Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Artikel yang sering diplagiat itu

Gambar
Artikel ini saya tulis pada tahun 2011 untuk seminar Islam dan Disabilitas yang diselenggarakan PSLD (sekarang PLD). Artikel lalu saya gunakan sebagai bahan ajar dan saya upload di website kelas Fikih saya.  Kemudian artikel ini menyebar, diambil orang dan diupload di academia.edu. Kemudian dan kemudian, tulisan saya tentang Fikih Difabel ini dikutip orang dan dikutip orang, ada yang menyebut sumber tetapi mayoritas tidak. Saya dianggap tidak ada.  Dua kasus plagiarisme sudah melibatkan naskah ini. Pertama, diplagiat dalam artikel Konstruksi Fiqh Difabel dalam Perumusan Kebijakan Publik di Kabupaten Jember,  plagiator Muniron dan Muhaimin, diterbitkan di Jurnal al-Qada Vol. 21 No.2 Tahun 2018. Artikel ini sudah dihapus oleh jurnalnya tanpa ada keterangan retraksi. http://jurnalfsh.uinsby.ac.id/index.php/qanun/article/view/717  Kedua, diplagiat dalam artikel Fikih Disabilitas: Studi Tentang Hukum Islam Berbasis Maṡlaḥaḥ , Plagiator M. Khoirul Hadi diterbitkan Jur...

Jujur atau Menghibur

Gambar
Tadi saya ngonthel ke selatan, Pasar Imogiri. Sejak pandemi, atau malah jauh sebelumnya, saya sudah lama tidak main ke wilayah itu. Begitu menyeberang Jembatan Karang Semut, masuk daerah Wukirsari, saya segera teringat seorang kawan lama. Sebut saja namanya Udin, teman satu atap ketika kami sama-sama tinggal di sebuah langgar di Solo.  Saya masih mahasiswa tahun kedua dan Pak Udin bekerja sebagai tukang. Pak Udin asli Jawa Timur tetapi menikah dengan orang dan tinggal Wukirsari, Imogiri. Jadi, ia tinggal di langgar itu dan pulang ke Imogiri setiap Sabtu. Orangnya baik dan kami berteman baik. Sewaktu saya hijrah ke Jogja, saya sempatkan mengunjungi rumahnya, beberapa kali. Suatu hari, Pak Udin datang ke rumah saya dengan anaknya. Ia bawakan macam-macam oleh-oleh. Ringkas cerita, Pak Udin datang untuk sebuah keperluan, "Anak saya mendaftar di UIN, saya harap njenengan bisa membantu untuk meluluskannya." Saya benar-benar kaget dan bingung. Waktu itu saya bukan siapa-siapa di UIN...

Fikih Difabel di Muhammadiyah

Gambar
Saya baru saja ditelpon wartawan untuk dimintai tanggapan tentang Fikih Difabel. Sebab, kita dapat kabar gembira kalau konsep Fikih Difabel yang telah lebih dari dua tahun digodog di Muhammadiyah akhirnya bisa 'dimunaskan'. Munas ke-31 ini diselenggarakan secara daring dan maraton antara tanggal 28 Nopember - 20 Desember lalu. Acara virtual ini sebagai pengganti acara luring yang rencananya diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Gresik. Saya pribadi bergembira karena dua hal. Pertama, karena saya pernah mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi dalam proses penyusunannya. Sumbangan saya tidak banyak, hanya menjadi narasumber penyusunan bahan. Tetapi bagi saya itu adalah sebuah kehormatan dan kegembiraan. Kedua, saya bergembira karena keputusan Munas ini akan melengkapi apa yang sudah dikerjakan di UIN Sunan Kalijaga dan di NU. Teman-teman saya di Fakultas Syariah pernah menerbitkan buku Fikih Ramah Difabel  pada tahun 2015. Sedangkan NU sudah menerbitkan Fikih Penguatan ...

Situs Kedaton Plered

Gambar
Dari beberapa situs penting di Pleret, situs Kedaton Plered justru yang paling minim bekasnya. Kalau Situs Kedaton Kerto masih menyisakan dua umpak batu kokoh, Situs Kedaton Plered hanya atau baru tergali beberapa pondasinya. Sama seperti situs Kerto, situs ini juga sudah dipagar (terlihat masih baru). Kalau dicek di Google, kita temukan kondisi pada November 2018 sebagaimana video di bawah ini. Perlu diketahui bahwa Pemda DIY melakukan pembebasan tanah-tanah situs ini pada tahun 2014-2015. Jadi, kalau banyak orang yang belum tahu dan mengenal situ-situs ini sangat wajar.  Situs Kedaton Plered dibangun oleh Amangkurat I yang merasa tidak pantas untuk menduduki bekas kedaton ayahnya yang agung itu. Pemerintahannya yang terkenal 'keras' menimbulkan banyak konflik berdarah di Mataram, mulai dari pemberontakan adiknya, Pangeran Alit, lalu 'pembantaian' para ulama, dan ujungnya adalah pemberontakan Trunojoyo yang mengakhiri kekuasaannya. Kedaton Plered dihancurkan oleh pembe...

Harga Jurnal

Gambar
Soal "biaya jurnal", saya akan menulis sendiri topik ini lain kali. Saya sekarang mau cerita tentang "harga" jurnal ilmiah. Jika Anda editor jurnal ilmiah, berapa harga jurnal Anda?  Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dan mengobrol dengan salah satu editor jurnal terakreditasi Sinta-2 dan tentu saja belum terindeks Scopus. Kita tidak lagi ngobrol soal "tekanan akdemik" mengelola jurnal, sudah biasa. Nah, yang ia ceritakan adalah bagaimana ia harus berhadapan dengan tekanan-tekanan non-akademik. Suatu ketika, ia bercerita, ada seorang 'senior', orang penting di yayasan, meminta editor untuk menerbitkan sebuah artikel. Artikel itu ditulis oleh anak si senior yang memerlukannya sebagai syarat kelulusan di sebuah program studi. "Tolonglah sekali ini saja. Saya tidak pernah meminta tolong kan sebelumnya?"  Orang yang 'peka' tentu paham isyarat itu. Beliau sudah banyak menyumbang untuk yayasan, masak minta tolong sekali saja tidak d...

Situs Kedaton Sultan Agung

Gambar
Akhirnya, tiba juga kesempatan untuk ziarah ke Kerta. Kerta adalah situs keraton Mataram zaman Sultan Agung yang sangat terkenal itu. Kalau melihat foto-foto lokasi dari tahun ke tahun, situs ini terus mengalami 'kemajuan'. Dari yang semula hanya pekarangan tak terurus, kini sudah menjadi situs yang diberi pagar pengaman.  Waktu saya berkunjung kemarin, pohon-pohon yang dua tahun lalu tampak menutupi lokasi ini (berdasarkan Google Street Map), sekarang sudah ditebangi. Beberapa proses penggalian untuk mengungkap struktur pondasi keraton ini juga sudah terlihat di sana sini. Tampak dari galian itu beberapa pondasi terbuat dari batu merah yang ukurannya dua-tiga kali lebih besar dari batu bata merah produksi orang Pleret jaman sekarang.  Batu-batu merah itu langsung mengingatkan batu-batu merah semisal yang dulu juga sering ditemukan di sawah bapak saya di Blitar. Waktu masih kecil dan ikut 'ngelep' jagung, saya sering ikut membersihkan belik dan menemukan batu-batu merah...

Sumur Gumuling

Gambar
Saat berkunjung ke Museum Pleret, kami baru tahu kalau di sini juga ada Sumur Gumuling. Kalau yang terkenal dan fotogenik itu adalah Sumur Gumuling yang ada di komplek Tamansari. Meski beberapa kali berkunjung ke Tamansari, saya lupa apakah ada sumur yang masih 'hidup' (dengan air) atau tidak. Kita lebih tertarik dengan arsitektur lengkung dan fungsinya sebagai 'masjid' bawah tanah. Ada yang tahu apakah sumurnya berair atau bahkan di mana letak 'sumur'nya?  Berbeda dengan Sumur Gumuling di Tamansari, Sumur Gumuling di Pleret adalah sumur dalam arti yang sebenarnya. Saat kami berkunjung, airnya penuh malah, melampaui bibir sumur asli berupa batu-bata merah. Menurut mbak arekolog yang menemani kami, sumur asli itu sedalam 2,5 meter (saja!). Saya lupa tidak bertanya apakah airnya tetap berlimpah saat kemarau. Tetapi dilihat dari lokasinya yang di area persawahan dengan topografi yang agak rendah, 2,5 meter itu mungkin akan tetap berair seperti belik-belik di sawah ...

Museum Pleret dan Ingatan kepada Langgar

Gambar
Museum Sejarah Purbakala Pleret letaknya hanya 4 KM dari rumah. Saya dan anak ragil sebenarnya tadi tak berniat mengunjunginya. Kami merencanakan perjalan yang lebih jauh. Tetapi baru sebentar keluar dari rumah, hujan sudah mengguyur. Dua kali kami harus berteduh sampai akhirnya kami putuskan untuk memutar arah pulang.  Belum sampai ke arah rumah, langit berubah cerah dan kami putuskan untuk mengubah arah lagi, belok ke Pleret, ke situs-situs yang ada di Pleret. Menjelang 100 meter dari Museum Pleret, hujan lebat kembali mengguyur dan kami harus berteduh lagi di sebuah bengkel motor. Perjalanan kami lanjutkan begitu hujan berubah menjadi rintik-rintik kecil. Toh tinggal sekayuh dua kayuh sudah sampai. Museumnya sepi. Bangunan utama sedang tidak menerima pengunjung karena dalam proses perbaikan. Saya meminta izin satpam untuk melihat koleksi yang ada di bangunan terbuka di sisi timur museum. Bukan hanya diiizinkan, tak lama setelah itu 'mbak-mbak' arkeolog yang bertugas di museu...

Pengadilan atau Penghukuman?

Gambar
Ketika melihat berita penahanan Habib Rizieq, salah seorang pendukung Ahok seperti diingatkan kembali kepada proses pengadilan yang zalim itu. Ahok yang di mata banyak orang, termasuk saya, tidak bersalah, 'dihakimi' sedemikian rupa sehingga secara 'hukum' ia harus divonis bersalah.  Si Pendukung Ahok tidak hanya teringat proses pengadilannya, tetapi juga siapa saja yang menjadi bagian dari gerakan politik yang mengakhiri karir Ahok. Habib Rizieq adalah salah satunya dan menurutnya apa yang dialami HRS hari ini adalah bukti ramalan Ahok bahwa siapa saja yang ikut menzaliminya akan terbalas pada waktunya.  Saya 100% setuju dengan hampir semua poin renungan itu. Ahok adalah korban politik yang mengendalikan sistem 'keadilan' kita sehingga lembaga keadilan (mulai dari polisi sampai pengadilan) tak berfungsi sebagai penegak keadilan. Kasus Ahok harusnya tidak boleh terjadi.  Nah, di situlah poin perbedaan saya dalam melihat kasus HRS. Banyak orang yang sekarang ini ...

Pengajian Masjid UIN Sunan Kalijaga: Pendampingan Difabel

Gambar
Event: Pengajian Masjid Lab. UIN Sunan Kalijaga Waktu: Senin, 7 Desember 2020 Topik: Penampingan Difabel

Workhsop Journal Diktis

Gambar