Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Barongan

Gambar
Dulu, saat setiap rumah di desa kami di Blitar masih punya tegalan (pekarangan di belakang rumah), ada beberapa sistem tanam pohon 'standar' yang gampang dititeni . Pohon tahun (salam atau sendung) menjadi pembatas antar pekarang. Pohon lainnya (seperti kelapa, pisang, ketela, pohon buah apa saja) di tengah pekarangan, dan di bagian paling belakang, yang sering juga menjadi pagar dengan 'wilayah' lain (desa lain, pedukuhan lain), adalah rimbunan pohon bambu. Biasanya juga, di sekitar pohon bambu itu ada kali , minimal kalen (kali yang lebih kecil). Saya dulu tidak pernah tahu hubungan "bambu dan kali". Orang tua saya juga tidak pernah menjelaskan. Pokoknya ngono. Taking it for granted , kata teman saya. Saya baru tahu kemudian hari bahwa bambu adalah pohon terbaik untuk menjaga air. Hutan bambu yang baik memberi jaminan cadangan air yang baik. Di tempat tinggal saya sekarang, di Bantul, saya juga bisa menemukan struktur yang mirip. Toh memang secara 'nasa...

Blak

Gambar
Saya menghentikan sepeda saya di tengah mbulak ,  kemudian memilih tempat duduk kering di  galengan  sepetak sawah, menikmati botol air kurma yang saya bawa dari rumah.  Saya sedang menunggu matahari terbit di ujung bukit Gunung Kelir ketika sesosok tubuh tampak muncul pelan dari balik kabut. Awalnya hanya kaki yang tampak karena pakaian putihnya menyatu dengan kabut yang menyelimut.  Tak lama menunggu, sosok utuh mbokde itu kelihatan lebih jelas. Berjalan pelan meniti galengan , ia lalu mampir sebentar di gubuk biru mengambil sesuatu. Saat berjalan ke arahku, semakin jelas apa alat yang ia ambil di gubuk tadi. Pecahan bambu berukuran sekitar dua meter yang dulu pernah saya akrabi di masa kecil. Kalau kemarin saya teringat dan cerita soal kentheng , jujur saja saya lupa sama sekali nama alat yang dibawa mbokdhe ini. Saya sering membantu bapak membawakan alat itu ke sawah saat musim  tandur . Jadi, kalau kentheng digunakan sebagai panduan utama, alat ini dig...

Kentheng

Gambar
Hampir 20 tahun menjadi "orang kota", bekerja setiap hari dengan buku dan pena, kadang saya disadarkan betapa banyak kehilangan kata-kata akrab dari zaman di desa. Kalau kadang salah sebut kata, maklum saja. Maka, tak jarang saya terkejut sendiri mendengar kata yang lama tak terpakai itu terdengar lagi. Ada momen wow, kangen, dan memori yang terasa mak nyep neng ati . Contohnya, saat saya berhenti turun dari sepeda, minum di pinggir sawah, saya mendengar lagi kata ini dari dua petani perempuan yang hendak memulai pagi mereka. " Yu, jupuken kenthenge! Gek ndang budhal ." Kentheng ! Dengan e berbunyi seperti dalam burger. Di tempat asal saya, dan juga di sini ternyata, kentheng itu tali yang dua ujungnya diikat ke bambu atau kayu yang berfungsi untuk ditancapkan ke tanah. Digunakan untuk menggaris lurus, pemandu dalam menancapkan bibit padi. Si mbokde yang disapa lalu turun ke sawah. Ternyata kentheng yang dimaksud ditinggal di pinggir galengan . Ia berjalan ke ujung,...

Bawon

Gambar
Dulu, sebagai anak wong tani, saya akrab dengan kegiatan ngiles dan nggebuk pari saat panen. Tentu saya hanya ikut-ikutan. Musim panen begitu, waktu saya habiskan di sawah. Nunggu orang dherep atau di rumah nunggu para tukang derep setor gabah. Saya sering bantu ngitung upah mereka.  Upahnya bukan uang. Upahnya gabah yang biasa diosebut ' bawon '. Kami menggunakan rinjing untuk menghitung. Untuk padi, upahnya sekitar 1:7 atau kalau ketan 1:5. Satu keranjang padi untuk setiap 7 yang dipanen.  Tadi, saya ngobrol dengan petani di Jetis ini. Ngiles dan nggebuk sudah punah. Diganti ilesan manual atau yang pakai disel. Tetapi... Jauh di sana dan di sini. Waktu dulu dan sekarang. Tarif upah derep tidak banyak berubah rupanya.  "Rata-rata 1:7. Tetapi kadang ya diam-diam bisa 1:5." katanya sambil terus mengambil dan 'ngiles' gabah. Saya tidak paham dengan kata diam-diam itu.  Maksudnya apa? "Kalau dherep kan kadang nggak ditunggui sama yang punya sawah. Jadi ya di...

Gender dalam Pertanian

Gambar
Apa yang saya lihat di Jogja sepertinya tidak berbeda dengan di Blitar. Ndaut adalah pekerjaan laki-laki dan tandur selalu di tangan perempuan. Relasi gender dalam pertanian ini rupanya sudah banyak diteliti. Salah satunya, skripsi Sri Hartanti (Fisip UNS, 2010) yang menyimpulkan:  💬"... sistem pembagian kerja buruh tani... didasarkan pada kondisi fisik dan kemampuan yang dimiliki laki-laki dan perempuan. Pekerjaan ringan dan membutuhkan kesabaran dan ketelitian diperuntukkan bagi buruh perempuan. Sedangkan pekerjaan berat, yang membutuhkan kekuatan otot diperuntukkan bagi buruh laki-laki."💬  Masalahnya, tentu, struktur pengetahuan tentang berat, ringan, fisik, itu tidak didasarkan pada ukuran obyektif, melainkan pada asumsi dan perasaan bias patriarki. Sebab, misalnya, apakah tandur lebih ringan dari matun? Apakah bungkuk seharian seperti itu tidak lebih berisiko dari segi kesehatan?  Kalau cuma berujung pada pembagian kerja, tidak masalah. Masalahnya ada di pengupahan...

Difabel Gembala dan Kambingnya

Gambar
Sudah beberapa kali saya ketemu orang itu dengan 11 ekor kambingnya. Awalnya saya ragu menyapa. Usianya sudah paruh baya. Wajahnya tersembunyi di balik kulit yang terbakar matahari.  Pertemuan kedua, saya hanya menatap dan menerka. Cara berjalannya, gerakan tangannya, dan nada bicaranya... Ia sepertinya adalah seorang difabel lanjut usia. Di balik masker dan kacamata hitam, saya hanya bisa tampak membungkuk untuk menyapa sekelebat lewat. Ia lanjut menggembala. Saya terus bersepeda.  Pertemuan ketiga, saya berhenti. Saya niati menyapanya. Masker saya buka dan kami bertukar sapa. Saya ragu, tetapi saya coba saja meminta, "kulo foto nggih mbah?" Di luar dugaan saya. Ia sambut gembira. Sambil senyum memerkan giginya yang tinggal tiga atau lima (aku gak ngitung lah!) ia berkata, "Ya, ya ya." Ia tak banyak kata. Kalau pun berkata, saya juga tidak bisa memahaminya.  Terpenting, tetapi, kambing itu bisa memahaminya kemana mereka ia gembala. Setelah beberapa gambar saya a...

Sawah siapa pakde?

Gambar
Saat saya tiba di situs bersejarah itu, serombongan pesepeda sudah ada di lokasi. Para bapak dan ibu paruh baya itu tampak sibuk mencari posisi dan angel untuk pengambilan gambar. Datang lebih akhir, saya pilih menonton saja. Duduk di cangkrukan sambil mengamati sisa-sisa candi zaman Mataram kuno itu.  Sampai kemudian, rombongan pesepeda itu punya ide ' brilliant ': mempekerjakan saya sebagai 'tukang kodak' untuk mengabadikan kebersamaan mereka! Saya kabulkan permintaan mereka. Saya foto begini dan begitu sesuai yang mereka inginkan. Lebih dari yang diminta, saya berikan ide kreatif untuk mengambil video dengan berbagai mode cinematik. Bahkan, saya pinjamkan sepeda saya untuk dipakai seorang ibu yang datang ke lokasi naik motor tetapi ingin ikut difoto naik sepeda bersama. Total kan saya kalau menolong? 😄 Selesai tugas saya, si ibu yang meminjam sepeda mengucapkan terima kasih dan bertanya, "Tinggal di mana Mas?" Saya menjawab jujur: saya tinggal di Tamanan. ...

Kepergian Erry Susilo

Gambar
Hidup Erry mungkin adalah pengecualian dari umumnya kehidupan yang kita kenal. Kepergiannya pun diberi pengecualian. Kemarin sore (16/03/2021), kami menerima kabar meninggalnya Erry. Tetapi tak lama setelah ucapan duka dan doa dilimpahkan, kami mendapatkan kabar "Erry hidup lagi".  Kami semua terkaget, tentu. Berapa banyak peristiwa pengecualian begini kita saksikan dalam hidup kita? Erry mengalami mati suri. Ia sempat tersadar lagi dengan bantuan alat medis. Tetapi, pada akhirnya, tak terolong dan kembali ke pangkuan-Nya tadi malam pukul 01:00 dini hari.  Inna lilllah. Wa inna ilihi raji'un. *** Hidup Erry adalah 'pengecualian' karena ia dulu terlahir sehat. Tumbuh sebagai anak ceria seperti teman-teman sebayanya. Saat kelas 3 SD, ia tiba-tiba sakit dan kehilangan tenaganya. Otot-ototnya melemas. Ia didiagnosis menderita penyakit langka, Duchenne Muscular Dystrophy (DMD).  Penyakit itu melumpuhkan seluruh tubuh Erry. Hanya otot leher dan kepala yang mampu ia kend...

Mengambil dari Alam

Gambar
Saya berhenti sejenak di jembatan Kali Potorono. Saya amati si mas itu, sak slulup demi sak slulup, sak serok demi sak serok, mengambil pasir dari dasar sungai dan meletakkannnya di 'perahu' ban karet. Hanya untuk sejumlah itu, berapa tenaga dan waktu yang ia perlukan? bandingkan dengan kegiatan panambangan pasir di sungai-sungai di kaki merapi yang menggunakan bego. Setengah jam pasir yang dikumpulkan si mas, mungkin sama dengan semenit kerukan si mesin. Mereka sama-sama mengambil dari alam, tetapi jelas mana yang mengambil seperlunya dan mana yang mengambil untuk keuntungan yang lebih dari yanhg dibutuhkannya.

Ketahanan Pangan

Gambar
Saya berpapasan dengan simbah ini di sebuah jalan di sawah. Daun ketela yang ada di boncengan sepedanya mengingatkan saya ke masa lalu, ke sawah si mbahku. Selain tanaman pokok yang ada ada di petak-petak sawah, mbahku itu rajin menanam berbagai tumbuhan di sekitar sawahnya. Ada timun, telo rambak, telo pohong, lombk, dan tomat. Bahkan salah satu pembatas antara petak satu dan satunya ada yang dibuat kolam kecil untuk memelihar ikan. Jadi, kalau soal makanan dan sayuran untuk dimakan sehari-hari, sepertinya cukup lah kalau ambil dari sawah. Tentu mbah putri juga belanja ke pasar untuk berbagai jenis masakan lain. tetapi kalau bicara soal ketahanan pangan, ya mereka itu nggak butuh guru.  

Protokol Covid

Gambar
Kemarin (4/3/2021), tetangga saya meninggal. Untuk kehati-hatian karena jenis sakitnya yang berpotensi comorbid (tes sebelumnya memang negatif), pihak RT memilih protokol Covid. Ini adalah pemakaman pertama dengan protokol Covid di kuburan belakang rumah saya. Dan karena itu saya bisa melihat dari dekat prosesnya. Selain di rumah, takziyah juga diselenggarakan langsung di makam. Salat jenazah juga diselenggarakan dengan cara 'menyolati' ambulan sebelum jenazah diturunkan.  Dalam proses ini, APD untuk warga yang bertugas menguburkan jenazah disediakan oleh pihak kelurahan. Demikian juga alat semprot dan disinfektan. Tampak dalam prosesi ini beberapa petugas kepolisian dan TNI. Nah, yang menurut saya janggal itu adalah prosedur semprot disinfektan. Petugasnya ada di depan barisan mendahului para pengusung peti mati dan menyemprot jalan yang mau dilewati. Logikanya dimana? Emboh lah. Kalau pakai logika untuk membaca kebijakan, peraturan, hingga protokol begini, bisa gila kita. Sud...

Getun. Getun. Getun

Gambar
Saya sedang 'getun'. Tetapi saya juga tidak tahu harus bercerita dan dengan cara apa saya bercerita. Tetapi saya sungguh 'getun'. Semalam, saya nyetir sendirian dari Blitar ke Jogja. Di tengah kegelapan jam 1 malam, saya menemukan kecelakaan di sebuah jalan di Klaten dari arah Wonogiri. Saya segera menghentikan mobil. Tampak di keremangan itu seorang perempuan dan anak seumuran 4-5 tahun tergelatak di jalan, di belakang sebuah truck. Tiga laki-laki tampak mengambil peran masing-masing untuk menangani situasi. Si laki-laki pertama segera mengambil si bocah. Ia terdengar terus berteriak-teriak memanggil nama anak itu. Dua orang lainnya, tampak berusaha menolong si perempuan. Dua korban itu tidak bersuara sama sekali, entah pingsan atau kondisi yang lebih parah. Dalam keadaan demikian, saya hanya punya satu pikiran: menawarkan diri untuk mengangkut para korban ke rumah sakit terdekat dengan mobil saya. Pintu saya buka dan dua orang pria itu dengan cepat mengangkat si ibu k...