fiqh yang saya ajar bisa berjalan. Ini adalah pengantar saya untuk peluncuran blog Fiqh Indonesia: Kita harus mencoba. Begitulah yang saya percaya pada hal-hal yang baru. Selama ini, kuliah di UIN, khususnya, selalu terkungkung di dalam kelas. Saat dunia internet sudah semakin de...

Demokrasi Tanpa Sekularisme?

Kemenangan telak Partai Keadilan dan Pembangunan (lebih dikenal sebagai Partai AK) dalam pemilu minggu lalu di Turki, selain memperpanjang jabatan PM Recep Tayyip Erdogan untuk kedua kalinya, juga meneguhkan dua hal yang seringkali dipandang tak selaras: kemenangan demokrasi tetapi sekaligus juga kemenangan sebuah partai Islam. Pemilu itu dianggap sebagai kemenangan demokrasi karena berhasil mencegah intervensi militer dalam krisis pemilihan presiden baru pengganti Ahmet Necdet Sezer yang masa jabatannya mestinya berakhir Mei lalu. Sejak tahun 1960, militer Turki telah menyingkirkan empat pemerintahan hasil pemilu, termasuk pemerintahan partai Islamis Refah yang dianggap mengancam sekularisme Turki. Militer Turki yang menempatkan diri sebagai pengawal republik sekular warisan Ataturk memang tidak tinggal diam. Akhir bulan April lalu, milter sempat melancarkan “Kudeta Elektronik” (e-coup), istilah yang digunakan oleh para analis untuk menyindir ancaman intervensi militer yang dimuat lew...