Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Dingin Tetapi Hangat

Gambar
Dua minggu terakhir, musim dingin di Yerusalem mulai menyiksaku. Meski pernah tinggal dua tahun di Amerika, saya tinggal di kota yang nggak dingin-dingin amat dan relatif lembab. Yerusalem dingin banget dan kering. Perpaduan yang menyiksa. Di apartemen sebenarnya ada sistem penghangat. Masalahnya, penghangatnya tersentral untuk tiga kamar. Mati, mati semua. Nyala, nyala semua.  Satu orang penghuni di sini anti pemanas. Ia bahkan sampai menyembunyikan remot (gila dia emang). Nah, penghuni lain lagi, beli penghangat portable untuk kamarnya. Tinggal saya sendiri yang kedinginan. Maka saya putuskan untuk ikut-ikutan membeli penghangat portable. Saya cari, ada satu barang di toko online. Tetapi butuh waktu lama untuk pengiriman. Mau beli di toko lokal, belum tahu di mana bisa membelinya. Nah, Jumat lalu saya punya kenalan baru di Masjidil Aqsa. Ia orang Palestina dari West Bank yang berhasil masuk ke Israel, hanya untuk Jumatan. Waktu itu, ia mengaku punya toko elektronik. Maka saya kon...

Ketika Palestina Memuji Israel

Gambar
Dunia itu tidak pernah hitam putih, hanya foto yang begitu. Dunia politik, tambah lagi. Selain tidak bisa hitam putih, yang membo-membo juga banyak. Bukan hanya berwarna, politik itu bisa sampai buthek, isuk dhele, sore tempe. Maka kaidah demikian pula yang perlu dipegang ketika melihat persoalan konflik Israel-Palestina. Ketemu orang yang membenci Israel, sudah sering. Di Indonesia juga banyak.  Jumat kemarin, saya bertemu suara yang berbeda itu, pada akhirnya. Setelah istirahat kira-kira satu jam usai salat Jumat, saya berencana pulang makan siang. Saya keluar dan mengambil sepatu saya di rak yang ada di pintu pojok utara-timur. Ada beberapa kursi kecil di situ dan saya hendak memakai sepatu ketika seseorang mendekati saya. Kami bersapa akrab, mengobrol panjang lebar soal berbagai topik.  Saya bahkan diberi makan siang dan diajak bergabung dengan teman-teman rombongannya dari sebuah kota kecil di West Bank. Di dalam masjid, selain makan siang yang tadi diberikan saya, rombon...

Yerusalem Siapa?

Gambar
Jumat lalu, usai salat Jumat, di salah satu pojok Masjidil Aqsa terdengar suara orang ceramah. Saya lihat ada belasan atau puluhan orang yang berkumpul mendengarkan. Suaranya lantang, pidato dengan bahasa Arab fushah, penuh semangat. Saya mendekat, mencoba mendengar lebih baik apa yang ia bicarakan. Tak butuh lama bagi saya untuk mengidentifikasi tema dan kemungkinan dari kelompok mana orator ini. Temanya politik lokal. Masalah yang ia angkat, penjajahan Israel atas kota Al-Quds. Solusinya? Khilafah. Hanya khilafah yang akan membebaskan negeri ini dari penjajahan Israel. *** Tanggal 9 Desember kemarin diperingati sebagai hari jatuhnya Jerusalem ke tangan Inggris, 104 tahun yang lalu. Setelah melewati berbagai pertempuran yang menyakitkan kalah di berbagai front, tentara Inggris yang bercokol di Mesir, sedikit demi sedikit mulai mengalahkan pasukan Turki Utsmani.  Dimulai dengan jatuhnya Gaza, tentara Inggris terus merangsek maju ke tanah suci. Setelah terkepung tanpa suplai dan ban...

Keajaiban Doa

Gambar
Tanggal 13 Mei 2017, saya berbagi foto sedang bersepeda keliling Cordova, Spanyol. Komentar pertama saya dapatkan dari salah satu mahasiswi saya. "Ya Allah pak dosenku, asyiknya menjelajah di benua biru. Semoga saya bisa kesana. Someday..." Saya balas dengan "amin." Karena bagi saya, kalimat "semoga" itu menandakan doa. Fast-forward , anak itu sekarang sudah tinggal di Eropa, menemani suaminya yang sedang melanjutkan studi di sana. Saya tahu, ia sekarang sudah bersepeda di benua biru itu hampir tiap hari. Tidak penting apakah ia sudah melupakan doanya itu atau amin saya. Sebab yang lebih penting adalah: jangan pernah menyepelekan doa. Saya tidak ingin terdengar seperti ustad atau kiai. Saya juga tidak ingin menyederhanakan doa sebagai mantra sulap, ingin A dapat A, ingin B dapat B. Saya justru sepenuhnya sadar bahwa dalam hidup ini banyak hal yang kita tidak tahu akhirnya seperti apa. Perjalanan hidup saya penuh kejutan bahkan bagi saya sendiri. Banyak yan...

Makan Malam Hanukkah

Gambar
Saya pertama mendengar dan mengenal Hanukkah waktu kuliah di Amerika. Ada 'banyak' orang Yahudi di kampus dan saya mengenal beberapa orang di antaranya. Tetapi saya tidak mengenal mereka secara personal dengan dekat. Maksimal, hubungan kami sebatas dosen dan mahasiswa. Saya tidak tahu apakah ada teman mahasiswa sekelas yang Yahudi. Tetapi yang pasti, saya tidak pernah tahu Hanukkah itu seperti apa. Beda dengan Hanukkah, saya merayakan natal di Amerika. Kenalan baik saya, dosen di fakultas sebelah, mengundang saya untuk makan malam merayakan Natal di rumahnya. Ya, merayakan saja, mengalami apa yang mereka alami, bukan misa natal di gereja atau perayaan religi lain. Karena saya belum pernah diundang merayakan Natal di Indonesia, itu adalah perayaan Natal pertama saya selama hidup. Teman-teman kami di sini, Israel, merayakan Hanukkah minggu lalu. Hanukkah ini tidak sama dan tidak sebanding dengan Natal dan memang agama susah dibandingkan koq. Hari Raya Idul Fitri mungkin adalah ha...