Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Mungkinkah Puasa 31 Hari?

Gambar
Jumat: Impossible Ru'yah! Bagi peminat Ilmu Falak, penentuan tanggal 1 Syawal tahun ini memang menarik. Teman saya, dosen Fakultas Syariah, Kiai Abdul Mughits, membuat catatan panjang yang perlu Anda baca sebelum membaca tulisan saya [1]. Ringkasnya, ia mengatakan bahwa ada perbedaan antara "Ilmu Syariah" dengan "Astronomi". Secara Syar'i, karena hari ini sudah tanggal 29, maka para Ahli Ru'yah akan melakukan pengamatan Hilal untuk memastikan apakah besok sudah 1 Syawal atau belum. Sementara secara Astronomi, mengacu ke release BMKG [2], ru'yah baru bisa dilaksanakan besok Sabtu karena ijtima'  (yang menjadi salah satu syarat ru'yah) baru terjadi nanti malam (Sabtu) Pukul 00:39 WIB. Kiai Mughits lalu mengajukan hipotesis menarik, "Kalau ru'yah besok Sabtu, seperti yang dinyatakan BMKG, berarti Ramadan sudah 30 hari. Jika Ramadan sudah 30 hari, maka kalau besok kita gagal ru'yah, Ramadan jadi 31 hari." Mungkinkah kit...

Semacam Manaqib Didi Kempot

Gambar
Saya mengenal Didi Kempot hanya dari jauh sebagai penggemar. Tetapi saya merasa sangat dekat, lewat lagu-lagunya yang saya sukai. Meskipun saya bukan penyanyi, tidak bisa nyanyi, tetapi saya menghafal banyak lirik lagunya. Berbeda dengan penggamar " khalaf ", generasi milenial, yang mengenal Didi Kempot melalui internet; saya menjadi penggemar Didi Kempot lewat radio dan kaset. Saya bagian dari generasi ' salaf ' yang jatuh cinta dengan lagu-lagu campur sari setelah dipopulerkan oleh almarhum Manthous pada awal 1990an. Berbeda dengan generasi khalaf yang mengenal Didi Kempot lewat Pamer Bojo  pada dua tahun terakhir; saya mengenal Didi Kempot lewat Stasiun Balapan  ketika sedang jatuh cinta dengan Nyidam Sari, Lingsir Wengi ,  Wuyung, dan  Anoman Obong. Jadi, sebagai penggemar yang 'mengenal dari jauh' saya sebenarnya tahu diri untuk tidak menulis sesuatu yang "berlebihan". Sebab, ada banyak orang yang menulis 'obituari' tentang Pakdhe...

Teori Konspirasi

Gambar
Meskipun konspirasi itu mungkin ada, saya termasuk orang yang sulit sekali mempercayai teori konspirasi, apalagi jika yang dianggap berkonspirasi adalah "media". Sering kita mendengar orang mengeluh, "kasus ini tidak diberitakan oleh mainstream media", atau yang sekarang sering disebut, "Coronavirus hanya cerita yang dibesar-besarkan oleh media." Pertama, menuduh media berkonspirasi itu mengharuskan si penuduh untuk membaca semua media. Kalau isunya global, sementara yang dibaca hanya media lokal, bagaimana bisa menyebut konspirasi media? Dia bilang Corona ini konspirasi media, bagaimana ia menjelaskan bahwa faktanhya semua media internasional mengabarkan dan menempatkannya sebagai berita utama? Ada seorang anggota di grup WA yang saya ikuti, misalnya lagi, menuduh ada konspirasi anti Islam karena yang diberitakan di media hanya masjid sebagai sumber penyebaran Covid-19. "Padahal gereja juga jadi sumber penyebaran." Lha karena dia orang ...

Dilema 'Ngustadz'

Gambar
Salah satu kebahagian saya tahun ini adalah bisa puasa penuh di rumah, tanpa perlu ke sana kemari untuk memenuhi jadwal imam taraweh dan ceramah Ramadan di masjid-masjid sekitar. Saya bahagia karena tidak perlu berhdapan dengan 'dilema Ngustadz' yang selalu menghantui pikiran setiap Ramadan tiba. Walaupun punya sedikit pengalaman mondok, sekolah juga di madrasah dari nol sampai S3, memberi ceramah kegamaan itu tidak pernah menjadi cita-cita dan hobi. Saya selalu merasa canggung saat harus mengisi pengajian. Saya selalu merasa khawatir gagal memenuhi ekspektasi audien. Saya juga was-was jangan-jangan apa yang saya sampaikan tidak menarik. Tidak jarang, saya ingin menyudahi ceramah ketika waktu yang disediakan oleh panitia baru separoh jalan dan saya merasa gagal menyambungkan hati/mood dengan audiens. Maka, kalau pun kemudian saya bersedia menjadi khatib Jumat di sebuah masjid, selalu ada alasan 'terpaksa' yang membenarkan. Saya bersedia menjadi khatib di masjid...